Konten dari Pengguna

Naik Jabatan Malah Stres, Pengen Kerja Biasa-biasa Aja

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ini cuma cerita di kantor sebelah. Seorang kawan awal tahun 2026 ini baru dapat promosi jabatan. Jadi manajer di kantornya, gajinya naik dan dapat fasilitas mobil. Hampir semua orang di kantor tepuk tangan buat dia.

Saat ketemuan sambil ngopi dengan dia, saya ucapkan selamat dan doa semoga sukses selalu di kerjaannya. Tapi mimik wajahnya malah kayak orang gelisah. Dia bilang "Gue merasa semua ini cuma kebetulan aja bro. Sebenarny ague belum pantas. Sekarang, malah tiap hari gue takut kalau orang kantor sadar, sebenernya nggak jago-jago amat. Takut dipecat kalau gue ketahuan aslinya” ujar dia.

Agak aneh kawan saya ini. Naik jabatan kok malah merasa kayak “pencuri yang lagi nunggu ditangkap”. Naik pangkat malah stress dan bilangnya mendingan jadi pekerja biasa-biasa saja. Bukannya bersyukur dan bangga, kok malah jadi gelisah.

Mungkin, perasaan seperti kawan saya ini bisa terjadi di banyak orang. Pekerja yang justru khawatir saat dapat promosi. Gelisah saat naik jabatan atau pangkat. Orang-orang yang stress bukan pada saat gagal. Tapi stress gara-gara ptomoosi jabatan atau llagi sukses-suksesnya. Dan ternyata, di kalangan pekerja, itulah yang disebut dengan “imposter syndrome”. Sebuah kondisi psikologis di mana seseorang merasa tidak layak atas pencapaiannya, meragukan kemampuan diri, dan takut dianggap sebagai penipu meskipun ada bukti kompetensi yang jelas.

Ada benarnya di kalangan pekerja. Semakin tinggi pencapaian justru semakin besar suara batin yang bilang "ini cuma keberuntungan" atau "ini cuma hasil akting atas kerjaan”. Naik jabatan dianggap hasil spekulasi. Sehingga pengidapnya sering merasa kesuksesan hanyalah faktor keberuntungan, bukan kerja keras. Dan akhirnya, si pekerja yang imposter syndrome jadi cemas dan burnout. Lelah sendiri dengan jabatan dan kerjaannya.

Saya pun berpikir, kok ada ya pekerja yang tidak yakin dengan pencapaiannya sendiri? Dan ternyata, memang sebagian pekerja menganut “perfeksionis”. Pekerja yang tidak mampu melihat keberhasilan kerjanya sendiri yang begitu banyak. Karena fokusnya pada satu hal kecil yang dirasa kurang. Dari perasaan inilah, si pekerja akan merasa dirinya tidak kompeten.

Kasihan juga ya, pekerja yang mengalami imposter syndrome. Malah tersikssa batin dan pikiran saat naik jabatan atau dipromosikan di kantornya, Tidak bisa menikmati “kemenangan” yang diraihnya sendiri. Merasa kemampuan dan kerjanya biasa saja tapi diapresiasi bos atau kantor. Dia merasa jadi penipu, karena apa yang dikerjakannya bukan kehebatan tapi standar yang bisa dilakukan semua orang.

Tidak sedikit pekerja yang kurang percaya diri. Bahkan menyatakan dirinya tidak kompeten. Bikin simpel saja di kantor, semua apresiasi harusnya diterima karena ada mekanismenya. Berhentilah berpikir perfeksionis. Teruslah ikhtiar untuk membuktikan bahwa apa yang diraih sepada dengan kerja dan tanggung jawab yang dijalankan.

Jangan gampang bilang hoki atau keberuntungan. Sebab tidak ada di dunia ini yang “kebetulan”, semuanya sudah ada jalannya masing-masing. Hoki itu tidak mungkin bisa diulang. Justru karena kita punya kapasitas maka diapresiasi orang lain atau kantor. Jangan terllau merendahkan apa yang sudah dicapai diri sendiri, apalagi yang diraih orang lain. Sikap menghargai itu penting, buat diri sendiri dan orang lain.

Jadi, buat siapapun yang lagi ada di posisi sekarang. Bersyukurlah, karena itu adalah hasil ikhtiar yang panjang. Berhenti merasa bersalah atas kesuksesan diri sendiri. Dan kita memang panras untuk mendapatkannya.

Jangan sampai naik jabatan malah stress, lalu berpikir pengen kerja yang biasa-biasa aja. Pikiran itu salah. Justru dengan naik jabatan dan gaji besar, muali nabung untuk masa pensiun. Bila perlu bilang ke kantor, tolong sediakan dana pensiun untuk semua karyawan. Sebab cepat atau lambat, semua pekerja akan pensiun. #YukSiapkanPensiun