Konten dari Pengguna

Hikmah Lebaran: Hindari Popularitas dan Sikap Pamer

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu hikmah lebaran kali ini adalah “hindari ketenaran dan sikap menonjolkan diri”. Seba popularitas dan pengakuan sering kali membuat hati terikat pada pandangan manusia. Ketika seseorang terlalu ingin dilihat, maka ia mudah terjebak dalam kesombongan dan akhirnya kehilangan keikhlasan. Kita berbuat karena ingin dilihat dan menonjolkan diri.

Lebaran harusnya momen fitrah, kembali ke suci (apa adanya). Momen untuk melatih dan mempertahankan kesederhanaan sekaligus merindukan ketiadaan. Sebuah ajakan untuk kembali pada kerendahan hati. Sebab apapun yang ada di dunia adaah fana, hakikat ketiadaan. Agar kita mau melepaskan ego, tidak lagi merasa diri paling penting, paling indah, atau paling layak dipuji. Justru dalam keadaan itulah, seseorang menjadi lebih dekat dengan sang pencipta. Semakin merasa kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.

Seperti burung merak yang sangat kuat. Burung merak dikenal karena keindahan bulunya, tapi ketika ia sibuk memamerkannya itulah simbol kesombongan. Kesombongan sering kali jadi awal mula kehancuran. Jalalludin Rumi pernah berkata: celakalah mereka yang terlalu sibuk menunjukkan keindahan diri, karena keindahan itu justru bisa menjadi sebab jatuhnya hati ke dalam kesia-siaan.

hikhma lebaran di taman bacaan

Maka di momen lebaran, mulailah untuk mengindari ketenaran dan sikap menonjolkan diri. Entah karena baju baru, sepatu baru atau aksesori yang baru. Sebab keindahan sejati pada manusia tidak perlu dipamerkan. Tidak ada yang perlu disombongkan. Manfaat sillaturahim dan momen saling memaafkan dengan bijak. Bukan justru menjadi “babak baru” sikap pamer dan menonjolkan diri.

Sungguh, pada akhirnya manusia akan tercermin pada sikap, akhlak, dan ketulusan. Semakin menjauh dari ketenaran dan pamer. Sebab, semakin seseorang berusaha terlihat, semakin ia menjauh dari keikhlasan. Agar kita tidak sibuk pamer, tapi menjadi pribadi yang sederhana, yang keindahannya justru bersinar dalam diam.

Sebuah teguran halus terhadap kecenderungan manusia yang gemar menonjolkan diri, apalagi di mmen lebaran. Salam literasi!.