Kebenaran Kadang Kalah Sama Kedekatan, Kejujuran Kalah Sama Kepentingan

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ini realitas sosial. Bahwa manusia sering menilai sesuatu bukan murni dari benar atau salah, tetapi dari hubungan, kepentingan, dan manfaat pribadi. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang jujur belum tentu langsung didukung, sementara orang yang punya pengaruh atau memberikan keuntungan sering lebih mudah dibela. Pesan utamanya bukan mengajak kita menjadi curiga kepada semua orang, tetapi supaya lebih bijak memahami dinamika hubungan manusia dan tidak terlalu bergantung pada validasi dari banyak orang.
Contoh sederhananya ada di lingkungan kerja. Ada karyawan yang berani mengingatkan bahwa laporan keuangan atau proses kerja tidak sesuai aturan. Walaupun ia benar, justru ia dianggap “tidak enak diajak kerja sama” karena membuat suasana menjadi tidak nyaman. Sementara rekan yang dekat dengan atasan atau sering menyenangkan banyak pihak tetap mendapat dukungan meski kontribusinya biasa saja. Di situ terlihat bahwa kedekatan kadang lebih berpengaruh daripada kejujuran.
Dalam pertemanan juga begitu. Ada satu teman yang selalu membantu saat dibutuhkan: meminjamkan uang, menemani ketika susah, atau membantu menyelesaikan masalah. Saat ia masih berguna, banyak orang mendekat dan memujinya. Namun ketika ia mengalami kesulitan finansial atau tidak lagi bisa membantu, perlahan orang-orang mulai menjauh. Dari situ terlihat bahwa sebagian dukungan yang diterima ternyata bukan karena ketulusan, melainkan karena manfaat yang bisa diberikan.
Di media sosial, fenomena ini bahkan lebih jelas. Banyak orang membela seseorang bukan karena memahami kebenaran masalahnya, tetapi karena tokoh itu populer, satu kelompok, atau menguntungkan kepentingan tertentu. Kadang orang yang menyampaikan fakta justru diserang karena dianggap mengganggu kenyamanan mayoritas. Sebaliknya, seseorang yang salah bisa tetap didukung karena punya banyak pengikut atau relasi kuat. Ini menunjukkan bahwa suara terbanyak belum tentu mewakili kebenaran.
Karena itu, jika suatu saat kita benar tetapi sendirian, itu bukan berarti kita salah. Dan jika suatu saat banyak orang mendukung kita, jangan cepat merasa paling baik, karena dukungan manusia bisa berubah sesuai keadaan. Yang lebih penting adalah tetap menjaga integritas, berbuat baik dengan tulus, dan membangun hubungan yang didasari rasa hormat, bukan sekadar manfaat sementara.
Hati-hati, karena di dunia sekarang, kebenaran kadang kalah sama kedekatan, kejujuran kalah sama kepentingan. Maka jangan heran, suatu kali kita akan sendirian saat benar. Dan jangan terlalu bangga saat banyak yang membela. Belum tentu karena kita baik, bisa jadi karena kita masih berguna bagi mereka.
Lebih baik membaca buku, salam literasi!
