Kerja Jelang Pensiun, Dedicated is Ok but Loyalty No!

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ini cerita kawan saya. Sejak kerja di usia 28 tahun, dikenal sebagai pekerja keras. Loyal untuk kantornya, dedikasi buat pekerjaannya. Kerja datang pagi, pulang larut malam. Maka kawan saya bilang “kantor itu rumah kedua gue”.
Dan seminggu lalu, kawan saya akhirnya pensiun. Usianya sudah 56 tahun. Dia ceriat, dibikin acara perpisahan. Atasannya kasih sambutan dan ucapan terima kasih. Rekan kerja sekantor menyalaminya. Foto bersama dan makan-makan. Setelah itu, kawan saya pulang. Berakhir sudah puluhan tahun bekerja, saatnya pensiun.
Besoknya, apa yang terjadi di kantor kawan saya? Kursinya sudah ditempati orang lain. Seolah tidak pernah ada siapa-siapa di sana. Semuanya berjalan normal. Dan begitulah tempat kerja, begitulah kantor di banyak tempat.
Ya memang begitu orang kerja. Hidup di kantor ya seperti itu. Kita datang. Kita bekerja. Lalu, suatu hari kita pergi alias pensiun. Dikenal loyal, berdedikasi, dan kerja keras. Kontribusi besar ke perusahaan, sampai-sampai bilang “kantor sebagai rumah kedua”. Dan pertanyaannya, apakah kita benar-benar menikmati hidup yang sesungguhnya?
Patut direnungkan, pada akhirnya kantor itu hanyalah transaksional. Tempat ncari uang, tempat aktualisasi diri yang berbatas waktu. Rekan kerja pun ada masanya. Karena itu, kantor itu bukan rumah kedua. Kita kerja, rajin ke kantor dan punya gaji. Begitu pensiun, meninggalkan kantor dan tidak punya gaji lagi. Ya, sesimpel itulah orang kerja dan kantor. Jangankan pensiun, jika kita meninggal dunia saat aktif pun esoknya meja sudah terisi dengan yang lain. Apa kantor dan rekan kerja ikut berkabung? The show must go on, bro.
Terkadang, kita (banyak pekerja) pengen banget dihargai di kantor. Berharap terlalu banyak sama perusahaan. Sangat manusiawi sih. Tapi ya begitulah kantor, hanya tempat cari uang. Tidak lebih tidak kurang. Begitu pensiun, bayar uang pesangon dan bikin event perpisahan, disalamin dan pulang. Jadilah seorang pensiunan. Sudah jadi, eks karyawan di kantor itu.
Ada kalimat yang sering diucapkan bos saat perpisahan pensiun. “Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Jadi, terima kasih dan selamat menikmati masa pensiun”. Penuh basa-basi, setelah itu rekan kerja mulai ngomongin. “Kasihan ya udah pensiun, dari mana bisa memenuhi biaya hidupnya. Stres kali ya…” begitulah gibahan rekan kerja setelah kita pensiun.
Maka ada benarnya, tulisan yang pernah saya baca. “Cintailah apa yang kita kerjakan tapi jangan mencintai tempat kerja kita”. Karena saat pensiun, posisi kita terlalu mudah diganti orang lain. Terus kok, masih mau bilang “kantor sebagai rumah kedua?”. Prinsip kerja sederhana saja, dedicated is ok, but loyalty NO!
Jadi, apa iya kantor sebagai rumah kedua? Sementara kita setelah pensiun, kebingungan akibat tidak punya gaji lagi. Mulai pusing cara memenuhi kebutuhan hidup, hingga akhirnya bergantung secara finansial dari anak-anak. Maka mumpung masih kerja, siapkan dana pensiun atau DPLK. Biar bisa lebih tenang, sehat, dan sejahtera di masa pensiun. Sebab hari ini, banyak pensiunan tidak tenang, tidak sehat, dan tidak sejahtera karena kerja keras di kantor tapi lupa siapkan tabungan untuk hari tua, untuk masa pensiunnya sendiri.
Mumpung masih kerja, selamat mempersiapkan masa pensiun. #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDanaPensiun
