Konten dari Pengguna

Jangann Menyakiti Jika Tak Ingin Disakiti

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap pagi, Pak Darto selalu datang ke kantor dengan wajah ramah. Namun, di balik keramahan itu, ia dikenal sebagai atasan yang keras. Ia sering membentak bawahannya di depan banyak orang, menganggap kesalahan kecil sebagai kebodohan, dan melontarkan kata-kata tajam tanpa memikirkan perasaan orang lain. Baginya, selama pekerjaan selesai, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Sampai suatu hari, ia sendiri melakukan kesalahan di hadapan direksi. Ia ditegur dengan nada tinggi, dipermalukan di depan rekan-rekannya, dan pulang dengan hati yang remuk. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasakan sendiri betapa menyakitkannya diperlakukan tanpa penghormatan.

Sesampainya di rumah, Pak Darto terdiam lama. Ia teringat wajah-wajah bawahannya yang selama ini hanya bisa menunduk setiap kali menerima bentakannya. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang selama ini luput dari pikirannya: orang-orang yang ia lukai ternyata memiliki hati yang sama dengannya. Mereka juga bisa kecewa, merasa tidak berharga, bahkan kehilangan semangat karena ucapan seseorang yang seharusnya membimbing mereka. Selama ini, ia selalu menuntut orang lain menghormatinya, tetapi lupa memberikan penghormatan yang sama. Ia ingin dimengerti ketika melakukan kesalahan, tetapi tidak pernah berusaha memahami orang lain ketika mereka melakukan kesalahan.

Keesokan harinya, Pak Darto mengumpulkan timnya. Bukan untuk memberikan teguran, melainkan untuk meminta maaf. Dengan suara yang lebih tenang, ia mengakui bahwa selama ini ia terlalu sering melukai perasaan orang lain atas nama kedisiplinan. Ia mulai belajar menegur tanpa merendahkan, mengoreksi tanpa menghina, dan mendengarkan sebelum menghakimi. Perubahan itu tidak membuatnya kehilangan wibawa. Justru, orang-orang mulai menghormatinya dengan tulus, bukan karena takut, melainkan karena merasa dihargai. Ia akhirnya memahami bahwa menjadi pemimpin bukan tentang seberapa keras seseorang bisa membuat orang lain tunduk, tetapi seberapa bijaksana ia memperlakukan mereka yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Edukasi nilai-nilai kehidupan

Sejak saat itu, Pak Darto memegang satu prinsip sederhana: jangan pernah melakukan sesuatu kepada orang lain yang tidak sanggup kita terima jika hal itu dilakukan kepada diri kita sendiri. Sebab, luka yang kita anggap sepele mungkin menjadi beban panjang bagi orang lain, dan kata-kata yang kita ucapkan dalam hitungan detik bisa membekas di hati seseorang selama bertahun-tahun. Hidup tidak selalu menuntut kita menjadi orang yang hebat, kaya, atau berkuasa, tetapi selalu memberi kita kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Sebab ukuran keluhuran seseorang bukanlah seberapa tinggi kedudukannya atau seberapa banyak orang yang menghormatinya, melainkan seberapa sedikit hati yang ia lukai dan seberapa banyak kebaikan yang ia tinggalkan. Jangan menunggu merasakan sakit untuk belajar berempati, jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai, dan jangan menunggu diperlakukan buruk untuk menyadari bahwa setiap manusia berhak diperlakukan dengan baik.

Maka, perlakukan orang lain sebagaimana kta ingin diperlakukan. Jangan menyakiti jika tak ingin disakiti. Jangan menanam duri di jalan orang lain!

IKA BINDO UNJ