Konten dari Pengguna

Nasihat untuk Para Bos!

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ini cuma catatan untuk para bos alias pimpinan di kantor atau di mana pun. Bahwa seorang pimpinan memang memiliki kewenangan untuk memberi arahan, mengambil keputusan, dan menetapkan target. Namun, jabatan tidak otomatis membuat seseorang menjadi pemimpin yang dihormati. Wibawa justru tumbuh dari sikap, keteladanan, integritas, dan cara memperlakukan orang lain. Bos yang setiap hari hanya memberi perintah mungkin dapat membuat bawahan patuh karena takut, tetapi kepatuhan seperti itu biasanya hanya berlangsung selama pengawasan ada. Sebaliknya, pemimpin yang adil dan menghargai bawahannya mampu membangun rasa hormat yang tetap tumbuh meskipun dirinya tidak berada di ruangan.

Contoh konkretnya terlihat ketika sebuah tim menghadapi pekerjaan yang berat dan tenggat waktu yang ketat. Pimpinan yang membebani mungkin hanya berkata, “Pokoknya harus selesai hari ini!”, tanpa peduli bagaimana tim menyelesaikannya. Pemimpin yang disegani akan turun melihat persoalan, bertanya apa yang menjadi kendala, membantu menentukan prioritas, dan bila perlu ikut bekerja bersama tim. Ketika bawahan melihat pemimpinnya tidak hanya pandai memerintah tetapi juga bersedia menghadapi kesulitan bersama, muncul rasa percaya. Mereka bekerja bukan semata-mata karena takut kepada atasan, tetapi karena merasa memiliki tanggung jawab dan menghargai pemimpinnya. Makanya kalau jadi bos jangan arogan atau subjektif!

Pemimpin juga perlu memahami bahwa cara memperlakukan orang akan menentukan budaya organisasi. Ketika seorang karyawan melakukan kesalahan, misalnya, pimpinan yang mudah mempermalukan akan menciptakan ketakutan dan membuat orang enggan mengambil inisiatif. Sebaliknya, pimpinan yang menegur secara pribadi, menjelaskan kesalahan, dan membantu mencari solusi akan membuat karyawan belajar tanpa kehilangan harga diri. Begitu pula ketika seorang bawahan memberikan kritik atau pendapat berbeda, pemimpin yang dewasa tidak langsung menganggapnya sebagai pembangkangan. Ia mau mendengarkan karena memahami bahwa kepemimpinan bukan tentang selalu menjadi orang yang paling benar, tetapi tentang mampu membuat keputusan terbaik bersama tim.

Nasihat untuk para bos!

Para bos jangan lupa. Bahwa jabatan memang bisa membuat orang patuh di depan kita, tetapi keteladanan membuat mereka tetap menghormati kita ketika kita tidak ada. Pemimpin yang baik bukan yang paling keras suaranya, paling banyak perintahnya, atau paling ditakuti bawahannya, melainkan yang mampu membuat orang lain berkembang, merasa dihargai, dan terdorong memberikan yang terbaik. Karena itu, bagi para bos, jadilah pimpinan yang disegani karena karakter, bukan ditakuti karena kekuasaan. Sebab ketika bawahan bergerak karena kesadaran, kepercayaan, dan keteladanan, sebuah organisasi tidak hanya mencapai target, tetapi juga membangun manusia yang mau tumbuh bersama.

Begitu kira-kira ya bos!