Kisah Pensiunan: Aku Kira Uang Pensiun Cukup untuk Hari Tua?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Bu, tinggal setahun lagi aku pensiun,” ujar Pak Darto, seorang pegawai swasta yang telah bekerja lebih dari tiga puluh tahun. Kalimat itu terdengar biasa, tetapi cukup membuat istrinya menghentikan aktivitas di dapur. “Tenang saja Pak, nanti kan ada uang pensiun,” jawab sang istri sambil tersenyum. Pak Darto mengangguk, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Ia sadar bahwa setelah pensiun, tidak akan ada lagi gaji bulanan yang rutin masuk ke rekening. Yang tersisa hanyalah dana yang telah dipersiapkan selama bekerja.
Malam harinya, Pak Darto dan istrinya mencoba melihat kondisi keuangan keluarga. Rekening tabungan dibuka, saldo yang terlihat jauh dari harapan. Tidak ada deposito, investasi yang dulu sempat direncanakan tidak pernah terealisasi, dan dana darurat sebagian besar telah digunakan untuk biaya pendidikan anak serta kebutuhan keluarga. Mereka saling berpandangan. Untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa selama ini merasa aman karena setiap bulan selalu ada gaji, bukan karena memiliki perencanaan pensiun yang matang.
Pak Darto kemudian mengambil secarik kertas dan mulai menghitung kebutuhan hidup setelah pensiun. Biaya makan, listrik, air, transportasi, iuran kesehatan, hingga kemungkinan biaya berobat ketika usia bertambah. Totalnya sekitar 60% dari gaji terakhirnya setiap bulan. Sementara saat pensiun, dia tiak punya gaji lagi. Pak Darto pun terdiam. Jika ia pensiun pada usia 56 tahun dan Allah memberinya umur hingga 75 tahun, berarti masih ada sekitar 19 tahun kehidupan yang harus dibiayai tanpa penghasilan dari pekerjaan. Ia mulai membayangkan hidupnya setelah pensiun. Dari mana biaya hidup akan diperoleh untuk membiayai hidupnya di hari tua yang cukup panjang?
Suasana menjadi hening. Istrinya meneteskan air mata sambil berkata, “Aku kira uang pensiun itu cukup untuk selamanya.” Pak Darto tidak menyalahkan siapa pun. Ia pun mengakui bahwa selama ini mereka lebih fokus memenuhi kebutuhan hari ini daripada mempersiapkan kehidupan setelah pensiun. Mereka baru memahami bahwa pensiun bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari fase kehidupan yang justru membutuhkan kepastian finansial dalam jangka panjang.
Percakapan malam itu mengubah cara pandang keduanya. Pak Darto dan istrinya menyadari bahwa selama masih bekerja seharusnya sebagian penghasilan disisihkan secara rutin ke dalam program dana pensiun atau investasi jangka panjang. Dana pensiun bukan sekadar tabungan, melainkan sumber penghasilan yang dirancang untuk menjaga kualitas hidup ketika seseorang tidak lagi memiliki gaji. Semakin dini seseorang memulai, semakin besar peluang dana tersebut berkembang melalui hasil investasi dan mampu menopang kehidupan di masa tua.
Kisah Pak Darto mengingatkan bahwa banyak keluarga tampak baik-baik saja selama gaji masih diterima setiap bulan. Namun, ujian sesungguhnya dimulai ketika penghasilan itu berhenti. Oleh karena itu, perencanaan dana pensiun sebaiknya tidak ditunda hingga menjelang pensiun. Menyiapkan dana pensiun sejak awal masa kerja adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga, agar masa tua dapat dijalani dengan tenang, mandiri, dan bermartabat tanpa dihantui kekhawatiran akan kesulitan keuangan. Agar tidak bergantung kepada anak di hari tua.
Karenanya, siapapun yang masih bekerja. Mulailah siapkan dana pensiun sejak dini. Sebab, kalau bukan kita mau siapa lagi? #YukSiapkanPensiun #DPLKSAM #EdukasiDPLK
