Konten dari Pengguna

Karier Sukses di Kantor, Nggak Usah Merasa Hebat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ini sebuah pesan untuk sahabat. Siapapun kita, mungkin teman-teman yang tengah berada pada kejayaan hari ini, baik itu di kantor ataupun di usaha, berhenti untuk merasa hebat. Selagi karier bagus, syukuri dan tidak usah dijadikan alat untuk merendahkan orang lain. Lagi dipercaya jadi pengurus suatu organisasi, bekerjalah yang baik. Tidak usah zolim pada orang lain. Sebab, selama masih di dunia, tidak ada orang hebat. Yang ada, orang yang lagi diberi amanah untuk berbuat yang baik!!

Cuma mau cerita saja. Teman saya jadi direktur utama di perusahaan orang, sebuah perusahaan swasta. Dia juga owner dari perusahaan yang dibangunnya sendiri. Bergaullnya sama orang-orang sukses, katanya. Semua circle-nya orang-orang yang merasa hebat karena kemampuan ilmunya di atas orang-orang lain, katanya. Maka wajar, semua orang yang ada di bawahnya patut mencontoh dirinya dalam berjuang untuk meraih posisi terus ke atas. Kern banget ya.

Belakangan ini, hari-harinya dipenuhi dengan keluh-kesah. Gelisah, karena timnya atau orang-orang yang jadi bawahan di kantornya katanya memble. Si anu dibilang terlampau lemah dalam mensupport pekerjaannya, Si itu terlampau tolol untuk memahami perintahnya. Kata teman saya yang jadi bos ini, seharusnya ia bisa meraih hasil lebih baik lagi. Tapi tim-nya tidak mampu mengimbangi dia. Ujungnya, dia tulis rekomendasi pemecatan ke salah satu bawahannya di kantor. Tanpa perlu diperingatkan atau diperbaiki, si bawahan pun direkomendasi untuk dipevat alias PHK. "Bilang HRD, tulis surat pemecatan, gue nggak mau lihat dia lagi mulai besok!!" katanya. Begitulah adanya dinamika di kantor mana pun.

Teman saya yang bos ini memang hebat, katanya. Samapi pernah menganggap anak-anak buahnya toxic. Sementara di luar justru beredar kabar bahwa karyawan yangg keluar atau di-PHK merasa lingkungan kerja dan boss-nya yang toxic. Mana yang benar? Sekali lagi, begitulah realitas hubungan antara atasan dan bawahan di kantor. Knator itu terkadang lucu, terkadang aneh. Tapi ya tetap dilakoni oleh orang-orangnya.

Dan akhirnya, saat ngobrol dengan teman saya yang bos itu. Saya bilang saja, bahwa jabatan di mana pun bisa hilang. Karier secemerlang apapun bisa tumbang. Kekayaan sebesar apapun bisa berkurang. Bahkan mau sekuat dan sehebat apapun kerja, pada akhirnya akan pensiun. Jadi, di dunia kerja, yang penting itu bukan jabatan atau gaji. Tapi soal car akita memperlakukan orang lain, soal manfaat keberadaan kita bagi orang lain. Maka, tetaplah rendah hati di mana pun. Jabatan, pangkat atau karier semuanya sementara. Biarkan hanya langit dan pemilik-Nya yang tinggi. Kira-kitra begitu.

Di dunia ini, apalagi di kantor tidak ada orang hebat. Maka tidak usah arogan, apalagi merasa hebat. Memangnya yang bilang kita hebat, siapa? Yang ada para bawahan itu tidak mau bicara apa adanya. Bawahan itu sering tidak mau terus terang pada atasannya, kenapa kira-kira?

Tidak usah merasa hebat di kantor

Akhirnya saat ngopi, ke teman yang bos tadi, sayang bilang. Di kantor di mana pun, tidak ada orang hebat. Kita cuma kerja, digaji, dan ada periode waktunya. Hati-hati dan tetap rendah hati saja. Sebab saat kita jatuh, pasti akan berada di titik nadir. Kita jadi bukan apa-apa, dan mungkin nggak jadi siapa-siapa. Bahkan nggak punya apa apa selain cerita orang tentang kita di masa lalu.

Di kantor, para bawahan sering berharap dan berdoa agar bos-nya yang jahat pasti ujungnya jatuh. Atasan juga begitu, anak buah yang katanya nggak becus gampang banget dipecat tanpa penjelasan apapun. Itu semua salah, bawahan dan atasann sama-sama salah kalau berharap “jatuh”. Yang benar adalah siapapun bisa jatuh! Siapapun bisa jatuh. Orang yang dulu baik ke orang lain atau orang yangberlaku buruk ke orang lain di kerjaan pasti bisa jatuh. Kalau Allah berkehendak kita jatuh ya jatuh: kun fayakun!!

Teman saya yang bos pun akhirnya sadar. Dia nggak tahu tergolong atasan atau pemimpin baik atau nggak? Dia nggak tahu, apa dia pemimpin toxic atau nggak? Kita tidak sedang menghakimi siapapun, ini hanya perenungan. Dan tidak usah merasa hebat di manapun sekalipun karier dan jabatan sedang melekat!