Konten dari Pengguna

Reuni Temann Sekelas S3: Dulu Sama-sama Pusing, Sekarang Sama-sama Eling

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanpa sengaja, teman sekelas semasa berjuang kuliah S3 di Manajemen Pendidikan Unpak yang notabene para dosen Unindra bertemu di kampus siang itu. Seusai sholat Zuhur ngobrol ringan sejeak di sudut kampus sambil ngopi. Yang terdengar tentu bukan lagi diskusi ilmiah, melainkan gelak tawa. Sambil mengingat masa-masa kuliah 8 tahun lalu.

"Wah, dulu rambutnya sudah mulai putih aja prof!" celetuk seorang teman yang langsung disambut, "Iya, setelah kelar disertasi dan melepas status mahasiswa S3, yang putih bukan cuma kertas disertasi, rambut juga ikut lulus duluan." Ketiganya tertawa. Pertemuan itu seolah membawa waktu kembali ke masa ketika di ruang kelas S3 untuk kuliah, presentasi, dan perjuangan mengejar tenggat penyelesaian disertasi. Kini, yang dulu sibuk mencari ruang kelas, sekarang sibuk mencari posisi paling nyaman untuk foto bersama.

Obrolan pun beralih ke masa-masa mengerjakan disertasi yang bikin stress. Ada yang mengaku pernah begadang sampai subuh hanya untuk memperbaiki satu paragraf. Ada yang bercanda bahwa hubungan paling romantis selama kuliah bukan dengan pasangan, melainkan dengan laptop dan saat membuattugas paper dengan rumus sitorem Dan kalimat yang paling sering diucapkan saat itu bukan "Apa kabar?", tetapi "Sudah selesai belum tugasnya, kihat dong?" atau "Prof anu (dosen) masuk nggak?" Bahkan, grup WhatsApp kelas lebih sering dipenuhi file PDF materi kuliah daripada ucapan selamat pagi. Anehnya, semua itu sekarang justru menjadi cerita yang membuat gelak tawa. Ternyata, masa-masa kuliah S3 memang penuh memori seperti susu Mbok Darmi.

Kenangan semakin seru ketika membahas ujian akhir dan penyusunan disertasi. Hampir semua sepakat bahwa kata yang paling akrab didengar selama bimbingan adalah, "Silakan direvisi." Ada yang bercanda, revisinya lebih tebal daripada naskah awal. Setiap kali bimbingan dengan promotor, berkata, "Sudah bagus...", semua langsung tersenyum. Namun, senyum itu biasanya hilang setelah kalimat berikutnya, "...tinggal sedikit lagi revisinya." "Sedikit" versi promotor ternyata bisa berarti puluhan halaman. Meski begitu, tidak ada yang benar-benar sendirian karena selalu ada teman yang siap menyemangati, bahkan menemani ngopi sambil sama-sama mengeluh. “Semangat, semangat!” kata teman seperti suporter Timnas Indonesia.

teman sekelas saat S3

Lalu tibalah cerita tentang sidang terbuka. Semua sepakat bahwa hari itu adalah perpaduan antara rasa percaya diri dan deg-degan tingkat tinggi. Ada yang mengaku sudah hafal isi disertasi, tetapi mendadak lupa nama sendiri ketika penguji mulai bertanya. Begitu dinyatakan lulus, rasanya seperti baru memenangkan final kejuaraan dunia. Setelah bertahun-tahun akrab dengan kata "deadline", akhirnya berganti menjadi "Selamat sudah jadi Doktor!" Momen itulah yang membuat semua sadar bahwa perjuangan panjang kuliah S3 ternyata selalu berakhir dengan kebahagiaan yang layak dirayakan.

Kini, gelar doktor sudah terpampang di depan nama. Tapi yang paling berharga bukan sekadar tambahan tiga huruf itu. Yang paling dikenang adalah persahabatan yang lahir dari perjuangan bersama: saling merasakan kuliah, mengerjakan tupas paper, hingga mengingatkan jadwal kuliah sambil diselingi hidangan rumahan saat istirahat kuliah. Saling menyemangati ketika revisi disertasi terasa tidak berujung, hingga tertawa bersama setelah semuanya selesai.

Reuni kecil teman sekelas S3 selalu mengingatkan bahwa mungkin kita sudah lulus dari bangku kuliah. Tapi kita tidak pernah lulus dari persahabatan. Dan kalau suatu hari nanti ada yang bertanya apa kenangan terbaik selama S3, jawabannya sederhana: bukan hanya menjadi doktor, tetapi pernah "sama-sama pusing". Dan kini sama-sama eling untuk selalu memberi manfaat kepada sesama dan mengabdikan ilmu untuk kebaikan. #AlumniS3MP #DoktorManajemenPendidikan #DosenUnindra