Konten dari Pengguna

Min Awwalil Khairi an Tatruka Asy-syarra, Apa Artinya?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebuah prinsip hidup yang sangat menarik dan relevan dengan kondisi kehidupan saat ini, yaitu pepatah Arab yang disampaikan oleh seorang ustadz: “Min awwalil khairi an tatruka asy-syarra.” Artinya, awal dari sebuah kebaikan adalah meninggalkan keburukan atau dosa. Pesan ini mengingatkan kita bahwa memperbaiki diri tidak selalu harus dimulai dengan melakukan banyak hal hebat. Terkadang, langkah pertama justru dimulai dari keberanian menghentikan kebiasaan buruk yang selama ini kita anggap biasa. Sebab, bagaimana mungkin kita berharap tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik jika masih terus memelihara hal-hal yang merusak diri sendiri?

Berani tinggalkan keburukan. Contohnya sangat dekat dengan kita. Kita ingin menjadi pribadi yang jujur, tetapi masih terbiasa memanipulasi laporan pekerjaan. Kita ingin memiliki keluarga yang harmonis, tetapi masih gemar berkata kasar, mudah marah, dan enggan meminta maaf. Doyan ngutang dan tidak dibayar, bahkan merendahkan orang lain. Kita ingin hidup lebih tenang, tetapi setiap hari sibuk membandingkan kehidupan sendiri dengan pencapaian orang lain di media sosial. Bahkan, kita ingin rezeki yang berkah, tetapi masih mengabaikan kejujuran dalam bekerja, mengambil hak orang lain, atau mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar. Bukankah langkah awal untuk menjadi lebih baik adalah berhenti melakukan hal-hal yang buruk?

Begitu pula dalam kehidupan sosial. Kita ingin lingkungan yang damai, tetapi masih senang menyebarkan gosip, menghakimi orang lain, atau meneruskan berita yang belum jelas kebenarannya. Kita berharap dihargai, tetapi sering kali lupa menghargai orang lain. Kita menginginkan perubahan besar di sekitar kita, padahal perubahan itu bisa dimulai dari hal sederhana: berhenti mengeluh berlebihan, berhenti menyalahkan orang lain, berhenti menyebarkan kebencian, dan mulai menjaga lisan serta perilaku. Sebab, kebaikan tidak hanya diukur dari banyaknya hal positif yang kita lakukan, tetapi juga dari keburukan yang berhasil kita hentikan. Berhenti ddari berbuat dosa.

Tafakur alam sambil membaca

Karenanya, memperbaiki diri bukanlah perlombaan untuk terlihat paling baik di hadapan orang lain, melainkan perjalanan untuk menjadi lebih baik di hadapan Allah. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk memulai kebaikan. Mulailah dengan meninggalkan satu keburukan hari ini, lalu lanjutkan dengan keburukan lainnya secara bertahap. Berhenti dari kebiasaan berbohong, tinggalkan rasa iri, kendalikan amarah, jaga lisan, dan perbaiki niat. Ingat, terkadang perubahan terbesar dalam hidup bukan terjadi ketika kita mulai melakukan sesuatu yang luar biasa, melainkan ketika kita berani berhenti melakukan sesuatu yang selama ini salah. Karena sebelum mengisi hidup dengan kebaikan, kita perlu memberi ruang dengan menyingkirkan keburukan.

Untuk menjadi lebih baik, beranilah menyendiri sambil ngopi sekaligus tafakur pada alam. Seperti ngopi di kopi pensiunan di Puncak 2 Sukamakmur.

Ngopi di kopi pensiunan