Ketika Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pak Syarif hanya seorang pegawai biasa yang hidup sederhana bersama keluarganya. Sesekali mengajar di kampus tempatnya mengabdi. Setiap pagi ia berangkat kerja dengan transportasi umum. Di saat teman-temannya sibuk mengejar gaya hidup yang lebih mewah dan sering membandingkan pencapaiannya dengan orang lain, Pak Syarif memilih mensyukuri apa yang dimilikinya. Baginya, rumah yang nyaman, keluarga yang sehat, dan pekerjaan yang halal sudah menjadi rezeki yang patut disyukuri setiap hari. Plus, dalam Sembilan tahun terakhir, ia mengabdikan dirinya di taman bacaan masyarakat. Hanya sekadar sediakan akses bacaan untuk anak-anak kampung.
Suatu ketika, seorang sahabatnya berhasil membeli mobil baru dan rumah yang lebih besar. Banyak orang mengira Pak Syarif akan merasa iri. Namun yang ia lakukan justru berbeda. Ia ikut bahagia atas keberhasilan sahabatnya, lalu pulang ke rumah dan menikmati makan malam sederhana bersama istri dan anak-anaknya. Saat melihat tawa keluarganya di meja makan, ia sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari apa yang dimiliki. Tapi dari kemampuan menikmati apa yang sudah ada. Menjalani hidup apa adanya.
Setiap bulan, Pak Syarif menggunakan uangnya untuk kebutuhan yang memang bisa dibeli: pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan kebutuhan sehari-hari. Namun untuk hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, ia menginvestasikan waktunya. Ia menyempatkan diri menemani anaknya yang masih kuliah, bermain dengan cucunya dan ngobrol ringan dengan anak-anaknya. Membantu anak-anak yatim dan kaum jompo, hingga bersosial. Ia memahami bahwa waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa dibeli kembali, seberapa banyak pun harta yang dimiliki seseorang.
Bertahun-tahun kemudian, ketika anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan semakin dewas, Pak Syarif menyadari satu hal penting. Setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk berhasil, dan setiap masa memiliki orangnya sendiri untuk bersinar. Karena itu, tidak ada gunanya terus membandingkan hidup dengan orang lain. Yang terpenting adalah menjalani hidup dengan rasa syukur, menikmati setiap proses, dan mengisi waktu dengan hal-hal yang benar-benar bermakna. Maka, di situlah kebahagiaan sejati sering kali ditemukan.
Ketahuilah, saat orang lain mengejar kemewahan, Justru ada kebahagiaan di rumah sendiri. Rezeki itu bukan tentang siapa yang paling banyak tapi siapa yang paling brsyukur. Maka belanjakan uangmu dengan bijak, habiskan waktumu dengan orang-orang yang berharga. Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Jangan berjeluh-kesah, Jalani dengan asyik tanpa berisi dan mengusik orang lain.
Tenang itu ada, ketika amu mensyukuri yang ada dan menikmati yang dimiliki. Ketika syukur menjadi cara hidup, kebahagiaan datang dengan sendirinya. Salam literasi!
