Konten dari Pengguna

Nasib Karyawan: Hasil Kerja Nggak Terbaca Apalagi Pensiun

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di dunia kerja, banyak orang berpikir kerja keras itu cukup. Katanya, kerja yang bagus pasti nanti hasilnya akan kelihatan sendiri. Logikanya bisa diterima dan terdengar masuk akal sih. Tapi dalam realitasnya, dunia kerja tidak selalu begitu. Ada yang namanya politik kantor.

Buktinya, ada karyawan yang kerja keras, mampu jadi problem solver, kerja sama tim-nya keren. Berangkat gelap pulanng gelap. Bisa tuntaskan banyak hal yang mandek di kerjaan. Loyal dan berdedikasi. Tapi waktunya penilaian – KPI justru tidak terbaca sama atasannya. Kata kita sudah kerja bagus tapi kata atasan biasa-biasa saja. Kenaikan gaji stag, boro-boro di promosi.

Masalahnya, bukan di kerja bagus. Bukan pula soal kinerja kita sendiri. Hasil kerjanya jelas ada tapi tidak terbaca oleh atasan atau oleh kantor. Kerja bagus kita tidak terbaca dengan jelas, apa dan di mananya? Kontribusi kita nyampur, bahkan dianggap memang sudah bagian jobdesc kita. Tidak ada yang Istimewa dari kerjaan kita.

Banyak karyawan kerjanya bagus. Tapi tidak terdokmentasi dengan baik. Tidak ada catatan kondisi kerjaan before-after. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan kerjaan dituntaskan tapi tidak ada buktinya. Dan pelan pelan, apa yang kita kerjakan akhirnya dianggap hal biasa saja. Sementara sistem kantor terlihat semuanya berjalan, profit company juga meningkat. Tapi siapa yang kontribusi, tidak terbaca sama sekali.

Realitas itu yang sering bikin karyawan mulai frustrasi kerja. Mulai memandang negatif atasan dan kantornya sendiri. Merasa sudah kasih tenaga, effort pikiran, bahkan waktu dan mental dikorbankan untuk pekerjaan. Tapi ujungnya, karyawan merasa kurag dihargai. Gaji tidak bertambah, posisi tidak berubah. Akhirnya, burnout sama kerjaannya, sama atasannya bahkan sama kantornya sendiri. Sementara di kantor lain, yang dinilai sering bukan cuma siapa yang kerja paling keras. Tapi siapa yang kontribusinya paling terbaca?

Sederhana sih urusan kerjaan. Salah satu kebiasaan kecil yang penting itu “mencatat kontribusi kita atas pekerjaan”. Dari kondisi seperti apa sebelumnya jadi bagaimana sekarang? Semuanya harus didokumentasikan. Proyek apa yang kita pegan, masalah apa dan gimana cara kira membereskan? Proses apa yang diperbaiki dan apa dampaknya? Semua harus tercatat dalam pekerjaan. Bukan untuk pamer tapi supaya rekam jejak pekerjaan kita tidak hilang ditelan rutinitas.

pekerja yang loyal berangkat pagi

Banyak karyawan setiap hari kerja. Beresin ini beresin itu. Tapi semuanya ada di kepalanya, ada di fisiknya. Terjebak pada rutinitas kerjaan. Tidak ada dokumentasinya. Padahal, atasan atau kantor seringnya hanya melihat hasil akhir. Kontribusinya apa? Kita lupa, atasan atau kantor itu tidak akan pernah mau melihat tekanan, proses, dan keputusan kecil yang bikin semua sistem di kantor bisa jalan.

Maka bila kita tidak menyimpan dokumentasi atau rekam jejak kerjaan, sudah pasti narasi soal kontribusi kita gampang dibentuk orang lain. Dan di kantor, orang yang posisinya makin kuat biasanya bukan cuma rajin kerja. Tapi juga paham cara bikin value-nya terbaca dan tahu banget politik kantor. Harus ada bukti, ada rekam jejak, ada dokumentasi, dan ada alasan konkret. Kenapa kontribusi dann keberadaannya sangat bernilai di kantor? Itulah kontribusi yang terbaca.

Selagi jadi karyawan, sama sekali tidak cukup cuma kerja bagus. Tapi harus tahu cara membangun track record yang terukur. Mampu bikin kontribusi yang lebih terbaca, dan bisa meningkatkan value supaya posisi kita tidak gampang tergeser. Terkadang yang bikin karyawan mandek di karier bukan kurang kerja keras tapi hasil kerjanya tidak pernah terbaca sehingga terlihat biasa-biasa saja.

Sama seperti karyawan yang bekerja puluhan tahun tapi tidak mau menyiapkan masa pensiunnya sendiri. Lupa, masa pensiun yang Sejahtera itu harus ada rekam jejaknya ada dokumentasinya, di mana menabung untuk dana pensiun? Agar tetap sehat dan Sejahtera sata tidak bekerja lagi, saat nanti pensiun. #YukSiapkanPensiun