Izinkan Aku Baca Sendiri, Tidak Ada Jawaban di Setiap Halaman

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di sebuah aliran sungai yang dipenuhi bebatuan besar, seorang lelaki yang sebentar lagi pensiun duduk termenung. Ia memegang sebuah buku tua yang sampulnya sudah lusuh, seolah telah melalui banyak perjalanan. Angin gunung berhembus pelan, membawa suara alam yang tenang, namun pikirannya justru penuh riuh. Buku itu bukan sekadar kumpulan kata, melainkan warisan dari ayahnya, dengan pesan singkat di halaman pertama: “Izinkan aku baca sendiri.”
Sejak kecil, lelaki itu terbiasa diberi tahu apa yang benar dan salah, apa yang harus dipilih, dan jalan mana yang harus ditempuh. Ayahnya selalu menjadi penunjuk arah, bahkan dalam hal-hal kecil. Namun sejak kepergian sang ayahnya, dunia terasa berbeda. Untuk pertama kalinya, sang lelaki pembaba buku itu harus menghadapi hidup tanpa penjelasan yang lengkap.
Ia membuka buku itu perlahan. Halamannya berisi kisah-kisah sederhana tentang kehidupan: tentang jatuh bangun, tentang kesalahan, tentang keberanian memilih hingga pentingnya mempersiapkan hari tua. Namun tidak ada kesimpulan di setiap cerita. Tidak ada jawaban pasti. Hanya ruang kosong di akhir tiap kisah, seakan menunggu untuk diisi oleh pembacanya sendiri.
Perlahan, lelaki itu mulai memahami maksud pesan ayahnya. “Izinkan aku baca sendiri” bukan sekadar tentang membaca buku. Tapi tentang menjalani hidup dengan kesadaran penuh. Bahwa tidak semua jawaban harus diberikan, karena sebagian harus ditemukan dlam teks kehidupan itu sendiri. Bahwa kesalahan bukan untuk dihindari sepenuhnya, tetapi untuk dipahami. Lalu, diambil hikmahnya.
Sang lelaki itu menatap bebatuan di sekelilingnya. Keras, tidak rata, dan tampak tidak ramah. Aliran air pun mengalir deras di sela-selanya. Namun justru di atas batu itulah ia duduk dengan kokoh. Hidup, pikirnya, mungkin seperti batu-batu ini: tidak selalu nyaman, tetapi selalu bisa menjadi pijakan jika kita mau menyesuaikan diri. Sebab dalam hidup, tidak semua jalan harus mulus untuk bisa dilalui.
Hari mulai senja, dan cahaya keemasan menyelimuti lereng itu. Sang lelaki pembaca buku menutup bukunya, kali ini dengan perasaan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari jawaban di setiap halaman, melainkan menemukan keberanian untuk menulis jawabannya sendiri. Ia sadar, hidup bukan untuk dihafal, tetapi untuk dialami. Hidup pun tidak boleh hanya bertumpu teori tanpa mau praktik di dunia nyata.
Dengan langkah pelan, sang lelaki itu berdiri dan meninggalkan bebatuan. Buku tua tetap ia genggam, namun kini bukan sebagai sumber jawaban, melainkan sebagai pengingat. Bahwa dalam perjalanan hidup, terkadang kita hanya butuh satu izin yang paling penting: izin untuk belajar, jatuh, dan memahami dengan cara kita sendiri. Bukan caranya orang lain. Jadilah diri sendiri, apa adanya!
