Manajer vs Office Boy di Sebuah Kantor

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ini kisah yang terjadi di suatu kantor. Saat seorang office boy, sebut saja namanya Pak Darto, lusa kemari dipecat dari kantornya karena kedapatan membawa pulang nasi kotak rapat. Sore itu, manajer-nya mengunggah potongan CCTV ke grup WA kantor. Terlihat Pak Darto keluar membawa dua kantong besar daru ruang rapat.
Pesannya singkatnya di grup: “Yang bersangkutan tertangkap mencuri konsumsi perusahaan, saya pecat!.”
Dan sejak itu, kartu aksesnya diminta. Pak Darto sempat menjelaskan di grup WA itu, kalau makanan itu sudah disuruh buang oleh manajer yang lainnya seusai rapat. “Saya hanya menjalankan tugas sesuai perintah” kata Pak Darto. Tapi di grup sepi, tidak ada yang menjawab.
Kebetulan, seorang staf yang ikut rapat masih menyimpan voice note dari grup panitia. Suara manajer lain yang menyuruh terdengar jelas: “Sisa konsumsi buang saja. Jangan taruh pantry, nanti bau.” Untuk memperkuat bukti, si staf itu meminta rekaman CCTV lengkap. Dan setelah membawa dua kantong makanan, Pak Darto ternyata berhenti di lobi dan membagikan nasi kotak itu kepada petugas kebersihan serta penjaga parkir. Karena tidak habis dibagikan, 2 kotak terakhir dibawa pulang. “Saya pikir sayang kalau nasi kotak masuk tong sampah,” kata Pak Darto.
Si staf pun mengirim voice note dan rekaman lengkap CCTV ke grup WA kantor. Untuk memberi bukti apa yang dilakukan Pak Darto. Akhirnya, sang manajer yang memecatnya memanggil Pak Darto kembali. Sanga manajer bilang terjadi kesalahpahaman dan menawarkan pekerjaannya lagi. Pak Darto menerima. Sebab, dia masih punya dua anak sekolah di rumah. Sang manajer pun menghapus tuduhan awalnya di grup WA kantor. Tapi tidak menulis penjelasan apa pun.
Si staf yang memberi bukti pun meminta koreksi kasus Pak Darto dikirim ke seluruh kantor. Agar semua orang tahu dan nama baik Pak Darto yang office tidak tercemar. Namun dua jam kemudian muncul pesan baru: “Mohon abaikan informasi sebelumnya. Permasalahan sudah diselesaikan secara internal.”
Besok paginya Pak Darto kembali membuat kopi untuk orang-orang yang membaca tuduhan kepadanya di grup WA. Nama Pak Darto masih ada di grup, persis di sebelah kata “mencuri”. Yang hingga kini, masih bisa dibaca banyak orang kantor. Begitulah “nasib” seorang office di kantor atas sikap arogan dan tuduhan tidak berdasar seoarang manajer.
Begtulah dialektika antara manajer vs office boy di sebuah kantor. Cara berpikir dan nalar seoarang manajer yang merasa “selalu benar” tanpa melihat peristiwa secara lengkap. Memang terkadang, jabatan dan kekuasaan mudah berubah jadi arogansi dan mencederai perasaan orang lain. Apalagi selevel office boy di kantor.
Mungki di kantor lain, masih banyak cerita dialiektika lain yang lebih miris. Tetap semangat office boy!
