Konten dari Pengguna

Kisah Seorang Ayah yang Capek Sendirian

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya pernah punya teman satu kantor. Hidupnya kelihatan rapi, tidak banyak gaya. Dia sendiri sudah bekerja lebih dari 10 tahun di kantor itu. Gajinya naik tiap tahun, KPI-nya juga lumayan. Dia yang bilang sendiri saat kerja dulu. Rumahnya sudah lunas. Anaknya sekolah di tempat bagus bagus. Saat pekerja lainnya berkeluh-kesah soal harga sembako dan lainya naik dia cuma senyum. "Santai aja. Rezeki sudah ada yang atur." Katanya.

Kamis Minggu kemarin, tiba-tiba dia telepon dan minta ketemu sambil ngopi. Empat mata, katanya. Saya juga agak bingung, tumben mau ketemu empat mata. Tumbenn banget nih teman. Ada apa gerangan, pikir saya.

Saat ketemuan dan ngopi. Dia bilang, "Bro, gue mau jujur sesuatu yang belum pernah gue ceritain ke siapapun sebelumnya."

"Apaan?" kata saya.

"Sebanranya, rumah gue itu belum lunas. Masih 10 tahun lagi. Dan bulan ini, gue tidak tahu dari mana bayar buat bulan depannya."

Saya pun diam. "Tapi elo bilang dulu kan …."

"Iya, gue tahu apa yang gue bilang. Itu kann yang orang perlu dengar, bukan yang benaran terjadi pada diri gue."

"Jadi selama ini elo pura-pura aja?"

"Iya, pura-pura tiap hari. Di kantor, di rumah dan di mana saja."

"Kenapa begitu?" tanya saya.

"Karena gue kan seorang ayah. Ayah tidak boleh kelihatan tidak punya jawaban. Itu yang gue percaya sejak pertama kali jadi kepala keluarga."

Lalu, dia pegang gelas kopinya. Sambil meneguk sebentar lalu dipegangnya lagi.

"Dan yang paling capek bukan kerjanya, Bro. Tapi pura-puranya itu yang menguras energi. Pikiran dan mental gue capek"

Sejenak, saya mengalihkan pembicaraan masa-masa sekantor dulu. Sambil meneguk, kopi hitam kesukaaan saya. Karena ngobrol masalah serius begini butuh kepala jernih lebih. Karena percakapan seperti begini, tidak bisa dihadapi dengan pikiran yang setengah hadir.

Lanjut lagi ceritanya. "Berapa lama elo sudah seperti ini?" tanya saya.

"Empat tahunan."

"Empat tahun?!"

"Iya. Selain gue punya cicilan rumah, gue juga ada cicilan motor. Tadinya, gue pikir aman. Ternyata tidak. Tapi gue nggak cerita ke istri."

"Kenapa?"

"Takut dia panik. Takut dia kecewa. Takut dia kelihatan gagal."

"Terus sekarang gimana?"

"Sekarang gue yang panik sendirian, tiap malam. Sudah empat tahun."

"Jadi yang bikin elo hancur bukan cicilannya?"

Dia geleng pelan.

"Bukan. Cicilan bisa dihitung. Bisa dinegosiasi. Bisa dicari jalan keluarnya kalau pun nggak kebayar."

"Terus?"

"Yang bikin hancur adalah hue menganggu sendirian perasaan kayak gini selama empat tahun. Tanpa satu orang pun yang tauh. Setiap pagi bangun pasang muka yang sama. Setiap malam tidur dengan beban yang sama."

"Itu beneran menguras pikiran elo. Bukan karena cicilannya. Tapi karena elo merasa menanggung sendirinya?"

“Iya bro ..”

kisah seoarang ayah yang pekerja keras

Lalu, saya tanya satu hal: "Istri elo tahu nggak sekarang?"

Dia mengangguk pelan. "Baru dua minggu lalu gue cerita ke istri"

"Terus reaksinya gimana?"

"Dia nangis. Gue pikir karena marah. Ternyata bukan…."

"Kenapa?"

Istri gue bilang: “Kenapa baru sekarang cerita sekarang? Aku ini istrimu. Bukan penilaimu.'"

Taman saya pun mikir sebentar. "Kalimat dari istri itu yang gue sesali juga. Kenapa dari empat tahun lalu, gue nggak tahu bedanya antara istri dan penilai”.

Mau tahu lanjutannya? Sepertinya sudah cukup. Saya pun masih ngobrol soal itu. Tapi apa hikmah di balik cerita teman saya itu?

Justru, cerita kawan saya itulah yang tidak pernah diajarkan untuk menjadi “Ayah”. Harus menanggung sendiri itu bukan bentuk tanggung jawab. Tapi bentuk “kesepian” yang paling mahal harganya. Karena kita menanggung yang berat sendirian. Kita tidak bayar dengan uang. Tapi dengan kesehatan. Dengan tidur, dengan kehadiran. Dengan tahun-tahun yang tidak bisa diulang lagi.

Sebelum pulang, dia bilang satu hal ke saya: "Bro, satu yang gue pelajari dari kondisi gue ini"

"Apa?"

"Masalah keuangan itu bisa diselesaikan. Sekalipun butuh waktu, butuh rencana tapi tapi bisa diselesaikan. Tapi kerusakan pikiran dan mental yang terjadi pada gue selama tahun itu lebih berat. Menanggung sendiri semuanya itu, capek psikologis dan lebih lama waktu sembuhnya."

Lalu teman saya berdiri hendak pamit duluan. Saya pun berpesan: "Ingat, jangan tunggu empat tahun untuk cerita ke istri kalau besok ada lagi. Daripada nanggung sendiri. Uang memang penting tapi psikologis jauh lebih penting. Sehat itu mahal bro …."

====

Bisa jadi, cerita teman saya ini dialami juga oleh banyak “ayah” di luar sana. Ayah-ayah yang lagi makan siang atau ngopi sambil baca ini. Saya tidak tahu beban apa yang lagi ditanggung sendirian seorang ayah. Berceritalah, masalah itu bukan hukuman, bukan pula vois hidup yang tidak sempurna. Tiap orang punya masalah itu pasti. Tinggal cara menanganinya, mau gimana?

Coba deh untuk cerita satu hal saja. Tidak harus semuanya. Tidak harus dengan detail atau angka yang lengkap. Tapi cukup bilang "Aku lagi berat. Aku butuh kamu tahu." Kalimat itu sudah bikin lebih ringan kok, daripada menanggung sendirian. Dan buat ayah yang masih bekerja, bersyukurlah dan bijaklah mengelola uang. Gunakan sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Jangan pura-pura, lebih baik apa adanya saja.

Termasuk jangan pura-pura punya dana pensiun, padahal belum punya. Memang dana pensiun nggak diperlukan saat kerja. Tapi sangat dibutuhkan saat pensiun atau tidak kerja lagi. #YukSiapkanPensiun