Jangan Abaikan Riset & Dana Pensiun untuk Wujudkan Masa Tua Pekerja Lebih Baik

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Salah satu upaya mewujudkan ekosistem dana pensiun yang memadai adalah penelitian atau riset dana pensiun. Penelitian dana pensiun sangat penting karena dana pensiun bukan hanya persoalan keuangan, tetapi menyangkut masa depan jutaan pekerja setelah tidak lagi menerima penghasilan aktif. Penelitian membantu menjawab mengapa kepesertaan masih rendah, mengapa pekerja menunda persiapan pensiun, berapa kebutuhan dana hari tua, serta bagaimana membuat program pensiun yang lebih sesuai dengan kondisi pekerja Indonesia. Di samping membiasakan eksekusi pemasaran dana pensiun berbasis data.
Setidaknya ada 5 alasan utama pentingnya penelitian dana pensiun, yaitu: 1) mengetahui masalah sebenarnya terkait penyebab rendahnya literasi, kepesertaan, iuran, dan kesiapan pensiun, 2) membuat kebijakan lebih tepat berdasar data empiris untuk merancang regulasi, insentif, dan perlindungan peserta, 3) meningkatkan kualitas DPLK dan dana pensiun terkait investasi, biaya, tata kelola, risiko, dan pelayanan dapat membantu industri memperbaiki produk dan kinerja, 4) menyesuaikan program dengan perubahan dunia kerja seperti pekerja informal, freelancer, pekerja gig, Gen Z, mobilitas kerja, dan pendapatan yang tidak tetap membutuhkan pendekatan pensiun yang berbeda, dan 5) mencegah masalah sosial di masa depan sebab tanpa persiapan pensiun yang memadai, seseorang berisiko mengalami penurunan kesejahteraan ketika penghasilan aktif berhenti.
Intinya, penelitian dana pensiun berfungsi menjembatani tiga hal: data → kebijakan → kesejahteraan hari tua. Tanpa penelitian yang kuat, pengembangan dana pensiun akhirnya hanya berdasarkan asumsi. Dengan penelitian, kita bisa mengetahui siapa yang belum siap pensiun, mengapa mereka belum siap, berapa kebutuhannya, dan intervensi apa yang paling relevan. Bahkan untuk Indonesia, penelitian dana pensiun seharusnya tidak berhenti pada “berapa besar aset dana pensiun?”, tetapi bergeser ke pertanyaan yang lebih mendasar: “Apakah pekerja Indonesia benar-benar akan cukup uang ketika memasuki masa pensiun?”
Salah satu figur yang aktif meneliti dana pensiun adalah Syarifudin Yunus, yang dikenal aktif menerbitkan penelitian tentang dana pensiun, antara lain mengenai persepsi pekerja terhadap dana pensiun, karakteristik peserta DPLK sektor informal, literasi dana pensiun, dan pekerja muda. Publikasinya di tahun 2025–2026 menunjukkan kesinambungan risetnya. Dia juga sering meneliti dana pensiun bersama Farid Nabil Elsyarif dari KKA Edial untuk beberapa topik riset.
Syarifudin Yunus merupakan akademisi atau dosen di Universitas Indraprasta PGRI dan asesor di LSP Dana Pensiun sekaligus Ketua Dewan Pengawas DPLK Sinarmas Aset Management (DPLK SAM). Beberapa topik yang sudah diteliti dan terbit di jurnal ilmiah antara lain terkait tingkat literasi dan inklusi dana pensiun, kepesertaan DPLK, pekerja informal, pekerja muda, kesiapan pensiun, investasi dan strategi pemasaran DPLK. Secara spesifik misalnya terkait: Potret Kinerja Investasi 6 Tahun Terakhir pada DPLK (2025); Persepsi dan Preferensi Pekerja Biasa (2025); Analisis Kepesertaan DPLK bagi Pekerja Sektor Informal (2025); Tingkat Gaya Hidup dan Potensi Kepesertaan Dana Pensiun (2025); Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di Jabodetabek (2025); Determinasi Rendahnya Literasi Dana Pensiun (2026). Salah satu jejak publikasi paling konsisten dalam penelitian Syarifudin Yunus adalah menghubungkan perilaku pekerja dengan rendahnya kepesertaan dana pensiun.
Salah satu temuan risetnya tentang pekerja biasa menggunakan 100 responden disimpulkan 64% responden belum memiliki tabungan pensiun, sementara 77% hanya mampu menyisihkan maksimal Rp500 ribu per bulan.
Syarifudin Yunus meyakini, dana pensiun akan semakin maju bila didukung oleh riset dan data yang kuat. Dana pensiun tidak dibangun oleh asumsi atau pikiran subjektif. Sebab riset dana pensiun harusnya jadi kunci membangun masa tua pekerja yang lebih sejahtera. Dukungan riset dana pensiun jangan diabaikan untuk meningkatkan partisipasi (kepesertaan) dan aset kelolaan dana pensiun. #YukSiapkanPensiun #RisetDanaPensiun #DPLKSAM
