Gaji Dosen di Indonesia Juru kunci di ASEAN, Sebuah Ironi Pendidikan

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Diskursus gaji dosen di Indonesia terus berlanjut. Karena gaji dosen di Indonesia dianggap tidak lagi sebanding dengan tuntutan profesi yang diemban. Seorang dosen dituntut memiliki pendidikan tinggi, menghasilkan penelitian yang berkualitas, mempublikasikan karya ilmiah, mengabdi kepada masyarakat, membimbing mahasiswa, hingga memenuhi berbagai target administrasi dan akreditasi. Namun, di banyak perguruan tinggi, terutama swasta, penghasilan yang diterima masih jauh dari layak. Akibatnya, tidak sedikit dosen yang harus mencari pekerjaan tambahan di luar kampus untuk memenuhi kebutuhan hidup. Realitas ini menggerus fokus, produktivitas, dan pada akhirnya menurunkan kualitas pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi motor penggerak peradaban dan kemajuan bangsa.
Persoalan gaji dosen bukan sekadar isu kesejahteraan individu, melainkan investasi strategis bagi masa depan Indonesia. Bangsa yang ingin unggul dalam inovasi, riset, dan daya saing global harus memastikan para pendidik terbaiknya dapat bekerja dengan tenang, bermartabat, dan memiliki ruang untuk berkarya. Ketika profesi dosen tidak lagi memberikan kepastian ekonomi yang memadai, minat talenta terbaik untuk berkarier di dunia akademik akan terus menurun, sementara kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan ikut terancam. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Indonesia berisiko kehilangan fondasi terpenting dalam membangun generasi yang mampu bersaing di tingkat global.
Dikutip dari artikel Kompas.com berjudul "Gaji Dosen Indonesia Lebih Rendah Dibanding Negara Tetangga" (2025) menyajikan perbandingan rata-rata pendapatan bulanan dosen di 8 negara kawasan Asia Tenggara. Gaji dosen di ASEAN menyebut ada kesenjangan finansial yang signifikan. Gaji dosen di Singapura menempati posisi puncak, mencapai Rp85,5 juta per bulan. Sebaliknya, Indonesia berada di peringkat terbawah karena memberikan kompensasi paling rendah bagi para dosen dibandingkan negara tetangga lainnya. Dosen di Indonesia hanya menerima sekitar Rp3,37 juta per bulan.
Perbandingan gaji dosen di Indonesia dengan negara-negara tetangga di ASEAN menunjukkan bahwa Indonesia memiliki rata-rata gaji dosen bulanan yang paling rendah. Adapun urutannya adalah: 1) Singapura Rp85,5 juta, 2) Brunei 23,3 juta, 3) Kamboja 22,2 juta, 4) Thailand 21,9 juta, 5) Malaysia 18,3 juta, 6) Vietnam 10,5 juta, 7) Filipina 7,6 juta, dan 8) Indonesia: 3,37 juta. Dari data tersebut, poin-poin utamanya antara lain: ada perbedaan yang sangat signifikan antara gaji dosen di Indonesia dan Singapura, di mana gaji dosen di Singapura mencapai lebih dari 25 kali lipat gaji dosen di Indonesia. Indonesia berada di urutan ke-8, bahkan tertinggal jauh di bawah Filipina (7,6 juta) dan Vietnam (10,5 juta) yang berada tepat di atasnya. Bahkan, gaji dosen di Indonesia tidak mencapai separuh dari gaji dosen di negara tetangga terdekat seperti Malaysia (18,3 juta).
Harus diakui, ada ketimpangan ekstrem gaji dosen di Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN. Karena itu, kelompok profesi dosen terus memperjuangkan dan mempertanyakan soal “remunerasi” dosen agar menjadi lebih layak. Minimal tidak di bawah dari upah minimum provinsi, atau bahkan tidak lebih rendah dari manajer SPPG atau koperasi merah putih.
Sebab gaji dosen yang rendah, setidaknya memiliki 3 dampak utama terhadap dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi yaitu:
1. Kualitas pendidikan tinggi menurun. Dosen yang harus mencari pekerjaan tambahan memiliki waktu dan energi yang lebih sedikit untuk mengajar, membimbing mahasiswa, melakukan penelitian, dan mengembangkan materi pembelajaran. Akibatnya, kualitas proses belajar mengajar dan hasil lulusan ikut terdampak.
2. Talenta terbaik enggan menjadi dosen. Lulusan terbaik, terutama yang memiliki gelar magister atau doktor, cenderung memilih karier di industri atau sektor lain yang menawarkan kompensasi lebih baik. Dalam jangka panjang, dunia akademik kehilangan sumber daya manusia berkualitas yang seharusnya menjadi penggerak inovasi dan pengembangan ilmu pengetahuan.
3. Daya saing bangsa melemah. Dosen merupakan penghasil riset, inovasi, dan sumber daya manusia unggul. Ketika kesejahteraannya tidak memadai, produktivitas riset menurun, inovasi berkurang, dan kualitas lulusan perguruan tinggi ikut terdampak. Dampaknya meluas hingga menurunkan kemampuan Indonesia untuk bersaing dalam ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi secara global.
Maka, gaji dosen yang rendah bukan hanya masalah kesejahteraan profesi. Tapi juga masalah kualitas pendidikan, keberlanjutan talenta akademik, dan masa depan daya saing Indonesia.
