Ironi Literasi: Anggaran Perpusnas Dipangkas + 53% TBM Tidak Layak

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ironi dunia literasi itu nyata. Anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) untuk 2026 dipangkas nyaris setengah dari tahun sebelumnya. Dari Rp721 miliar jadi Rp377. Dampaknya, sudah pasti bantuan buku gratis ke daerah terhenti, pembangunan perpustakaan berhenti, dan program bantuan penguatan literasi ke daerah pasti terputus. Sungguh mengerikan literasi di Indonesia.
Belum lagi soal fasilitas ruang baca di taman bacaan masyarakat (TBM) yang mengenaskan. Fasilitas ruang baca harusnya memegang peranan penting dalam menciptakan lingkungan yang nyaman, aman, dan kondusif bagi kegiatan literasi. Ruang baca yang bersih, memiliki pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik, dilengkapi meja, kursi, serta koleksi bacaan yang tertata rapi dapat meningkatkan minat masyarakat untuk datang, membaca, dan memanfaatkan layanan TBM secara berkelanjutan. Selain mendukung kenyamanan, fasilitas yang baik juga memungkinkan TBM menjadi ruang belajar, berdiskusi, dan berinteraksi bagi berbagai kelompok usia. Karenanya, penyediaan fasilitas ruang baca yang berkualitas tidak hanya meningkatkan pengalaman membaca pengunjung, tetapi juga memperkuat peran TBM sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat dan pengembangan budaya literasi di masyarakat.
Lalu, bagaimana kondisi aktual fasilitas ruang baca di taman bacaan masyarakat? Berdasarkan hasil survei terhadap para pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Indonesia, kondisi umum fasilitas ruang baca saat ini sebagian besar dinilai belum memadai. Yaitu 53% TBM menganggap fasilitas ruang baca belum memadai, 24% TBM merasa fasilitasnya sudah memadai, dan 23% TBM menjawab mungkin memadai. Dapat dikatakan, hanya seperempat TBM di Indonesai yang memiliki fasilitas ruang baca memaddai. Survei ini dilakukan oleh Syarifudin Yunus (TBM Lentera Pustaka Bogor) pada Juli 2026 yang melibatkan 172 pengelola TBM yang tersebar di 97 Kabupaten/Kota di 27 Provinsi melalui google form.
Fasilitas ruang baca yang memadai di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dapat diukur melalui beberapa indikator yang mendukung kenyamanan, keamanan, aksesibilitas, dan efektivitas kegiatan membaca. Indikator-indikator yang jadi acuan antara lain: 1) kenyamanan ruang baca (luas area, sirkulasi udara, pencahayaan), 2) perabot dan sarana mmbaca (area duduk, rak buku, karpet), 3) koleksi dan akses bacaan, 4) kebersihan dan keamanan (terawatt, tempat sampah), 5) akses pendukung (toilet, area parkir), 6) fasilitas pendukung (wi-fi, papan informasi, jam operasional), dan 7) lingkungan literasi (rang kegiatan/diskusi, media promosi, pajangan edukatif).
Jadi, implikasi dari kurang memadainya fasilitas ruang baca di TBM adalah pengelola TBM perlu lakukan evaluasi mandiri untuk mengidentifikasi area spesifik mana yang kurang (misalnya pencahayaan, rak buku, atau kenyamanan tempat duduk). Di sisi lain, TBm perlu menentukan standar minimum kenyamanan “ruang baca”. Dan akhirnya, harus bergerak untuk mencari dukungan berupa CSR atau bantuan pihak ketiga untukkolaborasi dalam gerakan literasi. #SurveiTamanBacaan #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan’
