Mudik Tanpa Kampung, Asyik Lagi Ciamik

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Zaman now, mudik itu gak harus punya kampung.
Karena dalam makna yang lebih luas, mudik adalah sebuah perjalanan. Perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan itu semua, hanya bias dirasakan dan dialami oleh mereka yang melakukan “mudik” alias perjalanan. Intinya, mudik harus asyik, unik lagi ciamik. Karena mudik gak harus punya kampong.
Memang, banyak orang memaknai mudik sebagai aktivitas kembali ke kampung. Artinya, si pemudik sedang merantau dan harus punya kampung. Apakah itu berarti pemudik orang kampung? Seharusnya tidak. Karena sekali lagi, mudik adalah perjalanan psikologis. Pada mudik, ada rasa gembira ada rasa kangen terhadap perjalanan itu sendiri.
Secara etimologis, ternyata kata “mudik” berasal dari Bahasa Jawa Ngoko. Mudik itu singkatan dari “mulih dilik' yang artinya “pulang sebentar”. Karena pulang sebentar, maka di situ ada perjalanan. Pun harus dipahami, bahwa mudik sama sekali tidak ada hubungannya dengan lebaran atau idul fitri. Tapi mungkin, karena tradisi atau sibuknya para pemudik maka mereka memanfaatkan momentum lebaran untuk mudik, untuk melakukan perjalanan pulang sebentar.
Ada juga yang mengaitkan mudik dengan kata 'udik' yang berarti kampung, desa sebagai lawan kata dari “kota”. Orang kota yang pulang ke kampung, ya bolehlah bila mau dipersepsi seperti itu. Sah-sah saja.
Tradisi mudik, sebenarnya sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit. Saat itu, mereka mudik untuk membersihkan makam para leluhurnya. Tujuannya, untuk meminta keselamatan dalam mencari rezeki. Itulah sedikit sejarah tradisi mudik.
Tapi sekali lagi, zaman now, mudik seharusnya dipahami sebagai “perjalanan”. Jadi mudik gak harus punya kampung. Karena faktanya, berapa banyak orang yang merasa tidak punya kampung tapi melakukan perjalanan di momentum lebaran? Atas alasan apapun. Sementara mereka yang punya kampung benar-benar pulang ke kampung halamannya. Sedangkan yang gak punya kampung pun melakukan perjalanan ke tempat wisata, berlibur atau yang lainnya. Intinya toh, mereka melakukan perjalanan. Jadi mudik itu perjalanan. Punya gak punya kampung, boleh mudik.
Mudik tanpa kampung. Asyik, unik lagi ciamik.
Itulah yang saya alami bersama keluarga di momentum lebaran tahun 2018. Saya menyebutnya, perjalanan spiritual. Karena selama 7 hari, untuk kali pertama saya melakukan perjalanan sejauh 1.700 km. Perjalanan dari Jakarta lalu singgah dan bermalam di Gresik – Surabaya – Malang – Madura – Tuban – Demak – Cirebon – Jakarta. Berangkat menempuh waktu 22 jam melalui jalur TransJawa Cipali dan Tol fungsional, pulang melalui jalur utara Pulau Jawa. Kali pertama nyetir jarak jauh, tapi asyik unik lagi ciamik.
Maka mudik adalah perjalanan. Karena setiap kita pasti punya perjalanan.
Perjalanan selama ada di dunia. Bahkan dunia pun bagian dari perjalanan ke akhirat. Setiap hari pun kita melakukan perjalanan dan matahari serta bulan selalu menjadi saksinya. Karena berapa banyak orang hari ini, enggan melakukan perjalanan tapi ingin cepat sampai tujuan? Ingin segera mencapai tahka dan kekuasaan, tapi sama sekali tidak melakukan dan menikmati perjalanannya.
Sungguh, perjalanan tetap lebih baik dari tujuan….
Mudik tanpa kampung. Asyik, unik lagi ciamik.
Asyik, karena perjalanan itu sendiri memberi keindahan dan kesan psikologis yang luar biasa.
Unik, karena perjalanan itu berbeda dari kebanyakan orang, tidak sama karena tidak ada kampung yang dituju.
Ciamik, karena semua rangkaian perjalanan bisa dinikmati dan dirasakan secara spiritual.
Mudik tanpa kampung. Asyik, unik lagi ciamik.
Buat saya dan keluarga yang gak punya kampung. Tetap bisa mudik itu asyik. Bahkan unik karena bisa menikmati perjalanan, kuliner, ziarah makam wali songo, dan silaturahim selama perjalanan. Itulah kesan yang ciamik secara psikologis.
Setidaknya ada 3 hal penting yang saya peroleh dari “mudik tanpa kampung” yang asyik, unik lagi ciamik.
1. Wisata Ziarah Makam Wali Songo.
Perjalanan mudik ini, sungguh istimewa karena memberi kesempatan saya dan keluarga untuk bisa berwisata ziarah ke makam 5 dari 9 wali songo yang ada di tanah Jawa. Mulai dari makam Sunan Gresik di Gresik, Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Bonang di Tuban, Sunan Kalijaga di Demak, dan Sunan Gunung Jati di Cirebon. Sebuah pendakian spiritual yang luar biasa. Karena penuh muatan refleksi dan pembelajaran tentang sejarah dan perjuangan para wali songo dalam menebar ajarannya melalui cara-cara yang baik, santun, dan bijak. Sungguh, bisa menjadi cermin kehidupan manusia zaman now. Sebuah napak tilas perjuangan wali songo sangat memberi hikmah dan pelajaran berharga. Bahkan saya bertekad, suatu saat mendatang, untuk menyelesaikan ziarah makam ke 4 makam wali songo yang belum saya kunjungi, yaitu makam Sunan Giri di Gresik, Sunan Drajat di Lamongan, Sunan Muria di Kudus, dan Sunan Kudus di Kudus. Insya Allah, jika diberi kesehatan dan kesempatan bisa dilakukan di masa datang.
Apa pelajaran wisata ziarah ke makam wali songo?
Tentu ada banyak, dan tentu berbeda-beda. Karena setiap orang, pasti berbeda niat dan motifnya. Tapi khusus saya dan keluarga, ziarah ke makam wali songo, khususnya 5 dari 9 wali songo setidaknya “disadarkan” akan pentingnya mempersiapkan kematian, di samping pentingnya berbuat baik semasa hidup agar bisa dikenang oleh mereka-mereka yang masih hidup. Seperti hadist rasulullah SAW “Khoirunnas anfa'uhum linnas - sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain".
Ziarah ke makam Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim, keturunan ke-22 Nabi Muhammad SAW ini adalah wali pertama yang berdakwah Islam pertama kali di tanah Jawa. Ia adalah sosok yang santun dalam bergaul dan berbahasa pada siapapun. Ia tahu tiap manusia hakikatnya berbeda tapi itu bukan untuk dipertentangkan. Melainkan tunjukkanlah segala sesuatunya dengan memperlihatkan keindahan dan kebaikan, khususnya menyangkut soal agama.
Begitupun Sunan Ampel atau Raden Ahmad Rahmatullah, keturunan ke-19 Nabi Muhammad SAW. Melalui ajaran "moh limo", beliau pesan agar kita selalu menjaga akhlak dan moral dalam keadaan apapun. Zaman boleh maju, dunia boleh digenggam. Tapi akhlak dan moral baik harus menjadi prioritas.
Sosok Sunan Bonang atau Syaikh Maulana Makhdum Ibrahim, keturunan ke-23 Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sang pencipta lagu "tombo ati" yang mencerminkan pentingnya berdakwah dengan menguasai ilmu secara penuh. Jangan berlayar ke lautan bila tak cukup ilmu dan keahlian. Cukup diam bila tak tahu banyak dalam segala hal. Kerjakan saja urusan makrifatullah, urusan kita sebagai hamba kepada sang Khalik.
Ketika ke makam Sunan Kalijaga atau Raden Sahid, satu-satunya anggota wali songo yang bukan keturunan Arab. Sosok yang mengajarkan "jadilah hamba yang selaku siap untuk menghargai diri sendiri dan orang lain, tekun beribadah kepada Allah, berbakti kepada orang tua, agama, bangsa dan negara, terus mencari ilmu dan jadilah hamba yang mau hidup prihatin atau tidak berlebihan dalam hal apapun.” Konon, beliau juga dianggap pencipta tembang suluk Lir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul.
Terakhir, ziarah ke makam Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, keturunan ke-24 Nabi Muhammad SAW menjadi "puncak pendakian spiritual" mudik tanpa kampung ini. Kenapa puncak pendakian spiritual? Karena, ssaya bersama keluarga dibantu teman bisa berada tepat di samping makam Sunan Gunung Jati yang terletak di tempat tertinggi, di pintu ke-9 dari undakan yang ada di area pemakaman Kasepuhan Cirebon. Biasanya, ribuan umat yang berziarah hanya bisa sampai di pintu ke-3 umumnya, atau paling mungkin pintu ke-5. Karena memang tuidak mudah untuk bisa sampai “di samping makam” Sunan Gunung Jati. Pelajarannya dari beliau adalah pentingnya membantu fakir miskin, menjaga shalat harus khusyuk dan tawadhu, selaku bersyukur, banyak bertaubat, dan jadilah orang baik. Patut diketahui, makam Sunan Gunung Jati ini berdampingan dengan makam Fatahillah (panglima pasai yang berperang untuk Batavia) dan makam Nyai Rarasantang atau Syarifah Mudaim (Ibu Sunan Gunung Jati) yang juga anak dari Prabu Siliwangi.
2. Wisata Kuliner dan Hiburan
Perjalanan “mudik tanpa kampung” pun bisa dimanfaatkan untuk menikmati kulineran khas masing-masing daerah yang dikunjungi, termasuk wahana hiburan yang bisa menyegarkan keluarga. Ketika tiba di Gresik, kita bisa menikmati nikmatnya “Nasi Krawu” dan “Bebek Cak Selem” lalu bersantai menikmati sunset di Pantai Dalegan. Lanjut ke Malang, menikmati hiburan di Museum Angkut, Batu Night Spectacular {BNS), wisata petik apel, melihat Kampung Warna-Warni yang eksotik hingga ketan legenda di Alun-Alun Batu plus ngejajal bakso malang yang asli. Sambil jalan pulang ke Surabaya pun bisa mampir di Lawang untuk menikmati “tahu telor” khas Lawang yang ciamik. Kulineran makin asyik, dengan menyambangi Bebek Sinjay di Bangkalan Madura sambil nyebrang Jembatan Suramadu. Hingga lanjut ke Tuban, Demak, dan Cirebon yang khusus menikmati Empang Gentong H. Apud, Nasi Jamblang Ibu Nur, dan Nasi Jamblang Mang Dul sambil silaturahim ke rumah kawan di Bakung Lor dan Gempol.
3. Wisata Sejarah
Setiap perjalanan, siapapun, adalah bagian dari sejarah. Karena sejarah bukan yang diomongkan, tapi yang dialami. Perjalanan “mudik tanpa kampung” jelas-jelas menjadi wisata sejarah. Karena setiap titik yang dikunjungi pasti menambah pengetahuan dan informasi yang berguna. Seperti di setiap makam wali songo pasti ada masjid-nya, itu dapat diketahui sejarahnya. Perjalanan ini pun menjadi referensi visual tentang sejarah secara langsung karena bila di sekolah mungkin kita hanya mempelajari tanpa melihat dengan nyata. Sejarah itu penting, untuk siapapun. Agar kita tahu siapa diri kita, siapa bangsa kita, dan bagaimana cara orang-orang tua kita berjuang dulu hingga jadi seperti sekarang? Maka dengan wisata sejarah, maka kita akan memiliki perspektif yang lebih jelas dan luas, di samping melatih interaksi dengan banyak dan beragam orang di masing-masing tempat. Karena zaman now, sudah terlalu banyak orang yang “membela” ego-nya sendiri, mungkin karena jarang interaksi dengan orang lain dari berbagai golongan. Sekali lagi, wisata ziarah menjadi penting karena akan dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan kebangsaan kita yang belakangan ini agak terganggu akibat pilihan politik.
Mudik Tanpa Kampung memang asyik, unik lagi ciamik.
Karena di dalamnya ada pengalaman spiritual, pengalaman rasa, dan pengalaman sejarah. Ketahuilah, menipta sejarah untuk diri sendiri itu penting. Agar sejarah hidup kita tidak diciptakan oleh orang lain. Memang sejarah, adalah sesuatu yang telah lalu. Tapi sejarah adalah "jalan" untuk menjadi sekarang. Siapa yang lupa sejarah, maka ia pasti lupa diri. Maka pasti lupa kepada orang lain atau bangsanya.
Maka cobalah untuk “mudik tanpa kampung”. Karena ia asyik, unik lagi ciamik.
Agar kita dapat menikmati hidup, menikmati alam bebas sekaligus bersyukur atas anugerah Allah SWT. Tapi jangan mudik bila jadinya penuh keluh-kesah apalagi penuh kemarahan dan kebencian seperti di dunia politik. Mudik, apapaun bentuknya, adalah sarana untuk introspeksi diri dan membuka ruang jiwa untuk bisa saling meminta maaf dan memaafkan.
Tapi ingat, mudik tanpa kampung bukan sebebas-bebasnya dan semau gue.
Bebas itu bukan hanya fisik. Tapi harus juga bebas dari pikiran dan perilaku jelek yang seringkali menjajah orang-orang zaman now.
Mudik tanpa kampung, memang asyik, uni lagi ciamik …. #CatatanPerjalananIdulFitri #MudikTanpaKampung
