Konten dari Pengguna

Kisah di Kantor Kecil, Selalu Dianggap Salah dan Dibenci

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah kantor kecil yang sibuk, ada seorang karyawan bernama Raka yang dikenal ramah dan suka membantu. Ia sering menggantikan rekan kerja yang izin, membantu menyelesaikan tugas orang lain, bahkan rela lembur tanpa banyak bicara. Namun anehnya, ada satu orang di timnya yang tetap memandang Raka dengan sinis. Apa pun yang Raka lakukan, selalu saja dianggap salah atau penuh kepentingan tersembunyi.

Suatu hari, Raka membantu orang itu menyelesaikan laporan penting yang hampir terlambat dikumpulkan. Ia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, memastikan semuanya rapi dan tepat waktu. Alih-alih berterima kasih, orang itu justru berkata dingin, "Nggak usah sok baik. Saya tahu kamu cuma cari muka." Kalimat itu menusuk, tapi Raka memilih diam. Ia sadar, tidak semua kebaikan akan diterima dengan hati yang lapang.

Hari demi hari berlalu, dan Raka mulai memahami sesuatu. Bahwa masalahnya bukan selalu pada apa yang ia lakukan, tetapi pada cara orang lain melihat. Ada hati yang sudah dipenuhi prasangka, sehingga kebaikan pun tampak seperti ancaman. Ada luka yang belum sembuh, sehingga kehadiran orang lain terasa mengganggu. Dan dalam kondisi seperti itu, sebaik apa pun usaha kita, tetap tidak akan cukup di mata mereka. Kita selalu salah di matanya.

Raka pun berhenti berusaha menyenangkan semua orang. Ia tetap berbuat baik, tetapi bukan lagi untuk mendapat pengakuan. Ia melakukannya karena baik adalah nilai yang ia pegang. Ia tidak lagi menghabiskan energi untuk menjelaskan dirinya pada orang yang memang tidak ingin mengerti. Ia sadar, hidup bukan tentang disukai semua orang, tetapi tentang tetap menjadi pribadi yang benar di hadapan diri sendiri. Orientasinya dalam hidup hanya berbuat baik dan menebar manfaat.

kisah di kantor kecil

Pada akhirnya, waktulah yang akan menjawab segalanya. Orang-orang mulai melihat ketulusan Raka dari konsistensinya, bukan dari kata-katanya. Sementara mereka yang tetap membencinya akan terus membencinya. Hingga perlahan tenggelam dalam penilaian dan prasangka buruknya sendiri. Dari situ Raka belajar, bahwa semesta memang punya caranya sendiri untuk menimbang. Dan kadang, kebencian orang lain bukanlah cerminan siapa kita, melainkan cerminan apa yang ada di dalam hati si pembenci.

Jadi dalam hidup, meskipun kita pernah berbuat baik pada orang yang tidak menyukai, kita akan tetap tidak disukai. Mau sebaik apapun hal yang kita lakukan, akan tetap dibenci. Maka teruslah berbuat baik dan menebar manfaat, jangan menyerah. Semesta memang mempunyai hukumnya sendiri. Permasalahannya bukan di diri kita tapi kotornya hati orang yang menilai kita. Begitulah hidup, semoga Allah SWT selalu melindungi orang-orang baik yang tidak butuh validasi sekalipun dibenci sebagian orang. Semangat kawan!