Konten dari Pengguna

Inilah Risiko Sibuk Cari Uang, hingga Lupa Kasih Uang?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba deh diperhatikan. Ternyata, orang yang paling sibuk mencari uang, justru malah paling jauh dari rezeki. Ambisi, gelisah bahkan panik. Sering overthinking. Setiap hari cek saldo, hitung utang, mikir dari mana uang datang lalu membandingkan hidupnya dengan orang lain, dengan tetangganya.

Sibuk cari uang, malah energinya jadi kacau. Inting-nya lemah, frekuensinya rendah. Kita bisa lihat sedniri kok, semakin panik maka semakin buta melihat peluang. Semakin takut miskin, justru semakin sulit menarik rezeki. Sebaliknya, orang yang tenang, meskipun lagi susah, seringkali mendapat rezeki dari arah tidak terduga. Hidupnya asyik-asyik saja. Paham kalautugasnya hanya ikhtiar, selebihnya diserahkan yang atur rezeki.

Sibuk cari uang justru panikan. Bersikap tenang malah rezeki datang dari arah tidak terduga. Ini bukan ilmu klenik. Bukan pula jampi-jampi. Tapi soal keselarasan antara hati, pikiran, dan tindakan. Kita tidak perlu jadi magnet uang. Kita hanya perlu jadi manusia yang selaras. · Bersyukur tanpa memaksa. Berpenampilan tanpa pura-pura. Dan menghargai uang tanpa menyembahnya.

Kenapa begitu? Karena faktanya, banyak orang ingin hidup berlimpah. Tapi caranya salah. Fokusnya pada kekurangan. Sering ngomong ”saya tidak punya ini”. Saya masih punya utang. Saya tidak bisa seperti dia. Setiap hari, yang dibahas dan dibicara cuma tentang kegagalan. Otaknya disetel untuk memvisualisasikan ketakutan dan mengeluhkan keadaan. Maka wajar, hasilnya seperti energi bak pagar berduri: rezeki pun enggan mendekat.

Sadar tidak sadar, banyak orang sering mengabaikan hal-hal kecil dalam hidupnya. Rezeki juga pilih “tempat” yang pantas didatanginya. Ada cara yang lebih sehat untuk menaikkan getaran hidup dan bisa mendatangkan rezeki:

1. Bersyukur atas hal-hal kecil, dengan ikhlas bukan terpaksan. Bukan karena syukur bisa menarik uang. Tapi karena syukur membuat kita tidak sengsara saat belum punya. Dan orang yang tidak sengsara akan lebih mudah melihat peluang.

2. Berpenampilan dan bertindak layaknya orang yang percaya diri. Bukan untuk pamer. Tapi karena saat kita menghargai diri sendiri, orang lain juga akan menghargai kita. Penghargaan itu bisa membuka pintu rezeki.

3. Perlakukan uang dengan hormat, bukan mlah menyemabhnya. Uang tidak punya kekuatan magis. Tapi justru harus dirawat dan dikelola dengan bijak. Kita melatih diri untuk tidak boros, tidak ceroboh, dan mau menabung. Mengelola uang itu disiplin, bukan persepsi.

Sayangnya, ketiga hal ini sering diajarkan sebagai jalan pintas pintu rezeki. Padahal, fungsinya hanya membersihkan energi negatif dalam diri kita, bukan memanggil rezeki dengan sulap. Ketika energi kita bersih, tidak panik, tidak penuh iri, bahkan tidak penuh keluhan sehari-hari. Maka mata terbuka untuk melihat mana peluang yang selama ini tertutup debu kecemasan diri sendiri

Coba deh jujur pada diri sendiri. Seberapa sering kita: begitu bangun tidur dan langsung mikir utang? (Itu energi rendah). Lalu, saat bertemu orang sukses, lalu iri diam-diam? (Itu juga energi rendah). Melihat teman hidupnya enak, lalu mikir jelek? (itu juga energi buruk). Terus, pas gagal sekali, lalu bilangnya tidak beruntung? (energinya rendah banget). Energi negative atau renah itulah, akhirnya seperti kabut. Kita jadi gagak dan tidak bisa melihat jalan. Peluang lewat tanpa disadari. Orang lain yang bisa membantu pun jadi segan mendekat.

Sibuk kasih uang ke anak yatim n jompo

Sementara orang yang gampang rezekinya dan berlimpah biasanya: bangun tidur, langsung bersyukur masih diberi napas. Bertemu orang sukses, belajar banyak darinya, bukan iri. Lihat teman hidupnya enak, ikut bersyukur. Dan sat gagal, lalu bilangnya: Ok, belum berhasil. Sekarang coba lagi cara lain. Sesederhan itu, tapi yang keluar energi positif. Orang yang berlimpah bukan karena punya kekuatan gaib. Mereka hanya tidak menyia-nyiakan energi untuk hal-hal yang tidak produktif. Dan dengan energi positif yang terjaga, akhirnya bisa fokus bekerja, mau belajar, mampu melihat peluang, membangun relasi, dan mencoba terus, apapun kondisinya. Itulah rezeki sejati, karena pikiran selalu dijaga untuk “positive thinking”.

Bersyukur itu membuat kita tetap waras saat bekerja keras. Tidak perlu terobsesi dengan keberlimpahan instan. Sibuk banget cari uang. Tapi nyatanya, uang tidak kunjung datang. Kira-kira begitu, nggak usah sibuk cari uang. Lebih baik benahi energi agag bisa jadi tempat tujuan uang. Pasti datang sendiri. Katanya kan, rezeki sudah ada yang atur. Maka dekati saja si pemilik rezeki itu, iya nggak?

nagji bareng anak-anak