Konten dari Pengguna

Demo Kemarin: Pemimpin Bukan Sekadar Bicara Atas Nama Rakyat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 diwarnai aksi demonstrasi besar-besaran di Jakarta yang melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus dan elemen masyarakat. Mengusung tagar #IndonesiaSadar, aksi tersebut menjadi momentum untuk menyuarakan evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Sejumlah persoalan menjadi sorotan, mulai dari krisis lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan lahan, mahalnya biaya hidup, kesejahteraan rakyat, hingga berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang dinilai belum terselesaikan. Aksi ini bukan sekadar kerumunan orang di jalanan, melainkan cerminan kegelisahan masyarakat yang menginginkan perubahan nyata.

Mengapa demonstrasi terus terjadi? Salah satu persoalan mendasarnya adalah adanya jarak antara pengambil kebijakan dan kehidupan masyarakat yang merasakan langsung dampak kebijakan tersebut. Bagi sebagian orang, kenaikan harga kebutuhan pokok mungkin hanya angka dalam laporan ekonomi. Namun, bagi keluarga berpenghasilan pas-pasan, kenaikan itu bisa berarti berkurangnya uang belanja, tertundanya biaya pendidikan anak, atau semakin sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Begitu pula dengan kerusakan lingkungan, yang bukan sekadar persoalan data dan statistik, tetapi menyangkut kesehatan, mata pencaharian, dan masa depan masyarakat. Ketika kenyataan di lapangan tidak sejalan dengan apa yang dirasakan rakyat, suara protes menjadi salah satu cara untuk menuntut perhatian.

Demo sumpah pemuda kemarin
zoom-in-whitePerbesar
Demo sumpah pemuda kemarin

Seorang pemimpin seharusnya tidak hanya memahami rakyat melalui laporan, survei, atau angka statistik. Ia perlu mendengar langsung, melihat kenyataan, dan memahami perjuangan masyarakat dalam menjalani kehidupan. Sebab, tidak semua persoalan bisa dipahami hanya dari balik meja kekuasaan. Ada kesulitan yang tidak tertangkap dalam rapat, ada kebutuhan yang tidak tercatat dalam dokumen, dan ada keresahan yang tidak tersampaikan melalui jalur birokrasi. Pemimpin yang memiliki empati akan berusaha mendekat, membuka ruang dialog, serta bersedia menerima kritik. Ia tidak menganggap suara yang berbeda sebagai ancaman, tetapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki kebijakan dan memastikan bahwa kekuasaan benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Kepemimpinan bukan tentang seberapa pandai seseorang berbicara atas nama rakyat, melainkan seberapa nyata keberpihakannya kepada rakyat. Kebijakan yang baik harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat, bukan sekadar terlihat bagus dalam pidato atau laporan keberhasilan. Pemimpin perlu memiliki kejujuran untuk mengakui kekurangan, keberanian untuk melakukan perubahan, dan kesediaan untuk mengevaluasi keputusan yang tidak memberikan manfaat sebagaimana mestinya. Demonstrasi pun seharusnya menjadi pengingat bahwa demokrasi bukan hanya tentang memilih pemimpin dalam pemilihan umum, tetapi juga tentang memastikan bahwa pemimpin tetap mendengar, menghormati, dan mempertanggungjawabkan kekuasaannya kepada masyarakat.

Semangat Sumpah Pemuda semestinya tidak berhenti pada upacara, slogan, atau seremoni tahunan. Semangat persatuan dan perjuangan itu perlu diwujudkan melalui kepemimpinan yang adil, kebijakan yang berpihak kepada kepentingan bersama, serta kesediaan untuk mendengarkan suara masyarakat, terutama mereka yang paling rentan. Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar hadir ketika membutuhkan dukungan, tetapi pemimpin yang tetap hadir ketika rakyat menghadapi kesulitan. Sebab, kekuasaan sejati bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri di atas rakyat, melainkan seberapa dalam ia memahami kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin yang benar-benar mengerti rakyat tidak akan takut mendengar kritik, karena baginya, suara rakyat bukan gangguan terhadap kekuasaan, melainkan pengingat tentang amanah yang harus ditunaikan. Salam Sumpah Pemuda!