Konten dari Pengguna

Hahh, Kecerdasan Bukan Dari Sekolah?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Agak tergelitik, ketika yang terhormat Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa “kecerdasan itu bukan dari sekolah?”. Sambil mencontohkan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia kemarin (7 Agustus 2026). Katanya, kecerdasan juga lahir dari tempaan kesulitan hidup dan pengalaman. Apa iya begitu, bahwa kecerdassan bukan dari sekolah?

Mohon maaf dan terus terang, menurut saya, kalimat "kecerdasan bukan berasal dari sekolah" kurang tepat. Apalagi bila dipahami oleh kalangan awam, agar “tidak disalahpahami” bahwa sekolah tidak penting. Memang secara logika, kecerdasan memang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti bakat, lingkungan keluarga, pengalaman hidup, dan pendidikan. Sekolah (pendidikan) adalah salah satu sarana penting yang membantu mengembangkan kemampuan berpikir, pengetahuan, keterampilan memecahkan masalah, dan daya analisis seseorang. Karena itu, mengatakan bahwa kecerdasan “bukan” berasal dari sekolah mengabaikan peran besar pendidikan dalam membentuk dan mengasah potensi intelektual manusia.

Mohon maaf lagi ya Pak, mungkin yang lebih tepat adalah membedakan antara kecerdasan dan kesuksesan. Sebab, kecerdasan dapat tumbuh melalui proses belajar yang terstruktur, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Namun, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau pendidikan formal. Kesuksesan juga dipengaruhi oleh karakter, disiplin, ketekunan, kemampuan beradaptasi, keterampilan berkomunikasi, keberanian mengambil peluang, serta kemampuan bekerja sama dengan orang lain. Bolehlah ditambahkan, kecerdasan dibentuk oleh kesulitan hidup serta didikan keras di masa lalu, bukan sekadar teori di ruang kelas. Jadi, pendidikan membantu membangun kecerdasan, tetapi kecerdasan saja belum tentu menjamin keberhasilan.

Contoh konkretnya begini. Misal, ada 2 orang lulusan universitas yang sama dengan nilai akademik yang sama tinggi. Orang pertama sangat cerdas secara akademis, tetapi kurang disiplin, sulit bekerja sama, dan mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Sementara orang kedua memiliki kemampuan akademis yang biasa saja, namun juga rajin, mau belajar dari kesalahan, serta mampu membangun hubungan yang baik dengan banyak orang. Dalam perjalanan karier, sering kali orang kedua memiliki peluang lebih besar untuk mencapai posisi penting karena keberhasilan di dunia nyata membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Sementara orang pertama, dianggap tidak sukses dalam pekerjaannya.

Karena itu, pernyataan yang lebih logis adalah: "Kecerdasan dapat berkembang melalui pendidikan dan proses belajar, sedangkan kesuksesan tidak ditentukan oleh pendidikan semata." Sekolah dan pendidikan tetap memiliki peran besar dalam membangun fondasi pengetahuan dan kemampuan berpikir. Namun, untuk mencapai keberhasilan, seseorang perlu melengkapi kecerdasannya dengan sikap, karakter, pengalaman, kerja keras, dan ketekunan. Biar bagaimana pun, pendidikan adalah salah satu faktor penting menuju sukses, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan hasil akhir kehidupan seseorang.

Kata Pak Prabowo, kecerdasan bukan dari sekolah

Saya menuliskan ini, agar masyarakat tidak salah paham. Apapun alasannya, sekolah atau pendidikan tetap penting. Teruslah sekolah setinggi-tingginya, jagan pernah berpikir sekolah tidak penting. Sebab sekolah (pendidikan) tidak berhubungan langsung dengan kesuksesan. Ketahuilah, saat ini 86% pekerja di Indonesia berpendidikan SMA/SMK ke bawah, akhirnya terjebak pada rata-rata gaji di bawah Rp 3 juta per bulan. Logika sederhananya, semakin tinggi pendidikan maka akan semakin besar gaji yang diterima. Silakan saja cek di lapangan, di dunia kerja.

Kalau contohnya Pak Bahlil, mungkin bisa diterima bila beliau jadi Menteri bukan berasal dari latar belakang dan kampus yang tidak terkenal. Bahkan katanya bila kampusnya dicari di google mungkin sudah tidak ada. Tapi realitas itu tidak ada hubungannya dengan kalimat “kecerdasan bukan dari sekolah”. Sebab, kenapa Pak Bahlil jadi Menteri pun saya tidak tahu? Apa beliau jadi Menteri karena kecerdasan atau faktor lainnya? Itu sama artinya, bila saya yang jadi presiden, lalu teman ngopi sehari-hari, saya jadikan Menteri sama sekali tidak ada hubungan dengan kecerdasan. Mungkin dasarnya hanya kedekatan semata. Apalagi di Indonesia, tidak ada kriteria khusus untuk jadi Menteri?

Jangan lupa, Indonesia didirikan oleh Ir,. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Ada juga Prof. Dr. B.J. Habibie bahkan banyak menteri sekarang yang berpendidikan tinggi. Itu artinya, banyak juga pejabat yang berasal dari orang-orang sekolahan. Tanpa perlu membuat statement tentang orang-orang bukan sekolahan. Biarlah apapun berjalan apa adanya. Sebab realitas dan fakta tentang sekolah dan tidak sekolah, cerdas dan tidak cerdas memang sulit diperdebatkan, apalagi di negeri kita. Persis seperti “kenapa kita lebih ngotot mementingkan MBG (Makan Bergizi Gratis) daripada sekolah/pendidikan gratis?”. Saya tidak ingin berdebat, tapi saya menerima realitas MBG saja.

Jadi menurut saya, dengan ngotot menyatakan kecerdasan tetap berasal dari sekolah (pendidikan). Tapi kalau mau sukses, tidak harus dari sekolah. Sebab, kecerdasan memang tumbuh dari proses belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Tapi kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau pendidikan formal. Kira-kira begitu sih, sekadar berbagi pemikiran …