Konten dari Pengguna

Merasa Paling Benar, Sulit Mengakui Kesalahan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang tidak lagi mau mengaku dirinya salah, bisa jadi fenomena umum. Faktanya terkadang yang membuat seseorang sulit berubah bukan karena tidak tahu kebenaran. Tapi karena terlalu sulit menerima bahwa dirinya bisa salah. Belajar mendengarkan, menerima nasihat, dan mengakui kekurangan bukan berarti kalah. Justru di situlah tanda seseorang mulai dewasa. Jangan biarkan ego menutup diri dari hal-hal yang bisa membuat kita menjadi lebih baik.

Dalam banyak hal, sering kali perubahan tidak terhambat oleh kurangnya pengetahuan, melainkan oleh ego yang membuat seseorang enggan mengakui bahwa dirinya pernah keliru. Banyak orang sebenarnya sudah mengetahui apa yang benar dan apa yang perlu diperbaiki. Tapi merasa tidak nyaman ketika harus mengakui kesalahan. Padahal, kemampuan menerima bahwa diri sendiri tidak selalu benar merupakan langkah awal menuju pertumbuhan pribadi. Orang yang terus merasa paling benar biasanya akan sulit belajar karena menutup ruang bagi perspektif baru.

Maka belajar mendengarkan dan menerima nasihat adalah bentuk kecerdasan emosional. Ketika seseorang mampu mendengarkan masukan tanpa langsung membela diri, ia sedang membuka kesempatan untuk melihat kelemahan yang mungkin tidak disadarinya. Sikap ini bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian. Dibutuhkan kerendahan hati untuk berkata, "Mungkin saya perlu memperbaiki cara saya." Dari situlah proses belajar yang sesungguhnya dimulai.

Kedewasaan juga terlihat dari kemampuan mengakui kekurangan. Orang yang dewasa tidak takut terlihat tidak sempurna karena memahami bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan. Sebaliknya, orang yang terlalu mempertahankan citra diri sering kali menghabiskan energi untuk membenarkan kesalahan daripada memperbaikinya. Dengan mengakui kekurangan, seseorang justru memperoleh kesempatan untuk berkembang, memperbaiki hubungan dengan orang lain, dan mengambil keputusan yang lebih bijaksana di masa depan.

jangan pernah merasa paling benar

Contoh konkretnya dapat dilihat di lingkungan kerja sehari-hari. Seorang manajer yang mendapat masukan dari timnya bahwa gaya komunikasinya terlalu keras memiliki dua pilihan. Ia bisa menolak kritik dengan mengatakan bahwa bawahannya terlalu sensitif, atau ia bisa mendengarkan, mengevaluasi diri, lalu memperbaiki cara berkomunikasi. Jika memilih pilihan kedua, suasana kerja menjadi lebih nyaman, hubungan dengan tim membaik, dan produktivitas meningkat. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, seorang yang mau menerima koreksi dari kawannya atas kesalahan yang pernah terjadi akan berkembang lebih cepat dibandingkan orang yang terus mencari alasan untuk membenarkan kesalahannya. Kemampuan menerima koreksi bukanlah kekalahan, melainkan tanda bahwa seseorang sedang bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijaksana.

Karena itu, TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor secara konsisten menanamkan kepada anak-anak usia sekolah untuk berani membaca dan mengakui kekurangan. Terlalu banyak ilmu pengetahuan yang tidak dikuasai manusia, karenanya jangan pernqah merasa tahu segalanya atau bahkan merasa selalu benar. Teruslah membaca bukan untuk pintar dan tahu semuanya. Tapi untuk memperbaiki diri dan berani mengakui saat kita salah. Lagi-lagi, terkadang yang membuat seseorang sulit berubah bukan karena tidak tahu kebenaran. Tapi karena terlalu sulit menerima bahwa dirinya bisa salah. Maka jangan biarkan ego menutup diri dari hal-hal yang bisa membuat kita menjadi lebih baik. Salam literasi!

Kiprah tbm lentera pustaka