Konten dari Pengguna

Jangan Jadikan Skripsi sebagai Jalan Mahasiswa Menuju Stres

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suatu hari, seorang mahasiswa datang bimbingan dengan mata yang terlihat lelah. Skripsinya belum selesai, sementara teman-temannya sudah satu per satu mengenakan toga. “Pak, saya sebenarnya ingin cepat selesai, tapi saya bingung harus mulai dari mana lagi,” katanya. Dosen itu tidak langsung mencoret banyak halaman. Ia justru berkata, “Kita lihat satu per satu. Yang kurang kita perbaiki, yang sudah benar kita lanjutkan. Target kita jelas: kamu selesai tepat waktu.”

Sejak saat itu, bimbingan menjadi lebih sederhana. Setiap pertemuan menghasilkan arah yang jelas: apa yang diperbaiki, apa yang dipelajari, dan kapan harus kembali. Tidak ada revisi yang sengaja dibuat berputar-putar hanya untuk menunjukkan siapa yang lebih berkuasa.

Beberapa bulan kemudian, mahasiswa itu akhirnya berdiri di depan panggung dengan toga. Ia tersenyum, bukan hanya karena berhasil menyelesaikan skripsinya, tetapi karena teringat pernah berada di titik hampir menyerah. Seusai wisuda, ia menemui dosennya dan berkata, “Terima kasih, Pak. Bapak membuat saya percaya bahwa saya bisa menyelesaikannya.” Mungkin bagi sang dosen, kalimat itu sederhana. Tetapi bagi seorang mahasiswa yang pernah merasa sendirian menghadapi skripsi, kalimat itu adalah sesuatu yang akan diingat bertahun-tahun.

Skripsi memang harus berkualitas. Mahasiswa memang harus bekerja keras. Dosen memang harus menjaga standar akademik. Tetapi membimbing tidak harus berarti mempersulit. Mengoreksi tidak harus membuat seseorang merasa bodoh. Memberi standar tidak harus membuat orang kehilangan harapan. Ada perbedaan besar antara mendidik dengan menantang dan mendidik dengan membuat orang tertekan. Dosen pembimbing yang baik bukanlah yang membuat mahasiswa takut setiap kali bertemu dengan pembimbingnya, tetapi yang membuat mahasiswa pulang dengan satu keyakinan: “Saya belum selesai, tetapi saya tahu bagaimana menyelesaikannya.”

Bimbingan skripsi yang tuntas, mahasiswa happy

Pada akhirnya, kita semua akan sampai pada suatu masa ketika jabatan, gelar, dan kekuasaan tidak lagi terlalu penting. Yang mungkin tersisa justru cerita tentang bagaimana kita pernah memperlakukan orang lain ketika mereka membutuhkan bantuan kita. Maka, kalau kita bisa membuat urusan seseorang menjadi lebih mudah, mengapa harus dibuat lebih sulit? Kalau kita bisa memberi arah, mengapa membuatnya tersesat? Kalau kita bisa memberi harapan, mengapa membuatnya takut?

Mudahkanlah urusan orang lain, agar urusan kita juga dimudahkan. Karena mungkin kita tidak akan pernah tahu, satu revisi yang kita permudah, satu kalimat penyemangat yang kita ucapkan, atau satu kesempatan yang kita berikan, bisa menjadi alasan seseorang memilih untuk tidak menyerah. Dan bukankah itu juga bagian dari makna pendidikan? Maka, jadilah dosen yang ketika mahasiswanya mengingat masa kuliah bertahun-tahun kemudian, yang mereka ingat bukan rasa takutnya, tetapi kebaikan dosen yang pernah membimbingnya.

Seperti hari ini, saya pun sudah tanda tangani skripsi 12 mahasiswa yang menjadi bimbingan saya di PBSI FBS Unindra. Semoga ilmu mereka bermanfaat dan mendapat kerja yang berkah untuk mengangkat harkat martabat keluarganya, bangsa dan negara serta agama, amiin!

skripsi jangan jadikan mahasiswa stres