Mengajar Itu Sebuah Kehormatan

Syarif Yunus
Dosen Unindra - Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) - Konsultan - Mhs S3 MP Unpak - Pendiri TBM Lentera Pustaka
Konten dari Pengguna
27 Februari 2024 20:40 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Tahun 2024 ini, saya memasuki masa bakti 30 tahun mengajar di kampus tercinta Unindra PGRI. Tempat saya mengabdikan ilmu sejak tahun 1994, sekalipun saya menimba ilmunya di UNJ, UKI Jakarta, dan Unpak Bogor (walau belum kelar). Alhamdulillah karena mengajar, saya selalu berpikir untuk “menyalakan api” yang menyulut kehausan para pembelajar akan rasa ingin tahu. Entah, sampai kapan mengajar itu akan berhenti?
ADVERTISEMENT
Semester ini, mulai 2 Maret 2024 besok, saya mengajar mata kuliah “Menulis Kreatif”. Yah, seperti biasa pasti buku pegangannya karya saya sendiri. Buku “Kompetensi Menulis Kreatif” terbitan Ghalia Indonesia dan pastinya akan menghasilkan karya berbentuk buku karya bersama. Mungkin tahun ini antologi cerpen, kisah singkat berbau sastra. Dan nanti launching-nya di TBM Lentera Pustaka. Agar mahasiswa pun tahu dan dekat dengan aktivitas taman bacaan.
Dari belajar teori di kelas, berujung pada praktik menulis yang diterbitkan jadi buku. Hanya itu pembelajaran yang selalu saya pegang. Karena teori tanpa praktik itu omong kosong. Sementara praktik tanpa ilmu pun “jalan sesat”. Belajar itu proses, untuk memberi pengalaman untuk bertahan hidup di tengah kompetisi yang kian ketat. Ilmu sama sekali nggak ada apa-apanya bila tidak dipraktikkan. Ilmu juga tidak ada manfaat bila cuma diomongkan tanpa diimplementasikan Prinsip itulah yang saya tuangkan ke TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Kan katanya, sebaik-baik ilmu yang dibagi kepada orang lain.
Saya sedang mengajar duduk di bawah
Ada orang bilang. Mengajar itu melihat ulat menjadi kupu-kupu. Ada juga yang bilang, mengajar itu butuh hati yang besar untuk membantu siapaun yang pikirannya kecil. Yah, boleh-boleh saja. Tapi buat saya, mengajar itu harus dari hati bukan cuma logika. Karena mengajar tanpa hati, isinya cuma keluh-kesah. Mengajar cuma jadi beban, bukan passion.
ADVERTISEMENT
Dan yang penting karena mengajar, saya jadi mau terus belajar. Karena buku-buku pula, saya jadi punya hati. Karena apapun alasannya, mengajar adalah sebuah kehormatan. Salam literasi #BacaBukanMaen #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka