Konten dari Pengguna

Gaji Gede tapi Nggak Tenang, Masa Pensiun Suram?

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ini menarik nih buat diceritakan. Saya punya kawan, keren banget. Gajinya gede, sekitar 3 kali lipat saya. Kawan saya biasa makan siang di tempat yang saya cuma bisa lihat dari luar. Mobilnya baru. Jabatannya mentereng di LinkedIn. Tapi tiap kali kita ngobrol, matanya nggak pernah kawan saya jarangtenang.

Awalnya saya iri. Atas kesuksesan kawan ini. Wajar kan, sebab kita semua pernah lihat orang "sukses" dan otomatis menghitung “apa kekurangan kita?”. Kok kita nggak bisa seberuntung kawan yang sukses, kira-kira begitu.

Tapi lama-lama, saya justru mulai menangkap hal lain dari kawan yang sukses ini. Dia nggak pernah cerita soal hal-hal yang bikin dia senang saat bekerja. Dia cuma cerita soal hal-hal yang bikin dia bertahan. Dia sering cerita strategi untuk bertahan di posisinya, bukan hal yang menyenangkan dari pekerjaannya.

Satu malam, dia chat saya via WA. Bukan darurat, tapi dia cerita nggak bisa tidur. Katanya sudah 4 bulan ini kayak gitu. Tidur Cuma 3-4 jam, bangun dengan jantung berdegup, langsung cek email. Atau nge-cek kerjaan yang masuk lewat WA. Susah tidur tapi “dihantui” pekerjaan, berat juga ya dalam hati saya.

Saya akhirnya bertanya, "Elo kerja Cuma buat bertahan? Terus pernah kepikir untuk resign nggak?"

Dia diam lama dan belum jawab chat di WA. Lalu, menjawab dengan "Kepikir sih, tapi gue udah di level ini. Kalau gue turun, orang bakal mengira gue gagal."

Yah, saya nggak jawab apa-apa. Karena saya tahu itu bukan alasan yang pas. Itu hanya ketakutan yang “dikasih” baju logika. Dan saya sangat memhami ketakutan kawan saya itu.

Bukan soal gajinya. Tapi soal title-nya. Soal persepsi orang. Soal identitas yang sudah terlanjur dibangun dari jabatan. Memang, jabatan itu suka bikin pemiliknya ketakutan. Takut hilang jabatannya, Sebab ketika jabatan itu pergi, “yah siapalah kita sebenarnya?”

Punya jabatan jadi susah tidur, jantung selalu berdegup soal kerjaan. Terladang saya suka mikir keras soal ini. Kawan saya lelah pikirannya. Waktu yang dia habiskan untuk recover dari burnout gara-gara jabatan. Dan nggak sadar kondisi begitu nggak bisa dibeli balik. Saraf yang sudah terlalu sering terbakar juga kan ada batasnya. Gaji boleh besar. Tapi “tagihan” kesehatan mental yang datang belakangan juga jauh lebih besar. Maka pantas, banyak orang kerja mungkin mentalnya agak sakit tapi jaran disadari.

pensiunan

Jujur sih saya nggak bilang gaji kecil itu mulia. Saya juga nggak mau me-romantisasi tidak cukupnya gaji untuk biaya hidup. Karena kondisi itu fakta di lapangan. Ada yang gaji gede ada yang gaji kecil tapi kesehatan mental kerja sering diabaikan.

Tapi jelas dari obrolan dengan kawan tadi. Ada jarak yang gede antara "gaji cukup dan tenang" dengan "gaji besar tapi selalu di ujung jurang." Dan banyak orang kerja milih yang kedua. Bukan karena itu lebih baik. Tapi karena takut dilihat mundur, takut kehilangan jabatan.

Dan setelah enam bulan kemudian, apa yang terjadi? Kawan saya akhirnya keluar dari tempat kerjanya itu. Dan bekerja lagi di kantor lain. Gajinya turun hampir separuh. Jabatannya nggak sekeren dulu. Tapi waktu saya ketemu dia minggu lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Kawan saya bisa tertawa beneran, kelihatan lebih happy di kerjaan yang sekarang.

Dan saya pun tanya ke dia, “’elo sudah punya dana pensiun belum? Buat hari tua, takutnya elo berhenti kerja mendadak?” Jangan sampai kerja puluhan tahun punya gaji tapi nggak mau siapin masa pensiun sendiri. Seperti orang yang aktif kerja, masa pensiun juga butuh “ketenangan” dan itu mahal harganya. #YukSiapkanPensiun