Konten dari Pengguna

Kopi Pensiunan: Tidak Apa Bersikap Sedikit Egois

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kalanya, kita perlu sedikit egois untuk bisa hidup lebih tenang. Bukan egois yang mengabaikan orang lain, melainkan berani memilih diri sendiri setelah sekian lama sibuk memenuhi harapan banyak orang. Kita terlalu sering berkata “iya” demi menjaga perasaan orang lain, sampai lupa bertanya pada diri sendiri, “Sebenarnya, apa yang membuat saya bahagia?” Padahal, hidup bukan perlombaan untuk menyenangkan semua orang. Ada saatnya kita berhenti sejenak, menarik napas, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk menikmati hidup dengan cara yang lebih sederhana.

Hari ini, mungkin kita butuh kalimat "perlu sedikit egois". Ketika pada akhirnya merasa bersalah karena dibesarkan dengan dorongan untuk selalu mendahulukan orang lain. Terlalu gampang menjadi pribadi yang penurut, penuh empati, dan tidak membuat orang lain kecewa. Namun, dalam prosesnya, banyak yang melupakan satu hal penting: kebaikan yang merusak diri sendiri bukanlah sebuah kebajikan, melainkan bentuk pengabaian terhadap diri sendiri. Maka, sifat "tidak enakan" (people pleasing) yang berlebihan akhirnya menjadi sumber ketakutan diri sendiri. Sebab didasari keinginan untuk selalu diakui sebagai orang baik. Kita lupa, niat baik yang dipaksakan tanpa memperhitungkan kapasitas diri hanya akan menyisakan kelelahan emosional, rasa tidak dihargai, dan bahkan kepahitan di dalam dada.

Jadi, kita memang perlu sedikit egois. Hindarilah sifat “tidak enakan”, sebab kita tidak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Mulailah bersikap untuk diri sendiri. agar lebiih tenang, lebih nyaman, dan mampu menikmati hidup. Karena sejatinya, kita bertanggng jawab atas diri sendiri, bukan orang lain.

Untuk bisa tenang dan jadi diri sendiri, salah satunya bisa kita temukan di Kopi Pensiunan. Tempat ngopinya pekerja lelah dan pensiunan di tepi Sungai. Duduk bersila di antara aroma kopi yang menghangatkan, obrolan ringan yang mengalir tanpa beban, dan waktu yang berjalan tanpa perlu terburu-buru, kita belajar bahwa bahagia tidak selalu harus datang dari pencapaian besar. Terkadang, bahagia cukup dengan duduk santai, menikmati secangkir kopi, membiarkan pikiran beristirahat, dan melepaskan sejenak segala tuntutan yang selama ini memenuhi kepala. Di sini, kita tidak perlu berpura-pura kuat, tidak harus selalu terlihat sibuk, dan tidak perlu merasa bersalah hanya karena ingin menikmati waktu untuk diri sendiri.

Berkebun untuk melatih sikap egois

Begitu pula dengan berkebun. Ada ketenangan tersendiri saat tangan menyentuh tanah, menanam bibit, menyiram tanaman, lalu menunggu kehidupan tumbuh dengan waktunya sendiri. Berkebun mengajarkan kita bahwa tidak semua hal harus dipaksakan, tidak semua proses bisa dipercepat, dan tidak semua harapan langsung berbuah hari ini. Seperti tanaman, diri kita juga membutuhkan ruang, perhatian, dan kesabaran untuk bertumbuh. Kita tidak harus selalu produktif, selalu tersedia untuk orang lain, atau selalu menjadi orang yang bisa diandalkan. Sesekali, cukup rawat apa yang ada di hadapan kita, nikmati prosesnya, dan biarkan hati menemukan damainya sendiri.

Maka memilih hidup lebih tenang bukan berarti menyerah pada kehidupan, melainkan mulai memahami apa yang benar-benar penting. Di Kopi Pensiunan, kita belajar menikmati jeda; di kebun, kita belajar menghargai proses. Keduanya mengingatkan kita bahwa hidup tidak harus selalu ramai untuk terasa berarti. Jadi, tidak apa jika sesekali kita memilih diam, menolak dengan sopan, mengurangi beban, dan mendahulukan kebahagiaan diri sendiri. Sebab, kita juga berhak menikmati hidup yang kita jalani. Mari belajar menjadi manusia yang tidak hanya sibuk menumbuhkan kebahagiaan orang lain, tetapi juga tekun merawat ketenangan di dalam diri. Salam kopi pensiunan!