Konten dari Pengguna

Lebih Baik Tidak Tahu daripada Sok Tahu

Syarif Yunus
Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Edukator Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
9 Januari 2024 6:37 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi membaca buku. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membaca buku. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Tidak tahu itu indah. Karena hakikatnya, manusia lebih banyak tidak tahu daripada tahu. Apa pun di dunia, hanya diketahui sedikit saja. Tapi sayangnya, banyak orang malah bersikap sok tahu. Seolah-olah sudah menguasai segalanya. Bahkan untuk tahu jadi kepo, jadi lebay. Banyak orang lupa, tidak tahu itu indah.
ADVERTISEMENT
Sungguh, siapa pun di zaman begini. Justru jadi banyak tahu akan sedikit hal. Tapi tidak tahu banyak hal akan satu hal. Tahu soal hidup sedikit saja, tahu agama sedikit saja, bahkan tahu soal politik sedikit saja lalu berkoar-koar seperti pakar hidup pakar agama, dan pakar politik. Tapi tentang dirinya sendiri saja tidak tahu banyak hal, apa yang harus dilakukan? Tentang akhlak baik saja tidak tahu banyak, sehingga begitu mudah membenci dna memusuhi orang. Tentang kepedulian sosial saja tidak tahu banyak, sehingga begitu tidak peduli untuk mengulurkan tangan kepada orang lain yang membutuhkan.
Daripada tahu banyak hal tapi sedikit saja, lebih baik tidak tahu. Karena tidak tau itu indah. Tidak tahu mati maka membuat kita berharap. Tidak tahu rezeki maka membuat kita bekerja. Tidak tahu takdir maka membuat kita berjuang. Tidak tahu manfaat maka membuat kita melakukan hal yang bermanfaat. Tidak tahu kebaikan maka membuat kita ikhtiar baik. Dan tidak tahu apa pun tentang orang lain, maka membuat kita diam.
ADVERTISEMENT
Tidak tahu indah. Karena tidak tahu “amal mana yang akan mengundang ridho dan surga-Nya membuat kita tidak meremehkan perbuatan baik sekecil apa pun. Selalu ingin menebar manfaat di mana pun”. Karena tidak tahu bagian mana dari makanan yang dilimpahi berkah membuat kita tidak menyia-nyiakan karunia-Nya, tidak menyisakannya saat disantap. Tidak tahu masa depan anak-anak seperti apa, maka kita menyediakan taman bacaan untuk membaca sehingga bertambah ilmu dan pengetahuannya. Sungguh, tidak tahu itu indah.
Siapa pun yang tidak tahu, maka rasa belas kasih menjadi bertambah. Sikap ingin membantu bertumbuh, Bahkan sikap berbuat baik dan menebar manfaat menjadi bergairah. Untuk ikut bersedekah memperbaiki kehidupan menjadi lebih baik. Tanpa perlu mengejek apalagi merendahkan orang lain. Selalu memperlakukan semua orang dengan sopan, di samping terus ikhtiar memperbaiki diri dan keadaan. Semuanya terjadi karena tidak tahu. Maka Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor tetap bergerak karena banyak tidak tahunya. Karena tidak tahu mengajak anak-anak membaca buku, mengajar kaum buta huruf, mengajar calistung anak-anak kelas prasekolah, menjalankan motor baca keliling dan program literasi lainnya. Karena sekali lagi, kita tidak tahu mana amal yang akan diterima-Nya. Taman bacaan hanya berbuat baik dan menebar manfaat, selebihnya diam dan menuliskannya.
ADVERTISEMENT
Maka jangan pernah untuk menjadi tahu banyak hal tapi tidak tahu banyak sedikit hal. Teruslah belajar dan belajar untuk memperbaiki diri. Jangan pernah berdebat dengan orang yang percaya dengan ketidaktahuannya sendiri. Jangan membenci orang lain tanpa pernah membenci diri sendiri. Jangan pernah berani menyalahkan orang lain tanpa pernah menyalahkan diri sendiri. Daripada banyak tahu lebih baik berbuat yang baik secara nyata.
Kata pepatah, “buruk muka cermin dibelah”. Jangan pernah menyalahkan keadaan yang buruk kepada orang lain, padahal kesalahannya terletak pada diri sendiri. Lebih baik mengakui kesalahan dan kekurangan diri daripada mencari “kambing hitam”. Tidak usah berkata mampu menyeberangi samudera bila belum pernah mau melompati kubangan yang kecil. Jangan pernah menghakimi orang lain dari sudut pandang subjektif kita sendiri. Karena kita tidak tahu apa-apa dan tidak tahu banyak hal melainkan sedikit kita saja.
ADVERTISEMENT
Literat itu lebih baik tidak tahu daripada sok tahu. Maka tetaplah merasa tidak tahu. Agar mau membaca, belajar, dan introspeksi diri. Karena tidak tahu itu indah. Tidak tahu out yang membuat kita selalu berniat terbaik, ikhtiar terbaik, dan berdoa yang terbaik. Sambil tetap sabar dan bersyukur menjalani apa pun. Jadilah literat dalam tidak tahu. Salam literasi #TamanBacaan #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustakan