Kisah Pensiunan Swasta, Kenapa Pesangon Habis dalam 3 Tahun?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kawan saya cerita, apa sih yang dialami setelah pensiun? Di hari pertama setelah pensiun, dia tetap bangun pukul 5 pagi. Bergegas mandi dan pakai kemeja, siap-siap ke kantor. Terus sadar, ternyata sudah pensiun. Akhirnya, dilepas lagi kemejanya. Lalu membuat secangkir kopi untuk menikmati pagi di teras rumah.
Setelah pensiun, kawan saya memang nggak perlu absen lagi. Nggak ada pula bos yang WA malam-malam. Bahakn nggak ada gaji lagi tiap tanggal 25. Dia 30 tahun jadi karyawan swasta dan sejak pensiun resmi jadi ‘pengangguran’ dengan hormat. Rasanya? Yah, campur aduk. Ada senangnya tapi juga ada takutnya. Karena beda sama ASN, karyawan swasta kan nggak ada pensiun bulanan. Yang ada hanya uang pesangon. Habis itu? Ya cari jalan sendiri.
Kawan saya pensiun di usia 56 tahun. Jabatan terakhirnya manajer, gaji terakhirnya Rp. 15 juta. Saat pensiun dapat pesangon Rp. 385 juta. Saat itu, rasanya jadi “sultan” punya uang gede. Pikirnya, uang pesangon cukup buat 10 tahun. Ternyata nggak, uang pesangon habis dalam 3 tahun. Dia bingung, kok bisa cepat habis uang segitu. Tapi faktanya, uang pesangonnya 3 tahu sudah habis.
Uang pesangon ke mana? Tahun pertama: dipakai untuk renovasi rumah dan beli motor baru. Tahun kedua: ajak keluarga umroh dan tukar tambah mobil. Tahun ketiga: mulai bingung. Bunga deposito nggak nutup biaya hidup. Sedikit dipakai usaha dagang? Tapi gagal. Kawan saya baru tersadar, selama 30 tahun jadi karyawan swasta tidak pernah diajarin mengatur uang buat 10 atau 20 tahun ke depan. Karyawan swasta cuma diajarin kerja yang loyak dan berdedikasi. Maka kawan saya berpesan, “kalau elo karyawan swasta yang mau pensiun, jangan lakukan kesalahan seperti gue ini...”
Setelah uang pesangon habis, kawan saya memang pengangguran dan diam di rumah. Anak dan istri mulai ngomong pelan-pelan, disuruh cari kerja lagi. Badannya terasa remuk karena hari-hari nggak ngapa-ngapain. Akhirnya dia memutuskan: daftar ojol. Jadi driver ojol setelah pensiun.
Awalnya malu. Apalagi saat ketemu teman eks satu kantor di lampu merah. Lagi pas-pasan di jalan. Tapi biarlah, buat apa malu? Ojol kan halal, asal bukan nyolong atau korupsi. Dan sekarang, kawan saya yang sudah pensiun pun hidupnya lebih sehat. Punya teman baru sesama ojol dan yang penting: ada duit masuk tiap hari. Makanya, pensiunan swasta memang nggak usah gengsi. Agar dapur tetap ngebul.
Kata istrinya: ‘Kirain kalau udah pensiun bisa nemenin saya tiap hari?’. Ternyata nggak, kawan saya setelah 3 tahun pensiun sibuk kerja. Jadi ojol, antar orang ke sana ke mari. Ibadah bantuin orang nggak kena macet. Bahkan masih sempat pagi antar cucu ke sekolah. Bedanya sama dulu? Sekarang dia sibuk buat diri sendiri. Nggak ada target dari bos. Nggak ada lembur yang nggak dibayar. Pensiunan swasta, ternyata punya kemewahan: sibuk sesuka hatinya.
Makanya, kawan saya berpesan buat siapapun yang masih bekerja di dunia swasta. Jangan samapi menyesal di masa pensiun. Sebabnya 1) konflik batin akibat gaji stop, pesangon cepat habis, dan nggak ada pensiun bulanan, 2) berjuang: untuk adaptasi waktu, cari kesibukan, dan buang gengsi, dan 3) kemenangan karena punya income baru, jadi lebih tenang dan lebih bebas.
Pesannnya lagi, jangan terllau asyik sama kerjaan. Tapi siapkan juga untuk pensiun, Nggak terasa, cepat atau lambat semua karyawan swasta bakal pensiun. Masalahnya, siap nggak lahir batin? Jangan cuma mengandalkan JHT BPJS Ketenagakerjaan doang, jangan kebanyakan cicilan. Apalagi kalau tabungan pas-pasan. Lebih baik siapkan dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Sebab kalau punya DPLK, pasti menolong banget untuk masa pensiun, apalagi bila dibayarkan secara bulanan. Biar kecil tapia da pemasukan tiap bulan untuk jagain kebutuhan dasar di hari tua.
Usaha dan dagang setelah pensiun? Jangan deh kalau nggak punya ilmunya. Kita puluhan tahun kerja, terus mau dagang, dari mana ilmu dan pengalamannya? Terbukti cuma indah di rencana, begitu dijalanin bangkrut. Belajar investasi saat usia tua juga telat dan susah. Intinya, siapkan aja pensiun. Asal fisik tetap sehat, mental tetap waras, Insya allah rezeki bisa dicari. #YukSiapkanPensiun
