Konten dari Pengguna

Kenapa Kamu Penuh Prasangka Buruk?

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi berpikir. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berpikir. Foto: Pixabay

Zaman boleh maju. Tapi sayang, prasangka pun makin marak. Tidak sedikit hari ini, orang yang hidup dalam prasangka. Apa saja disangka, siapa pun sulit terbebas dari prasangka. Kok bisa?

Kata orang bahasa. Prasangka itu artinya pendapat atau anggapan yang kurang baik sebelum tahu kebenarannya. Argumen yang dilahirkan tapi tanpa bukti. Semua kata orang, semua kata obrolan di rumah-rumah atau di warung-warung kopi. Sekalipun boleh, prasangka buruk sebaiknya dijauhi. Soal apa pun, untuk siapa pun. Karena tidak ada manfaat, dan tidak produktif.

Prasangka itu sederhana

Apa yang dilakukan orang lain salah. Semua yang diomong orang lain tidak disukai. Dan semua yang dikerjakan orang lain pun serba salah. Yang benar, hanya komentar dan pikiran "orang yang berprasangka" saja. Walau dia sendiri tidak pernah melakukannya. Hanya sebatas komentar dan obrolan. Alhasil, berapa banyak orang yang kini hidup dalam prasangka?

Zaman boleh makin maju. Ilmu pun makin tinggi. Status sosial makin keren. Pendidikan makin mentereng. Tapi sayang, di saat yang sama. Makin banyak pula orang yang menghabiskan sebagain besar waktunya untuk prasangka buruk. Terlalu geram berprasangka.

Siapa pun memang boleh tidak empati kepada orang lain. Tapi itu bukan berarti "halal" untuk berprasangka buruk. Apalagi menaruh prasangka terhadap kebaikan. Seperti aktivitas di taman bacaan. Hanya untuk menegakkan tradisi baca dan budaya literasi. Tapi masih saja ada prasangka di dalamnya. Maka jangankan manusia. Gelapnya mendung atau terangnya matahari pun tidak luput dari prasangka.

Jauhi prasangka buruk

Prasangka bisa jadi makin marak

Karena tidak mampu ikut merasakan apa yang dialami orang lain. Kaum berprasangka hanya bisa melampiaskan perasannya sendiri. Hanya bisa membenarkan pikirannya sendiri. Hingga lupa, manusia sebagus apa pun akhlaknya dan sehebat apa pun akalnya. Sama sekali tidak berguna bila selalu direcoki oleh prasangka buruk.

Prasangka makin merajalela. Akibat tidak bisa lagi berpikir objektif. Gagal bersahabat dengan realitas. Membangun argumen untuk menyalahkan orang lain. Melampiaskan alasan untuk melegalisasi prasangka. Mereka berpikir hanya untuk mengatur ulang prasangka buruk. Hingga lupa, bahwa opini yang dibangun berdasar prasangka tanpa fakta. Adalah awal dari berakhirnya sebuah kebenaran.

Sungguh, tidak ada peradaban baik yang dibangun dari prasangka buruk. Di mana pun, pada siapa pun. Karena peradaban baik bukan soal untung rugi. Bukan pula soal sepaham atau tidak sepaham. Peradaban baik itu hanya soal spirit, soal moralitas. Soal sikap yang mampu "dituangkan" ke secangkir perilaku.

Harus diakui, memang susah berpikir objektif. Memang sulit membuang prasangka buruk.

Tapi itu bukan berarti siapa pun tidak boleh jadi orang baik. Karena orang baik, memang tidak harus sempurna di mata siapa pun. Tapi orang baik tidak boleh berhenti mencari cara untuk memperbaiki diri. Karena orang baik itu seperti senja. Tidak pernah berduka walau menunggu waktu untuk tenggelam. Tidak pernah berteriak dan meminta tolong walau hendak "menghilang".

Maka jauhi prasangka buruk. Mulailah berprasangka baik bila mau peradaban jadi baik. Karena prasangka baik bukan dilihat dari kerasnya kita membaca kitab suci. Tapi dari konsistennya kita menjalankan apa yang kita baca.

Siapa pun, tidak perlu jadi presiden atau gubernur. Bahkan tidak usah pula jadi pahlawan. Tapi cukup jadi manusia yang siap "berperang" melawan prasangka buruk sekecil apa pun. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #KampanyeLiterasi