Konten dari Pengguna

Kerja Puluhan Tahun tapi Pensiun Tanpa Tabungan, Kok Bisa?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak pekerja merasa persoalan keuangan selalu berawal dari gaji yang dianggap belum cukup. Padahal, dalam banyak kasus, persoalannya bukan semata-mata pada besar kecilnya penghasilan, tetapi bagaimana uang tersebut dikelola. Gaji masuk, berbagai kebutuhan dan keinginan langsung dibayar, sementara anggaran dan tabungan justru ditempatkan di urutan terakhir. Akibatnya, ketika akhir bulan tiba, uang sudah habis dan muncul alasan bahwa tidak ada yang bisa disisihkan untuk tabungan, investasi, apalagi dana pensiun.

Ada seorang pekerja dengan penghasilan Rp8 juta per bulan. Setiap menerima gaji, ia membayar cicilan, makan di luar, belanja daring, nongkrong di kafe, berlangganan berbagai layanan, dan membeli barang yang sebenarnya belum dibutuhkan. Secangkir kopi mungkin hanya Rp40 ribu, tetapi jika dilakukan 15 kali dalam sebulan sudah menjadi Rp600 ribu. Ditambah berbagai pengeluaran kecil lainnya, uang yang tampak sepele ternyata dapat menghabiskan bagian cukup besar dari penghasilan. Ketika ditanya tentang tabungan hari tua, jawabannya, “Nanti saja kalau gaji sudah lebih besar.”

Masalahnya, gaji yang lebih besar belum tentu membuat seseorang lebih siap secara finansial jika pola pengeluarannya juga terus meningkat. Ketika pendapatan naik, gaya hidup sering ikut naik: rumah diperbesar, kendaraan diganti, makan di tempat yang lebih mahal, dan keinginan baru terus bermunculan. Seorang pekerja yang selama 20 tahun bekerja tetapi tidak pernah membangun dana pensiun dapat menghadapi persoalan serius ketika memasuki usia pensiun. Gaji bulanan berhenti, tetapi kebutuhan hidup tetap berjalan—makan, tempat tinggal, kesehatan, dan kebutuhan keluarga tetap membutuhkan biaya.

Gaji ada tapi nggak bisa nabung pensiun, apalagi bersosial

Karena itu, menabung untuk hari tua seharusnya bukan menunggu uang tersisa, tetapi menjadi bagian dari anggaran sejak gaji diterima. Misalnya, pekerja dengan penghasilan Rp8 juta dapat menetapkan sebagian penghasilan secara rutin untuk dana darurat dan dana pensiun sebelum membelanjakan sisanya. Besarnya tentu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan: mencatat pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, mengendalikan belanja konsumtif, serta secara konsisten menyisihkan uang untuk masa depan.

Ketahuilah, pensiun sama sekali tidak dimulai ketika kita berhenti bekerja, tetapi dipersiapkan sejak masih menerima gaji. Jangan sampai puluhan tahun bekerja hanya menghasilkan kenangan tentang gaji yang pernah diterima, tetapi tidak meninggalkan dana yang cukup untuk menjalani masa tua. Pekerja boleh menikmati hasil kerja hari ini, tetapi sebagian penghasilan juga perlu “dikirim” kepada diri sendiri di masa depan. Sebab, ketika hari pensiun tiba, yang menyelamatkan bukan lagi besarnya gaji masa lalu, melainkan seberapa disiplin kita mempersiapkan kehidupan setelah gaji itu berhenti. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DanaPensiun