Ironi Gerakan Literasi: 83% TBm Berjuang Sendiri Tanpa Bantuan Pemerintah

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dimulai dari pertanyaan sederhana. Apakah taman bacaan Anda pernah mendapat bantuan dana/hibah dari Pemerintah (pusat/daerah)? Faktanya, mayoritas pengelola TBM (Taman Bacaan Masyarakat) melaporkan belum pernah menerima hibah baik dari instansi pemerintah pusat maupun daerah. Kondisi serupa terjadi pada sektor privat, di mana sebagaian besar TBM belum pernah mendapat bantuan dana melalui program CSR.
Survei yang diperbaharui oleh Syarifudin Yunus (TBM Lentera Pustaka Bogor) Bogor pada Juli 2026 yang melibatkan 172 pengelola TBM yang tersebar di 97 Kabupaten/Kota di 27 Provinsi melalui google form menyebutkan tantangan utama yang dihadapi oleh TBM di Indonesia dalam mendapatkan dukungan dana hibah atau bantuan luar adalah sangat rendahnya aksesibilitas atau tingkat keberhasilan dalam memperoleh bantuan dana, baik dari sektor publik maupun swasta. Simpulan utama survei bertajuk “Potret TBM di Indonesia” adalah sebagai berikut:
1. Kesulitan mengakses hibah pemerintah. Sebanyak 83% TBM menyatakan “belum pernah mendapatkan bantuan dana atau hibah dari pemerintah”, baik dari tingkat pusat maupun daerah. Selaian dana hibah pemerintah yang terbatas, kondisi ini menunjukkan adanya hambatan besar bagi mayoritas TBM untuk menembus birokrasi atau memenuhi kriteria “bantuan sosial TBM” yang ditetapkan oleh pemerintah.
2. Keterbatasan dukungan CSR Swasta. Kondisi serupa terjadi pada akses dana Corporate Social Responsibility (CSR), di mana 84% TBM di Indonesia “belum pernah menerima bantuan CSR dari pihak swasta”. Hanya 16% TBM yang berhasil mendapatkan dukungan dari sektor swasta, yang mengindikasikan bahwa kerja sama antara TBM dan perusahaan swasta masih sangat terbatas.
Tantangan bantuan dana/hibah dan CSR swasta ini bersifat nasional. Tingginya angka “belum pernah” mendapat bantuan dana – CSR menunjukkan bahwa masalah pendanaan eksternal adalah kendala sistemik yang dihadapi oleh sebagian besar pengelola literasi di lapangan. Meskipun TBM berperan penting dalam literasi dan dianggap ujung tombak aktivitas kegemaran membaca di masyarakat, nyatanya mayoritas TBM masih harus berjuang secara mandiri karena belum tersentuh oleh skema bantuan dana formal dari pemerintah maupun swasta.
Tingginya angka TBM yang belum pernah menerima bantuan dana CSR (84%) maupun hibah pemerintah (83%) membawa beberapa implikasi serius terhadap ekosistem literasi di Indonesia:
1. Beban finansial mandiri yang berat. Karena mayoritas besar TBM tidak tersentuh bantuan eksternal formal, operasional TBM kemungkinan besar sangat bergantung pada pendanaan pribadi pengelola atau swadaya masyarakat yang sangat terbatas. Hal ini menempatkan keberlangsungan TBM pada posisi yang rentan secara finansial.
2. Keterbatasan skala program dan fasilitas. Tanpa dukungan CSR atau dana hibah, TBM akan kesulitan untuk melakukan pengadaan koleksi buku baru secara rutin, memperbaiki fasilitas bangunan, atau mengadakan kegiatan literasi yang berskala besar. Hal ini dapat menyebabkan stagnasi kualitas layanan bagi masyarakat di sekitarnya.
3. Ancaman terhadap keberlanjutan (sustainability). Tingginya angka kegagalan mendapatkan bantuan (di atas 80% pada kedua kategori bantuan) menunjukkan bahwa TBM beroperasi dalam kondisi "bertahan hidup". Tanpa adanya suntikan dana yang stabil, banyak TBM berisiko tutup jika pengelola tidak lagi memiliki sumber daya pribadi untuk mendukung operasionalnya.
4. Lemahnya sinergi antara gerakan akar rumput dan sektor formal. Ada kesenjangan komunikasi dan koordinasi yang lebar antara pengelola literasi di lapangan dengan pemerintah maupun sektor swasta. Potensi TBM sebagai garda depan literasi belum dimanfaatkan secara optimal oleh program pemberdayaan masyarakat secara formal.
5. Ketimpangan distribusi bantuan. Dukungan sektor swasta masih sangat terbatas dan tersentralisasi atau sulit dijangkau oleh sebagian besar TBM di berbagai daerah di Indonesia.
Mau tidak mau, memang saat ini gerakan literasi melalui TBM di Indonesia masih bersifat “voluntarisme murni” yang berjalan tanpa dukungan sistemik dari pihak luar, yang pada jangka panjang dapat menghambat upaya peningkatan literasi nasional secara masif. Salam literasi! #SurveiTamanBacaan #PotretTBM #TBMLenteraPustaka
