Konten dari Pengguna

Relativitas Pensiun, Mau Ngapain Setelah Tidak Bekerja Lagi?

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sekolah, kita diajari cara berpikir benar. Di kantor, kita disuruh berpikir patuh. Sayangnya, jarang sekali kita diajari cara berpikir liar, berpikir imajinatif. Sementara waktu terus berjalan, sekolah sudah jadi masa lalu. Kerja di kantor pun sebentar lagi pensiun. Lalu, apa gunanaya berpikir benar dan patuh di masa pensiun?

Itulah yang disebut relativitas pensiun. Kata orang-orang yang percaya logika, bila gaji kecil mungkin susah untuk bisa hidup sejahtera di masa pensiun. Kata orang-orang yang percaya data, katanya masa pensiun yang nyaman hanya miliki pegawai formal yang bergaji besar. Semu aitu benar dan patuh tapi tidak liar. Padahal bila mau berpikir liar, untuk bisa hidup nyaman dan sejahtera di hari tua “tidak harus” punya gaji besar. Nabung Rp. 100.000 bila dimulai usia 25 tahuan, saat mulai bekerja, Insya Allah masa pensiun pun bisa nyaman. Sayangnya, tidak banyak pekerja yang mau mulai menabung untuk hari tua di usia muda.

Pensiun itu relative. Biar gaji besar kalau tidak menabung untuk masa pensiun tetap saja tidak Sejahtera di hari tua. Sebaliknya, biar gaji keciul bila disiplin menabung untuk hari tua ya ada potensi untuk punya dana pensiun yang cukup di masa pensiun. Berpikir liar soal pensiun. Banyak ide gila yang ternyata jadi kenyataan karena berpikir liar. Einstein, tokoh sains yang paling rasional, justru menjadikan imajinasi sebagai alat kerja utama. Karena pikiran liarnya, dunia hari ini tahu fisika, teknologi, dan alam semesta yang bisa dipelajari.

Relativitas pensiun, mengajak kita berpikir liar tentang masa pensiun. Siapa bilang pensiunharus 55 tahun? Usia 55 tahun pensiun itu hanya aturan untuk patuh tapi tidak liar. Coba mainkan eksperimen pikiran tentang pensiun. Berhentilah bekerja di usia 46 tahun, apa yang akan terjadi? Einstein menyebutnya “Gedankenexperiment”. Saat itu, dia membayangkan dirinya terbang bersama cahaya. Dari situ, lahir teori relativitas. Coba bayangkan bila kita berhenti kerja di suia 46 tahun, apa yang kita pikirkan? Takut miskin, khawatir tidak punya uang atau tetap survive? Latihan berpikir liar seperti itu bukan soal akurat. Tapi melatih otak untuk berpikir bebas dari kenyataan langsung.

Menurut Scott Thorpe, kita bisa melatih otak kreatif dengan melemparkan pertanyaan aneh yang tidak biasa. Lagi asyik-asyik kerja, kok malah disuruh berhenti kerja? Itulah pertanyaan absurd untuk menggoyang logika. Bukan untuk dijawab, tapi untuk menggoyahkan batasan cara berpikir. Puluhan tahun bekerja, lalu bertanya: apa jadinya saya bila berhenti bekerja? Dengan mengguncang zona nyaman berpikir, imajinasi terpaksa ikut aktif. PIkiran liar terpaksa hadir.

Pensiunan di sungai

Sebagian orang berpikir, masa pensiun itu menyeramkan. Apalagi bila tidak punya uang. Pikiran itu hadir karena logika dan data. Terjebak pada pikiran yang yang rutinitas. Rutinitas itulah yang membunuh kepekaan. Kita Einstein serung berjalan kaki sendirian tanpa tujuan, karena momen itu bisa memberinya ruang hening untuk berpikir liar.

Relativitas pensiun. Biarkan saja pikiran kita mengembara tentang hari tua. Tidak perlu membatasi diri dan pemikiran hanya pada situasi formal. Cukup ber-eksperimen tentang masa pensiun mau seperti apa dan bagaimana? Memulia dengan ide-ide kecil dan spontan di mana saja menjadi penting untuk membangun kesadaran akan pentingnya mempersiapkan pensiun. Relativitas pensiun ibarat menulis dan menggambar bebas tentang hari tua. Biarkan pikiran mengalir bebas untuk membayangkan masa pensiun seperti apa? Setelah tidak punya gaji lagi, setelah tidak ada pekerjaan lagi. Bangun tidur, bukan mandi dan berangkat kerja. Tapi mau ngapain setelah bangun tidur di usia pensiun?

Imajinasi tentang pensiun itu penting. Karena imajinasi adalah kekuatan yang lebih besar daripada pengetahuan, lebih hebat daripada logika. Makanya imajinasi sering merangkul seluruh dunia dan merangsang kemajuan. Jangan takut pensiun, Karena pensiun adalah bagian alami dari proses kehidupan manusia. Ada saat bekerja ada saat pensiun.

Imajinasi, membangun pikiran liar tentang pensiun. Seperti membaca buku kan tidak selalu di perpustakaan atau taman bacaan. Membaca buku pun bisa di sungai, duduk di bebatuan dan sambil membuka halaman demi halaman. Sebuah imajinasi!