Konten dari Pengguna

Kalau Kalah di Modal, Menanglah di Kerja Keras

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era persaingan, spirit untuk menang memang penting. Tapi menang bukan selalu berarti mengalahkan orang lain. Alasan kita perlu memiliki semangat untuk menang adalah karena hidup sering kali tidak memberikan garis start yang sama kepada setiap orang. Ada yang lahir dengan kecerdasan, ada yang memiliki koneksi, ada yang punya modal besar, ada pula yang sudah berpengalaman. Namun, kita selalu memiliki ruang untuk menentukan seberapa keras kita berusaha. Karena itu, ketika kita tidak unggul dalam satu hal, jangan buru-buru merasa kalah. Cari ruang lain untuk menjadi lebih baik.

Sederhananya, kalau kalah pintar, menanglah di rajin. Ada anak yang mungkin tidak selalu mendapat nilai tertinggi, tetapi ia belajar setiap hari, bertanya ketika tidak paham, dan tidak malu mengulang pelajaran. Kalau kalah koneksi, menanglah di attitude. Ketika belum mengenal banyak orang, jadilah pribadi yang dapat dipercaya, rendah hati, tepat janji, dan menghargai siapa pun. Kalau kalah modal, menanglah di kerja keras. Banyak usaha besar justru bermula dari sesuatu yang kecil, tetapi dijalankan dengan tekun dan konsisten.

Begitu juga dengan pengalaman. Kalau kalah pengalaman, menanglah di kemauan belajar. Orang yang belum tahu tidak perlu minder; ia hanya perlu mau belajar dari mereka yang lebih dahulu berjalan. Demikian pula ketika hasil hari ini belum sesuai harapan. Jangan langsung menyimpulkan bahwa perjuangan kita gagal. Bisa jadi kita sedang berada pada bagian proses yang belum memperlihatkan hasil. Petani tidak mencabut benih hanya karena beberapa hari belum tumbuh. Ia menyiram, merawat, menunggu, dan percaya bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri.

Pekerja yang siapkan masa pensiun

Di sinilah pentingnya ikhtiar dan doa. Ikhtiar membuat kita bergerak, sementara doa membuat hati tetap memiliki sandaran ketika hasil belum sesuai harapan. Keduanya mengajarkan kita untuk tidak menjadi manusia yang hanya pandai berharap tanpa bergerak, tetapi juga tidak menjadi manusia yang merasa seluruh keberhasilan hanya berasal dari kekuatannya sendiri. Kita bekerja sebaik mungkin, belajar sebanyak mungkin, memperbaiki diri setiap hari, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.

Maka, jangan ukur kemenangan hanya dari seberapa jauh kita berada di depan orang lain. Ukurlah dari seberapa jauh kita telah melampaui diri kita yang kemarin. Mungkin hari ini kita kalah cepat, kalah pintar, kalah modal, atau kalah beruntung. Tidak apa-apa. Selama kita belum berhenti belajar, belum berhenti bekerja, belum berhenti memperbaiki diri, dan belum berhenti berdoa, perjuangan belum selesai. Sebab dalam hidup, kita tidak harus selalu menjadi yang paling unggul; kita hanya perlu menjadi orang yang paling gigih untuk terus bertumbuh.

Seperti orang bekerja pun begitu. Jangan hanya puas saat punya gaji dan mampu penuhi kenbutuhan hidup sehari-hari. Tapi menanglah dalam mempersiapkan masa pensiun, saat nanti tidak bekerja dan tidak punya gaji lagi. Yuk siapkan pensiun!