Darurat Kesiapan Pensiun: 8 dari 10 Pensiunan Bergantung pada Anak

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bolehlah hari ini , Indonesia berada pada krisis kesiapan masa tua. Di mana mayoritas pekerja saat ini belum memiliki perencanaan finansial yang matang. Sebagian besar pensiunan masih memiliki ketergantungan ekonomi yang tinggi terhadap anggota keluarga yang masih aktif bekerja untuk mencukupi kebutuhan bulanannya. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya partisipasi dalam program dana pensiun serta minimnya alokasi tabungan pribadi dari penghasilan rutin masyarakat. Generasi muda, termasuk Milenial dan Gen Z, turut merasakan kecemasan finansial yang signifikan terkait masa depan orang tuannya sekaligus ketidaktahuan mengenai instrumen investasi untuk pensiun.
Faktanya, hari ini tingkat ketergantungan finansial pensiunan (lansia) tergolong tinggi. Hingga “memaksa” anggota keluarganya/anak ikut menanggung biaya hidupnya. Maka ada urgensi edukasi literasi keuangan guna menghadapi masa purnabakti di tengah angka harapan hidup yang terus meningkat. Dengan saldo tabungan rata-rata yang masih rendah, masyarakat Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mencapai kemandirian finansial di hari tua.
Berdasarkan data yang dioleh Syarifudin Yunus, (Edukator DPLK Sinarmas Asset Management) diperoleh kondisi pensiunan di Indonesia sebagai berikut;
1. Ketergantungan pada anggota Keluarga yang bekerja.Sebanyak 8 dari 10 pensiunan memenuhi kebutuhan hidupnya dari anggota keluarga (anak) yang masih aktif bekerja.
2. Transferan dari anak. Sebanyak 1 dari 2 pensiunan sangat mengandalkan kiriman atau transferan uang dari anaknya setiap bulan.
3. Kekhawatiran generasi muda. Karenanya, 87% Gen Z merasa khawatir dengan kondisi keuangan orang tua mereka saat memasuki masa pensiun nanti.
Kondisi ini kemungkinan besar dipicu oleh kurangnya persiapan dana pensiun mandiri, mengingat kondisi yang menunjukkan bahwa 9 dari 10 pekerja di Indonesia belum siap untuk pensiun dan hampir 80% pekerja belum memiliki program pensiun.
Maka ke depan, tidak ada lagi alasan untuk menunda memiliki dana pensiun. Sebab cepat atau lambat, siapapun pasti akan pensiun. Mumpung masih ada waktu, siapkan pensiun sejak dini. Mulailah dengan menabung untu pensiun melalui aplikasi digital DPLK “SimPensiun”. #YukSiapkanPensiun #EduukasiDPLK #DPLKSAM
