Nikmat karena Tahu Batasnya

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hidup itu nikmat karena ada batasnya. Makanya, kalau suka ikan tidak usah punya empangnya. Kalau suka durian, jangan miliki kebunnya. Kalau suka somay, nggak usah punya tokonya. Itu pesan sederhana yang mengingatkan kita pada satu hal penting tentang hidup. Semua ada batasnya dan batas itu yang membuat nikmat.
Banyak kenikmatan dalam hidup justru lahir dari “adanya batas”. Tanpa ada batas, sesuatu yang dulu terasa istimewa perlahan bisa menjadi biasa saja. Liburan terasa menyenangkan karena kita “tidak liburan setiap hari”. Ada waktu penantian. Ada jeda dengan kerja. Ada momen yang membuat liburann terasa special bila tepat waktunya.
Pertemuan dengan orang yang kita sayangi terasa hangat dan bermakna karena ada “jarak ddan waktu” yang membuat kita kembali saling menghargai. Makanan favorit terasa luar biasa nikmat bukan karena rasanya saja, tapi karena “kita tidak memakannya setiap saat”.
Tahu batasan, ada batasnya. Tanpa adanya batasan, hal yang awalnya sangat kita nikmati perlahan bisa berubah menjadi “sesuatu yang biasa saja”. Dari situ kita belajar satu hal penting: “tidak semua hal yang kita sukai harus kita miliki sepenuhnya”. Karena sering kali yang membuat sesuatu terasa berharga bukan karena kepemilikannya, melainkan “karena “jarak, jeda, dan kesempatan untuk merindukannya”.
Ketika semuanya selalu tersedia, rasa syukur perlahan menghilang. Namun ketika ada batas, kita belajar untuk “menghargai setiap momen”. Belajar mengenal batas, berarti mengajarkan kita untuk menikmati dan bersyukur di segala keadaan.
Jadi, terkadang cara terbaik menikmati sesuatu bukan dengan “memiliki sepeneuhnya”, tetapi dengan “menjaganya tetap Istimewa”. Tahu batasnya, ada batasnya. Karena dalam hidup, “batas sering kali membuat sesuatu tetap bernilai”.
Semua ada batasnya. Jadi, kalau kita suka minyak goreng, bukan berarti semua hutan harus diubah jadi kebun kelapa sawit. Kalau pengen makanan yang bergizi, tidak semua harus di-MBG-kan. Kalau pengen ketupat sayur, nggak usah punya warungnya. Kalau tahu kerja ada batasnya (pensiun), ya siapkan gaji untuk masa pensiun kita sendiri. Bila paham semua ada batasnya, itulah yang membuat kita tetap waras di segala keadaan. Sesederhana itulah hidup. Salam literasi!
