Konten dari Pengguna

Filosofi Berkiprah di TBM, Tidak Mengeluh saat Diterpa Hujan

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ini sebuah nasihat literasi. Pohon itu tidak pernah mengeluh saat diterpa hujan, tidak sombong saat tumbuh tinggi, dan tidak marah saat daunnya gugur. Ia tetap berdiri, tetap memberi teduh sekalipun orang-orang di sekitarnya tidak menyadari keberadaannya. Begitu pula hidup yang indah, bukan tentang menjadi yang paling terlihat. Tapi tentang tetap konsisten memberi manfaat meski tidak selalu mendapat penghargaan. Begitulah filosofi berkiprah di taman bacaan masyarakat (TBM).

Berkiprah di taman bacaan, ternyata mengajarkan tentang kerendahan hati, keteguhan, dan ketulusan dalam memberi manfaat kepada sesama. Pohon tetap berdiri kokoh saat diterpa hujan dan angin, sebagaimana manusia menghadapi berbagai tantangan hidup. Seperri relawan taman bacaan mengabdi untuk literasi. Tidak mengeluh ketika menghadapi kesulitan, tidak membanggakan diri ketika tumbuh tinggi, dan tidak kecewa ketika kehilangan daun-daunnya. Pesan ini mengajak kita untuk menjalani hidup dengan sikap sabar, rendah hati, dan tetap berbuat baik dalam berbagai keadaan.

Entah kenapa, sering kali manusia ingin dihargai, dipuji, atau diakui atas setiap kebaikan yang dilakukan. Pengen banget dipuji dan mendapat validasi orang lain. Padahal, tidak semua kontribusi akan mendapatkan perhatian dari orang lain. Pohon memberikan keteduhan, menghasilkan oksigen, dan menjadi tempat berlindung tanpa pernah meminta imbalan. Begitul pula, nilai sebuah kebaikan tidak ditentukan oleh banyaknya pujian yang diterima, melainkan oleh manfaat yang dirasakan oleh orang lain. Ketulusan justru tampak ketika seseorang tetap berbuat baik meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan.

Anak-anak berebut buku di motor baca keliling

Seperti berkiprah di taman bacaan, semangat seperti pohon sangat relevan. Banyak relawan dan pengelola taman bacaan bekerja di balik layar: membersihkan rak buku, memperbaiki buku yang rusak, menata ruang baca, mencari donasi, atau mendampingi anak-anak membaca dan belajar, bagkan menjalankan motor baca keliling ke kampung-kampung. Kerja-kerja sosial itu mungkin jarang terlihat dan tidak selalu mendapatkan ucapan terima kasih. Namun, hasilnya dapat dirasakan oleh banyak anak usia sekolah yang akhirnya menjadi lebih gemar membaca, lebih percaya diri, dan memiliki kesempatan belajar yang lebih baik karena tersedia akses bacaan.

Seperti relawan di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Enam hari dalam seminggu melayani kegiatan membaca anak-anak, mengajar kelas prasekolah, meberantas buta aksara, hingga menjalankan motor baca keliling (Mobake) ke kampung-kampung yang tidak punya akses bacaan. Relawan yang tanpa pamrih datang ke TBM dan mengabdi atas nama kemanusiaan. Semuanya dilakukan dengan konsisten dan sepenuh hati. Tentu, tidak banyak yang mengetahui kiprah relawan di taman bacaan. Tapi kontribusinya sangat besar sehingga kegiatan membaca jadi lebih asyik dan menyenangkan.

Relawan TBM yang sabar mendampingi anak yang kesulitan membaca selama berbulan-bulan tanpa mengharapkan pujian. Ketika suatu hari anak itu mampu membaca cerita dengan lancar dan berani tampil di depan teman-temannya, itulah buah dari ketulusan yang selama ini ditanam. Seperti pohon yang memberi teduh tanpa memilih siapa yang akan berteduh di bawahnya, taman bacaan yang dikelola dengan hati akan terus memberi manfaat bagi masyarakat, meskipun tidak selalu menjadi pusat perhatian. Salam literasi!

Kiprah relawan taman bacaan