Pekerja Naik Gaji Buat Apa?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang kawan kerja di dana pensiun, salah satu perusahaan manajer investasi gede. Suatu hari, ngopi bareng dan ngobrol santai di kafe. Dia bilang begini, "Orang yang paling tenang soal uang itu yang nggak gampang panik waktu investasi turun atau inflasi naik. Apapun kondisinya, nggak panik”
Saya agak bingung. Lalu bertanya, “Apa maksudnya?"
Dia jawab, "Iya, itu orang-orang yang nggak langsung mengubah standar hidup begitu gaji naik. Biar gajinya naik tetap biasa saja"
Saya pun mikir. Dalam hati, langsung membatin, "Oh, ini mah saya banget. Tapi kok bisa ya?”
Dia lanjut cerita, "Elo lihat ya, orang yang baru naik gaji, hal pertama yang mereka lakukan biasanya apa?"
Saya jawab, "Biasanya beli barang baru? Ganti HP? Atau liburan?"
Dia mengangguk. "Dan itu yang bikin mereka nggak pernah benar-benar tenang soal uang."
Saya pun ingat, dulu saat gaji naik, saya langsung mikir: "Wah, sekarang saya bisa lebih hedon. Sedikit konsumtif". Langsung ganti HP. Beli sepatu baru. Makan di restoran mahal bisa dua Minggu sekali. Dan nggak lama kemudian, tetap saja uang saya nggak cukup.
Kenapa? Karena setiap ada tambahan pemasukan, standar hidup ikut naik. Begitu gaji naik, gaya hidup ikutan naik. Gaji naik 20%, pengeluaran naik 20% juga. Nggak ada yang namanya "nabung" atau "investasi" dengan serius. Gaji naik bukannya buat nabung malah naikin gaya hidup.
Kawan saya bilang lagi, "Coba elo hitung. Berapa banyak kenaikan gaji elo yang benar-benar bikin elo lebih kaya? Bukan cuma lebih gaya". Duhh, saya langsung tersinggung sih.
Saya mikir keras. Selama ini, hampir semua kenaikan gaji saya habis buat hidup dan bergaya.
Ini bukan soal pelit. Tapi soal punya kesadaran: setiap ada "kelebihan," prioritasnya bukan langsung "habiskan." Kan ada opsi lain: investasi, siapin dana pensiun, jadiin dana darurat, atau bahkan sekadar "biarin" di rekening.
Contoh konkret dari temen saya nih:
Si A: Gaji naik Rp 5 juta. Tetap hidup seperti biasa, Rp 3 juta buat investasi, sisanya nabung.
Si B: Gaji naik Rp 5 juta. Langsung cicil mobil, gaya hidup naik drastis.
Dan 5 tahun kemudian, apa yang terjadi?
Si A: Punya aset investasi yang nilainya sudah bikin dia "tenang" secara finansial.
Si B: Masih kerja keras, takut PHK, hidup dari gaji ke gaji.
Kalau begitu faktanya, siapa yang lebih tenang? Jelas si A kan.
Dari obrolan santai dengan kawan. Saya akhirnya sadar. Bahwa kekuatan terbesar bukan di "menambah" (penghasilan/gaji). Tapi gimana "tidak buru-buru mengubah" standar hidup saat gaji naik. Tidak memperbesar gaya hidup saat pendapatan meningkat. Inilah yang perlu dipikirkan banyak pekerja. Mungkin, kita perlu menata ulang pikiran kita sendiri soal uang. Gimana bisa lebih bijak memakai uang, sekalipun itu uang kita sendiri.
Hingga saya menyimpulkan sendiri. Bahwa kerja itu nggak akan terus-menerus. Pasti ada masa pensiun atau berhenti bekerja. Bisa karena usia pensiun atau karena di-PHK. Jadi, kenapa kita nggak berpikir nabung untuk masa pensiun atau saat nanti tidak punya gaji lagi.
Itulah pentingnya pekerja punya dana pensiun seperti DPLK. Siap-siap bila suatu saat tidak bekerja lagi. Biar bisa lebih tenang saat punya atau tidak punya uang. Jadi, gimana Menurut ana saat naik gaji? Langsung bikin jadi "naik kelas" atau lebih mikir panjang untuk hari tua? #YukSiapkanPensiun
