Kisah Raka dan Sari sebagai Pekerja Sandwich Generation

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap pagi, Raka berangkat kerja sebelum matahari benar-benar naik. Di usianya yang baru menginjak 35 tahun, ia bukan hanya memikirkan kebutuhan dirinya sendiri, tetapi juga kehidupan dua generasi sekaligus. Ia harus membiayai sekolah dua anaknya yang masih kecil, sekaligus membantu kebutuhan orang tuanya yang sudah tidak lagi bekerja. Raka adalah potret nyata dari fenomena yang kini semakin banyak terjadi di Indonesia: sandwich generation.
Data menyebut bahwa 8 dari 10 orang Indonesia sekarang tergolong sandwich generation. Artinya, sebagian besar pekerja berada dalam posisi harus menopang kehidupan keluarga di atas dan di bawahnya sekaligus. Bukan hanya kebutuhan rumah tangga sehari-hari, tetapi juga biaya kesehatan orang tua, pendidikan anak, cicilan rumah, hingga kebutuhan darurat yang datang tanpa pemberitahuan. Beban ini membuat banyak orang bekerja keras hanya untuk bertahan, bukan untuk benar-benar merencanakan masa depan.
Hal yang sama dirasakan oleh Sari, seorang pegawai swasta berusia 40 tahun. Ia mengaku gajinya hampir selalu habis sebelum akhir bulan. Bukan karena gaya hidup mewah, tetapi karena harus membantu biaya pengobatan ibunya yang sakit dan biaya kuliah adiknya, sambil tetap memenuhi kebutuhan anak-anaknya sendiri. Ia pernah berkata, “Saya bekerja bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk semua orang yang bergantung pada saya.” Namun diam-diam, ia takut memikirkan masa pensiunnya sendiri.
Data menunjukkan bahwa 7 dari 10 pekerja mengaku menanggung orang tua dan anak sekaligus. Kondisi ini membuat banyak pekerja lupa atau menunda menyiapkan dana pensiun. Mereka merasa pensiun masih jauh, sementara kebutuhan saat ini terasa jauh lebih mendesak. Padahal, tanpa persiapan sejak dini, masa tua justru bisa menjadi beban baru, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi anak-anak mereka kelak.
Raka pernah melihat ayah temannya yang setelah pensiun harus bergantung sepenuhnya pada anak-anaknya karena tidak memiliki tabungan hari tua. Dari situlah ia mulai berpikir bahwa ia tidak ingin mengulang siklus yang sama. Ia ingin ketika usianya menua nanti, ia tetap bisa hidup mandiri tanpa membebani anak-anaknya. Ia sadar bahwa menyiapkan dana pensiun bukan tentang menjadi kaya, tetapi tentang menjaga harga diri dan kemandirian finansial di hari tua.
Mulailah Raka menyisihkan sebagian kecil penghasilannya untuk program dana pensiun, meskipun jumlahnya tidak besar. Ia memahami bahwa konsistensi lebih penting daripada nominal yang besar tetapi tidak berkelanjutan. Baginya, dana pensiun adalah bentuk tanggung jawab, bukan hanya kepada dirinya sendiri, tetapi juga kepada keluarganya di masa depan. Ia ingin memutus rantai ketergantungan antar generasi yang sering kali menjadi beban diam-diam dalam banyak keluarga Indonesia.
Kisah Raka dan Sari adalah cermin dari jutaan pekerja Indonesia hari ini. Menjadi sandwich generation memang bukan pilihan mudah, tetapi justru karena itulah dana pensiun menjadi sangat penting. Bekerja hari ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sekarang, tetapi juga untuk memastikan masa tua tetap bermartabat. Karena pensiun yang sejahtera bukan terjadi begitu saja, ia harus direncanakan sejak masih bekerja.
Sayangnya, saat ini masih banyak pekerja yang belum berani menyisihkan sebagian gajinya untuk mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Entah sampai kapan? #YukSiapkanPensiun
