Kelebihanmu adalah Titipan, Bukan Senjata

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di sebuah perusahaan teknologi, ada seorang programmer muda bernama Arga yang dikenal sebagai karyawan paling cerdas. Ia mampu menyelesaikan pekerjaan yang rumit hanya dalam hitungan jam, sementara rekan-rekannya membutuhkan waktu berhari-hari. Selain cerdas, Arga punya banyak kelebihan secara personal.
Awalnya, Arga sering merasa kesal ketika harus membantu rekan yang tertinggal. Namun suatu hari ia melihat seorang karyawan baru hampir mengundurkan diri karena terus merasa gagal mengikuti ritme pekerjaan. Sejak saat itu, Arga mulai meluangkan waktu setiap minggu untuk mengajar, membuat panduan sederhana, dan berbagi trik yang selama ini hanya ia kuasai sendiri. Arga bersedia tanpa pamrih membantu temannya dalam pekerjaan yang sulit.
Beberapa bulan kemudian, hasilnya sangat terasa. Tim yang sebelumnya bergantung pada Arga kini mampu menyelesaikan proyek bersama dengan lebih cepat dan minim kesalahan. Atasan bukan hanya memuji kecerdasan Arga, tetapi lebih menghargai kemampuannya membangun orang lain. Ia menyadari bahwa kemampuan yang disimpan untuk diri sendiri hanya menghasilkan prestasi pribadi, sedangkan kemampuan yang dibagikan melahirkan banyak orang yang ikut bertumbuh. Sinergi lebih baik daripada sekadar kompetensi.
Kisah serupa juga sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seorang siswa yang selalu menjadi juara kelas memilih menemani temannya yang kesulitan memahami matematika menjelang ujian. Ia tidak takut nilainya tersaingi, justru merasa senang ketika temannya akhirnya lulus dengan hasil yang membanggakan. Di lingkungan sekitar, ada pula dokter yang setiap akhir pekan membuka layanan kesehatan gratis bagi warga kurang mampu. Ilmu yang dimilikinya tidak dipakai untuk menunjukkan siapa yang paling hebat, tetapi untuk menghadirkan harapan bagi orang-orang yang membutuhkan. Ada pula relawan taman bacaan yang selalu membimbing anak-anak di kampung punya akses bacaan, mengelola taman bacaan hingga terbentuk kebiasaan membaca di kalangan anak-anak usia sekolah.
Dari kisah-kisah itu, jelas tersirat bahwa kelebihan bukanlah senjata untuk membuat orang lain merasa kecil, melainkan titipan yang akan bernilai ketika digunakan untuk mengangkat sesama. Kepintaran, kekayaan, jabatan, atau keterampilan akan menemukan makna tertingginya saat menjadi jalan bagi orang lain untuk bangkit. Pada akhirnya, dunia mungkin lupa siapa yang paling berbakat, tetapi akan selalu mengenang siapapun yang memakai kelebihannya untuk menolong, menguatkan, dan meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup dalam kehidupan banyak orang.
Maka kelebihanmu adalah titipan, bukan senjata. Saat kemampuan dipakai untuk mengangkat, bukan menjatuhkan, di situlah nilainya menjadi cahaya. Dunia tidak selalu mengingat siapa yang paling kuat, tetapi tak pernah lupa pada siapa yang menjadikan kelebihannya sebagai jalan untuk menolong, menguatkan, dan menyelamatkan sesama. Itulah kemenangan yang paling bermakna. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #GerakanLiterasi
