Laki-laki yang Terkena PHK?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tahun 2017 awal, saya pernah terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dari kantor. Setelah bekerja lebih dari 17 tahun, saya kena lay off. Pastinya, panik dong. Kerja belasan tahun, akhirnya berakhir di PHK. Gaji puluhan juta pun berhenti, sekalipun dapat uang pesangon yang besarannya lumayan-lah bisa buat bangun kontrakan 10 pintu. Tapi intinya, saya pernah kena PHK.
Setelah peristiwa PHK itu, saya bilang ke istri dengan suara paling datar. Bahwa saya di-PHK dari kantor. Istri pun diam dan raut wajahnya seperti kebingungan. Akankah uang bulanann berhenti atau berkurang? Saya tegaskan, "Santai saja Bu. Saya akan cari kerja baru lagi." Sambil tersenyum dikit, pikiran saya mulai menyala. Walau di dalam hati, ada bagian yang kayak jatuh dari lantai 10 untuk memberi kabar di PHK.
Malam itu saya nggak bisa tidur. Mulai menghtung-hitung: alokasi biaya bulanan, cicilan, tagihan, urusan dapur. Terus saya berpikir: saya sekarang bukan apa-apa, bukan pula siapa-siapa. Saya mencoba memahami sekilas. Selama 17 tahun, saya nempel banget sama gaji. Gaji saya selalu kasih tahu, bahwa saya berharag. Tapi sejak di PHK, gaji itu hilang.
Besoknya, saya pura-pura normal. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Saya bangun pagi seperri biasa, pakai baju rapi seakan mau ke kantor. Tapi cuma duduk di depan laptop di rumah. Saya nggak ngomong ke siapa-siapa, termasuk ke anak-anak. Pikiran saya bekerja. Istri saya bertanya, " Pak ngelamar kerjaan?". Saya jawab "Iya." Padahal, saya cuma melihat layar kosong sambil bingung, kerja apa?
Seminggu. Dua minggu. Belum ada panggilan. Bahkan 3 bulan belum ada tanda-tanda bakal kerja lagi. Saya mulai marah-marah urusan hal sepele. Gampang panik dan emosi. Anak saya meinta jajan, saya marah. Anak numpahin susu, saya teriak. Anak-anak pun menangis. Karena ayahnya gampang emosi. Saya pun menyesal, lalu merenung sejenak. Bukan susu yang bikin saya teriak. Saya lagi marah ke diri saya sendiri, dan yang kena marah cuma orang orang terdekat!
Memang benar sih, ada riset yang bilang, kehilangan kerja itu bisa menaikkan risiko depresi, dan efeknya lebih kerasa di laki-laki. Karena banyak dari kita yang diajarkan: harga diri itu penghasilan. Saya berpikir sejenak. Saya nggak sedih karena kehilangan kerja. Tapi saya sedih akibat kehilangan alasan buat meras berharga, apalagi untuk orang-orangt terdekat. Benar adanya, meta-analisis Paul dan Moser (2009) menyebut kehilangan pekerjaan atau menganggur itu merusak kesehatan mental, dan makin lama makin dalam. Dan efeknya lebih terasa pada laki-laki.
Suatu malam istri saya duduk di sebelah saya. "Mas, boleh sedih kok." Saya jawab dan bilang bilang, "Saya nggak sedih. Saya lagi nyari kerja." Lalu, dia pegang tangan saya, "Mas boleh sedih sambil nyari kerja kan." Saya mencoba memahami lebih dalam kata-kata itu. Saya menahan tangis selama berminggu-minggu sejak di PHK. Satu kalimat itu yang bikin bobol batin dan mental.
Dia bilang, "Aku nikah sama Mas, bukan sama gajinya. Anak-anak sayang sama Bapaknya, bukan sama jabatan bapaknya." Saya meneteskan air mata, tiba-tiba kayak anak kecil. Menyala pikiran saya. Belasan tahun saya bangun harga diri dari angka di slip gaji. Ternyata di rumah, saya sudah berharga dari dulu tanpa slip gaji sekalipun. Sayangnya, saya saja yang nggak [enrah menyadari.
Saya mulai bangun ulang. Rutinitas harian: bangun pagi, ngopi sambil siapkan plan, istirahat, bantu istri. Pas anak-anak tidur, saya membaca buku dan siapkan bahan untuk mengajar di kampus. Pikiran saya bekerja. Ternyata yang membuat saya waras bukan pekerjaan. Tapi selalu merasa berharga. Vandello (2008) menyebut maskulinitas itu rapuh: laki-laki yang kehilangan peran pencari nafkah, harga dirinya mau nggak mau ikut goyah.
Saya pernah kena PHK. Dan sejak itu, saya bisa bilang ke diri saya sendiri. Saya ini bukan cuma pencari nafkah. Pak bapak, Pak suami. Bapak itu yang mengajarkan anak-anak naik sepeda, menemani belajar anak di malam hari. Bapak yang menemani istri belanja. Bahkan bapak pula yang membeli gas saat habis. Saya pun mencoba memahami sekilas semua perjuangan seorang bapak. Maka siapapun yang dalam posisi kehilangan pekerjaan atau terkena PHK, ingat ini “kerja bapak bisa hilang tapi peran bapak nggak akan pernah hilang”.
Besoknya saya membuat rencana sekalipun tanpa tanggal. Saya bagi hari-hari menjadi lima bagian: jaga kesehatan, tetap berkarya apapun, ibadah, istirahat, dan tetap berbuat baik di mana pun. Mungkin kata orang sederhana, nggak masalah. Saya tetap menulis, ngopi-ngopi, membahas dana pensiun, dan tetap mengajar. Semuanya saya Jalani apa adanya. Memang, terkesan nggak menghasilkan uang. Tapi hidup terasa lebih tenang dan penuh syukur. Hari-hari yang nggak kosong. Setiap pagi saya cuma menulis tiga hal yang harus selesai. Setiap malam saya centang dan semuanya tuntas. Sebuah kebiasaan kecil setiap hari, menuntaskan semua pekerjaan sekecil apapun walau tanpa imbalan.
Saat terkena PHK, tetaplah bikin rencana dan terus ikhtiar untuk dijalankan. Hingga saya berhentikan dari duduk berjam-jam hanya menatap layar sambil merasa nggak berguna. Saya jadi paham, saat terkenapHK dan belum bekerja lagi bukan berarti hari ini nggak melakukan apa-apa. Selau ada kerjaan dan karya yang bisa diperbuat. Terkadang di dunia kerja, yang perlu dibangun bukan hanya karier atau gaji. Tapi alasan untuk selalu bangun besok pagi dengan semangat dan optimism besar. Berpikir positif tanpa keluh-kesah.
Dan akhirnya, setelah 10 tahun saya di PHK, kini saya lebih bisa menikmati hidup. Punya kontrakan 10 pintu untuk menambah biaya hidup bulanan, tetap mengajar di kampus, aktif mengelola taman bacaan, jadi konsultan dan pengajar dana pensiun, jadi dewan pengawas di dana pensiun, hingga kecil-kecilan jadi “tukang durian” (bukan tukang kupas bawang).
Sungguh, memang nggak semua hal dalam hidup selalu membawa bahagia. Terkadang menerima apadanya, selalu merasa cukup saja sudah membuat banyak hal lebih tenang. Jadi, lebih bayak bersyukur. Hidup itu mudah asal dilakoni, tanpa perlu ekspektasi besar. Asal nggak punya hutang, nggak dikejar angsuran, nggak punya gaya hiudp sudah cukup. Makan enak, tidur nyenyak, dan badan tetap sehat. Dan yang penting, nggak usah ngurusin hidup orang lain. Sebab, setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Setelah di PHK, akhirnya berucap, Alhamdulillah ya Allah …
