Konten dari Pengguna

Dari Ruang Kuliah ke Ruang Kehidupan: Persahabatan Para Doktor MP

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perjalanan menempuh pendidikan S3 sering kali digambarkan sebagai perjalanan intelektual yang penuh tantangan. Namun bagi kami alumni S3 Doktoral Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unpak, perjalanan itu juga menjadi kisah persahabatan yang tumbuh di tengah berbagai perjuangan. Berawal dari ruang kuliah yang sama di tahun 2018, kami datang dengan latar belakang usia, dan pengalaman yang berbeda. Di balik tumpukan tugas, aktivitas kuliah di kelas, proposal penelitian, dan tenggat waktu yang seolah tidak pernah habis, terjalin ikatan pertemanan yang membuat setiap langkah terasa lebih ringan.

Masa-masa penyusunan disertasi menjadi ujian yang sesungguhnya. Ada saat ketika semangat menurun karena revisi yang tak kunjung selesai, data penelitian yang sulit diperoleh, atau tuntutan pekerjaan dan keluarga yang harus berjalan beriringan. Di saat-saat seperti itulah kami saling menguatkan. Sebuah pesan singkat di grup, secangkir kopi setelah seminar proposal atau diskusi santai di sela rehat perkuliahan sering kali menjadi penyemangat yang membantu kami kembali bangkit dan melanjutkan perjuangan.

Para doktor manajemen pendidikan dosen unindra alumni S3 Pascasarjana unpak
zoom-in-whitePerbesar
Para doktor manajemen pendidikan dosen unindra alumni S3 Pascasarjana unpak

Ketika satu per satu berhasil melewati ujian proposal, ujian tertutup, publikasi ilmiah, hingga sidang terbuka, kebahagiaan itu terasa bukan hanya milik individu, melainkan milik bersama. Kami menyaksikan langsung bagaimana setiap sahabat berjuang dengan caranya masing-masing hingga akhirnya menyandang gelar doktor. Momen kelulusan menjadi bukti bahwa ketekunan, kerja keras, dan dukungan lingkungan yang positif dapat membawa seseorang melewati tantangan yang tampaknya begitu berat.

Meski kini telah kembali ke kesibukan dan kerja masing-masing, hubungan persahabatan itu tidak berhenti di gerbang wisuda. Kami tetap meluangkan waktu untuk bertemu, walau hanya di warung kopi atau di warung ketupat padang dekat kampus Unindra tempat kami mengabdi sebagai dosen. Obrolannya sering kali ringan, mulai dari suka duka kuliah, dosen semasa kuliah S3, pekerjaan, hingga cerita keseharian. Namun tanpa disadari, percakapan tersebut kerap berkembang menjadi diskusi tentang masa depan setelah pensiun atau gagasan yang dapat dikembangkan bersama. Sesederhana itulah persahabatan para doktor. Sebab doktor itu oleh ilmu, sementara bersaudara oleh perjuangan. Sungguh, di balik gelar doktor, ada kisah kisah persahabatan yang tak pernah lulus.

Tradisi sederhana untuk tetap terhubung itulah yang kami jaga hingga hari ini. Silaturahmi tidak hanya mempererat persahabatan, tetapi juga memelihara semangat akademik yang pernah kami bangun bersama selama menempuh studi doktoral. Kami percaya bahwa gelar doktor bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan intelektual yang lebih panjang. Dan seperti dahulu, perjalanan itu akan terasa lebih bermakna ketika dijalani bersama sahabat-sahabat seperjuangan yang terus saling menginspirasi.

Tetap semangat selalu pejuang disertasi!