Konten dari Pengguna

Jangan Biarkan Amarah Mengalahkan Akal Sehat dan Etika

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada orang yang terlihat dewasa ketika hidup berjalan sesuai keinginannya. Ia mampu tersenyum, berbicara dengan santun, dan memperlakukan orang lain dengan baik. Namun, ketika keinginannya ditolak atau harapannya tidak terpenuhi, sikapnya tiba-tiba berubah. Ia mulai menyindir, meluapkan amarah, bahkan mengucapkan kata-kata yang melukai perasaan orang lain. Dari situ, kita belajar bahwa kedewasaan bukan sekadar tentang bagaimana seseorang bersikap saat bahagia, melainkan bagaimana ia mengendalikan diri ketika kecewa.

Selama ini, kita mungkin terlalu mudah menilai kedewasaan seseorang dari ketenangan dan tutur katanya. Padahal, seseorang bisa terlihat tenang karena belum menghadapi keadaan yang mengusik ego dan perasaannya. Bersikap baik ketika semuanya berjalan sesuai harapan bukanlah hal yang sulit. Tantangan sesungguhnya adalah tetap menjaga etika ketika merasa dirugikan, tetap menghormati orang lain ketika berbeda pendapat, dan tetap menggunakan kata-kata yang pantas ketika hati sedang terluka. Sebab, karakter seseorang sering kali terlihat jelas ketika kenyataan tidak berjalan seperti yang diinginkannya.

Pegiat literasi motor baca keliling
zoom-in-whitePerbesar
Pegiat literasi motor baca keliling

Orang yang memiliki kecerdasan emosional memahami bahwa marah adalah hal yang manusiawi, tetapi menyakiti orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan hanya karena sedang marah. Ia belajar menyampaikan kekecewaan tanpa menghina, menolak tanpa merendahkan, dan berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat. Ia juga menyadari bahwa tidak semua luka harus dibalas dengan luka, dan tidak semua persoalan harus dimenangkan dengan kata-kata yang menyakitkan. Terkadang, memilih diam sejenak, menarik napas, dan menenangkan pikiran jauh lebih bijaksana daripada meluapkan emosi yang akhirnya menimbulkan penyesalan.

Jadi, kedewasaan bukan tentang seberapa tinggi pendidikan kita, seberapa banyak pengalaman hidup yang kita miliki, atau seberapa bijak nasihat yang mampu kita sampaikan kepada orang lain. Kedewasaan adalah kemampuan untuk mengendalikan diri ketika emosi menguasai pikiran, menjaga lisan ketika hati sedang terluka, dan tetap menghargai orang lain meskipun keinginan kita tidak terpenuhi. Kita memang tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi dalam hidup, tetapi kita selalu bisa belajar mengendalikan bagaimana kita meresponsnya. Sebab, menjadi dewasa bukan berarti tidak pernah marah atau kecewa, melainkan mampu melewati semuanya tanpa kehilangan akal sehat, etika, dan kemanusiaan. Salam literasi!