Konten dari Pengguna

Membangun Peradaban dari Literasi

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari ini, 3 Juni 2026, Bogor berusia 544 tahun. Usia itu bukan bukan sekadar angka kronologis, melainkan simbol perjalanan panjang pendidikan dan peradaban masyarakat. Dari sisi pendidikan, usia 544 tahun menjadi sumber pembelajaran, pembentukan karakter, dan pelestarian nilai-nilai budaya. Sedangkan dari sisi peradaban, usia 544 tahun menunjukkan kematangan, serta kemampuan masyarakat dalam mewariskan pengetahuan dan budaya untuk membangun masa depan yang lebih baik. Karenanya, peringatan hari jadi ke-544 Bogor seharusnya jadi momentum untuk merefleksikan warisan sejarah sekaligus memperkuat komitmen dalam memajukan pendidikan dan peradaban generasi mendatang untuk, dari, dan oleh Bogor sendiri.

Bertajuk “Membangun Peradaban Bogor dari Literasi”, begitulah catatan hari jadi ke-544 Bogor. Semangatnya bukan sekadar mengajak masyarakat Bogor gemar membaca, melainkan membangun budaya berpikir, belajar, dan bertindak berdasarkan pengetahuan. Sebab, peradaban yang maju selalu lahir dari masyarakat yang memiliki tradisi literasi yang kuat. Bogor, sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang pendidikan, pertanian, keindahan alam, dan keberagaman budaya memiliki modal besar untuk menjadi kota dan kabupaten yang bertumpu pada kekuatan literasi. Ketika masyarakat terbiasa membaca, berdiskusi, menulis, dan belajar sepanjang hayat, maka kualitas sumber daya manusia akan meningkat dan menjadi fondasi kemajuan daerah uang signifikan.

Dalam bidang pendidikan, literasi berperan sebagai pintu masuk bagi peningkatan kualitas pembelajaran dan sumber daya manusia. Anak-anak yang terbiasa membaca sejak dini cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan daya analisis yang lebih baik, di samping dapat menekan angka putus sekolah dan penikahan dini. Di Bogor, gerakan literasi dapat dimulai dari keluarga, sekolah, dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) seperti yang dilakukan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor (Contoh: Dari garasi kecil di kaki Gunung Salak, nyala harapan itu dimulai

https://www.instagram.com/p/DMuCvYTPyhC/?igsh=NmlyY3QxOGp6MXN3). Ketika akses buku bacaan tersedia dan lingkungan mendukung kegiatan membaca, maka anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga membangun karakter, empati, dan kemampuan memecahkan masalah. Di situlah, literasi menjadi investasi jangka panjang untuk mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Harus diakui, literasi berkontribusi besar terhadap kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat. Warga yang memiliki kemampuan literasi yang baik akan lebih mudah memahami informasi tentang kesehatan, keuangan, lingkungan, teknologi, bahkan peluang usaha. Seorang petani di Bogor misalnya, dapat meningkatkan hasil panennya dengan membaca informasi tentang teknik pertanian modern. Pelaku UMKM dapat belajar pemasaran digital melalui berbagai sumber bacaan dan pelatihan. Bahkan seorang siswa SD dapat mengenal kebiasaan baik negara-negara lain dari buku-buku bacaan. Dengan kata lain, literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca buku. Tapi menjadi sarana pemberdayaan masyarakat yang berdampak langsung pada kesejahteraan dan peradaban manusianya.

Pegiat literasi dari Bogor

Pembangunan peradaban manusia melalui literasi dapat dilihat dari kegiatan TBM yang aktif menyelenggarakan program membaca rutin, Gerakan berantas buta aksara, belajar calistung, kelas menulis, pelatihan keterampilan, dan pendampingan keluarga. Misalnya, sebuah TBM di desa mengadakan program "Satu Jam Membaca Setiap Hari" bagi anak-anak sepulang sekolah, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan mendongeng dan menulis cerita sederhana. Di sisi lain, para ibu diberikan pelatihan literasi keuangan keluarga, sementara para pemuda mengikuti pelatihan kewirausahaan berbasis digital. Dari kegiatan sederhana tersebut lahir kebiasaan belajar yang kemudian mendorong perubahan perilaku dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Memang membangun peradaban Bogor dari literasi bukan hal yang mudah. Membutuhkan komitmen, implementasi, dan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Kebijakan literasi yang mudah diterapkan pun harus tersedia. Sebab. membangun peradaban Bogor dari literasi berarti membangun masyarakat yang cerdas, berkarakter, produktif, dan berdaya saing. Peradaban tidak dibangun oleh gedung-gedung megah semata, melainkan oleh manusia yang memiliki kemampuan berpikir dan kemauan untuk terus belajar. Ketika gerakan literasi tumbuh di rumah-rumah, sekolah, kampung, dan ruang-ruang publik di seluruh Bogor, maka akan lahir generasi yang tidak hanya mampu membaca buku tetapi juga mampu membaca zaman, memahami perubahan, dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi daerahnya. Inilah hakikat literasi sebagai fondasi kemajuan pendidikan sekaligus peradaban masyarakat Bogor.

Gilbert Ntimba, seorang peneliti dan penulis ekonomi menyebut pentingnya konsep "Tiga Mata Uang Kehidupan" (The 3 Currencies of Life) yaitu pengetahuan, waktu, dan uang. Bila kita tidak memiliki satu dari ketiganya, maka gunakanlah kedua hal yang kita miliki untuk meraihnya. Bila punya waktu dan uang, maka gunakan untuk meraih pengetahuan untuk membangun peradaban masyarakat. Dan hari ini, Bogor membutuhkan peradaban yang lebih baik dari literasi. Selamat hari jadi ke-544 Bogor!