Filosofi Kosong, Bukan Nol

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
FILOSOFI KOSONG, Bukan Nol.
Banyak orang tidak suka keadaan kosong. Karena mungkin, kosong dianggapnya menyeramkan. Di tempat kosong, sering dikaitkan dengan hal ghaib, bahkan setan atau gondoruwo. Rumah kosong, kebun kosong, atau jiwa yang kosong pun bisa kerasukan setan. Sungguh kosong, keadaan yang sering dihindari banyak orang. Kosong diianggap sepi, sunyi bahkan mistis. Makanya, mereka di luar sana sering pergi mencari keramaian. Berhiruk-pikuk dalam kehidupan dunia. Walau sesudah itu kosong lagi…
Kosong. Ada yang kosong pengen isi. Tapi yang sudah isi justru pengen kosong.
Manusia kadang lupa, kosong itu fitrah. Bahkan, kosong juga bisa jadi momentum untuk tafakur dan mensenyapkan diri. Karena dalam kekosongan, justru segala sesuatu bisa diisi. Bila kosong itu tiada, maka dalam ketiadaan pun segalanya bisa dijadikan ada.
Jangan takut kosong. Karena kosong itu hakikat manusia.
Agar kita mau merenung, lalu membiarkan hati nurani (bukan pikiran) yang lebih dominan. Kosong, agar manusia makin paham lantas sadar. Bahwa “dari mana dan mau kemana dia menuju …”. Selalu ada makna di balik kekosongan, di belakang ketiadaan.
Mungkin, karena tidak paham arti kosong.
Maka kemarahan pun tidak berkesudahan. Maka kebencian pun tidak pernah berakhir. Maka celoteh dan sindiran pun dijadikan kebebasan. Orang-orang kosong yang belum tahu arti kekosongan sesungguhnya.
Jika omong kosong itu perak. Maka diam dalam kosong itu emas.
Karena memang tidak selamanya orang yang banyak bicara itu paham hakikat. Sebaliknya, orang yang diam itu bisa saja lebih paham hakikatnya. Karena tidak semua yang kita omong itu baik buat orang lain. Begitu pula, apa yang baik menurut kita pun belum tentu baik buat orang lain.
Kosong itu hakikat. Manusia pun hakikatnya kosong.
Manusia itu bukan siapa-siapa; pun bukan apa-apa. Manusia itu tidak punya apa-apa; pun tidak bisa apa-apa.
Kosong itu lumrah, kosong itu diminta-Nya.
Karena segala indra adalah anugerah-Nya. Karena bongkahan nikmat itu karunia-Nya. Karena segala bisa adalah hadiah-Nya. Dan segala yang ada pun adalah milik-Nya.
Jadi, semua ilmu semua dunia adalah kosong. Tidak satupun yang dimiliki manusia; tidak sedikit pun yang terjadi dan berlaku tanpa izin-Nya.
Berapa banyak orang, melihat Allah SWT pun sesuatu yang kosong. Tapi Dia sangat berkuasa menggerakkan semua isi alam semesta. Tanpa sedikit pun bantuan manusia. Maka, di dalam kekosongan-Nya, Allah SWT selalu tetap ada. Ada dan ada bersama hamba-Nya.
Kosong itu hakikat.
Maka tidak pantas bila ada keangkuhan apalagi kesombongan.
Maka tidak layak bila ada kemarahan apalagi kebencian.
Maka tidak penting, manusia bertutur bahwa dirinya bisa dan punya.
Karena manusia, hanya insan yang dititipi segala piranti atas kehendak-Nya.
Atas nama kosong. Pasti tidak ada kekuatan selain kekuatan-Nya. Pasti tidak ada kebesaran dan keagungan selain milik-Nya.
Maka tetaplah berjalan dalam ketiadaan, dalam kekosongan.
Karena dalam kosong, Allah SWT tetap ada bersama kita.
Hanya dalam kosong, ada setitik kebaikan dan perdamaian. Tapi sebaliknya, di balik kemarahan dan kebencian itulah tanda pertama kali omong kosong dimulai. Itulah filosofi kosong … #TGS #FilosofiKosong ...
@catatan rumah kosong di Puri Lakshita Bojong Gede yang gak ditengok dah hampir 2 tahun.
