Konten dari Pengguna

Kisah Pekerja Pensiun Dini

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Luar biasa,inspiratif sih untuk urusan pensiun. Sepasang suami istri di Inggris, bisa pensiun dini di usia 40 dan 35 tahun. Karena selalu membawa bekal makan siang ke tempat kerja selama 10 tahun. Namanya Alan dan Katie Donegan. Sekalipun dianggap “pelit” oleh rekan kerja, terbukti keduanya mampu menghemat Rp965 juta selama 10 tahun hanya dari kebiasaan membawa bekal makan siang ke kantor. Lebih dari itu, setiap musim dingin pun, Alan dan Katie Donegan menghindari menyalakan pemanas di rumahnya supaya tagihan tidak membengkak. Sebuah praktik berhemat yang butuh perjuangan.

Ternyata di balik kisah itu, keduanya bertekad untuk “membeli kebebasan". Sekalipun bekerja dan punya gaji yang cukup, keduanya selalu hemat dan terbiasa menabung agar bisa pensiun lebih dini, lebih awal dari yang seharusnya. Selalu berusaha menempatkan uang sebanyak mungkin dan menyisihkannya untuk kehidupan setelah pensiun dini. "Setiap pound yang kami kumpulkan adalah satu langkah nyata untuk lebih dekat menuju kehidupan yang kami inginkan," kata Katie sant istri.

Dan akhirnya, "kebebasan" yang dimaksud pasangan suami istri ini adalah pensiun dini. Sang suami, Alan pensiun dini saat usia 40 tahun dan istrinya Katie pensiun di usia 35 tahun. Keduanya memutuskan berhenti bekerja setelah tabungan yang dikumpulkannya mencapai £1 juta (setara Rp24,1 miliar). Sebuah perencaaan pensiun yang keren!

Sementara itu, di negeri tercinta Indonesia, mungkin banyak pekerja justru ingin tetap bekerja selama mungkin. Alasanya karena faktor ekonomi, budaya, dan kondisi sistem perlindungan hari tua yang belum sepenuhnya memberikan rasa aman. Ada benarnya, sebab gaji atau pendapatan yang diperoleh setiap bulan lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, membiayai pendidikan anak, membantu keluarga besar, atau menghadapi kenaikan biaya hidup. Akibatnya, kemampuan untuk menabung atau berinvestasi secara konsisten jadi terbatas. Dana pensiun pun tidak punya. Bahkan hari ini, tidak sedikit pekerja yang “hantui” rasa takut karena tabungannya tidak akan cukup untuk membiayai masa pensiun yang bisa berlangsung puluhan tahun. Maka wajar, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti kerja.

Pasangan suami istri yang pensiun dini

Budaya kerja di Indonesia pun berperan membentuk cara pandang tersendiri. Bekerja sering kali dipandang bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas, status sosial, dan cara untuk tetap produktif. Banyak pekerja merasa pensiun dini bukanlah tujuan utama, melainkan pilihan yang hanya bisa dinikmati oleh pekerja yang berpenghasilan tinggi atau memiliki aset besar. Di samping itu, literasi keuangan mengenai konsep financial independence dan pensiun dini masih relatif rendah, sehingga strategi seperti hidup hemat, berinvestasi secara konsisten, dan merencanakan pensiun sejak usia muda belum menjadi kebiasaan yang luas. Istilahnya, selalu ada alasan untuk “tidak menabung” atau belum mau “menyisihkan” gaji untuk masa depan.

Apalagi di tengah gaya hidup dan perilaku konsumtif yang “bergengsi”, banyak orang cenderung lebih menghargai apa yang terlihat hari ini, senang terlihat dari apa yang dipakai dan ditampilkan. Orientasinya, serba manfaat sekarang dan hari ini. Bukan manfaat jangka panjang atau masa depan. Terlalu nafsu untuk melampiaskan gaya hidup. Katanya, ingin meningkatkan kualitas hidup, mengikuti gaya hidup, atau memenuhi ekspektasi sosial. Maka wajar, biaya hidup dan pengeluarannya meningkat seiring kenaikan pendapatan. Tiap tahun pekerja naik gaji, dan penghasilan bertambah tapi tingkat tabungan tidak ikut meningkat secara signifikan. Puluhan tahun bekerja tetap tidak punya dana pensiun. Makin paripurna, kombinasi keterbatasan gaji, budaya kerja yang adaptif, rendahnya literasi perencanaan pensiun, dan perilaku konsumtif akhirnya membuat banyak pekerja memilih terus bekerja selagi masih mampu, dibandingkan mengejar pensiun dini melalui penghematan dan akumulasi kekayaan sejak usia produktif seperti kisah alan dan Katie di Inggris.

Maka penting diingatkan, apalagi untuk diri sendiri. Hiduplah sederhana, gunakan uang sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan. Mulailah menabung dan miliki dana pensiun. Agar bisa pensiun dini dari pekerjaan, lalu menjalani hidup dengan sehat dan sejahtera. Sebab pensiun, cepat atau lambat pasti tiba. #YukSiapkanPensiun

Kenapa tidak berani pensiun dini?