Konten dari Pengguna

Rezeki Kok Pikirannya Cuma Uang

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi uang. Foto: Bangun Stock Productions/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi uang. Foto: Bangun Stock Productions/Shutterstock

Kawan saya yang cinta dunia menyebut “hidup nggak punya uang itu sulit”. Apa iya begitu? Lupa ya, rezeki itu bukan hanya uang, bukan hanya harta. Rezeki juga bukan soal tampang. Tapi rezeki itu segala hal yang dipersembahkan untuk kita.

Udara yang jadi sebab manusia masih bisa bernapas pun rezeki. Kesehatan lahir dan batin pun rezeki yang patut disyukuri. Berkah dalam hidup pun rezeki yang luar biasa.

Entah kenapa, mindset kebanyakan orang itu hanya menganggap rezeki itu hanya harta. Hanya uang alias duit. Akhirnya gampang iri dengan harta yang dimiliki orang lain.

Itu membuat jadi susah hati dan pikiran akibat “meratapi” diri sendiri. Kerjanya membanding-bandingkan dengan rezeki orang lain. Hingga lupa untuk memperbaiki diri dan membaguskan ikhtiar. Agar diberi tambahan rezeki dan anugerah dari Allah SWT. Sekali lagi, rezeki itu bukan hanya harta lho.

Masih punya waktu untuk berbuat baik kepada orang lain pun rezeki. Bahkan, nyawa yang hari ini masih dititipkan pada raga kita pun rezeki. Lalu, kenapa banyak orang sering lupa untuk bersyukur? Karena masih saja membandingkan diri dengan orang lain.

Ilustrasi. Foto: Shutter stock

Lalu si kawan pencinta dunia pun berdoa agar rezekinya ditambah, sementara rezeki orang lain dikurangi. Aneh. Berdoa saja sinis dan penuh kebencian.

Lupa ya sahabat yang cinta dunia, bahwa tidak semua hal bisa dibeli dengan uang. Tidak semua pula bisa diukur dari harta. Uang dan harta itu hanya sebagian kecil dari rezeki. Sedangkan rezeki terbesar itu adalah iman dan rasa cukup.

Bersyukur punya iman dan rasa cukup. Jadi tidak perlu banyak mengeluh, ngedumel lalu menyalahkan orang lain. Rasa cukup itu modal baik yang sangat besar. Untuk tidak mengambil hak yang tidak seharusnya. Apalagi menjual apapun yang bukan miliknya, hanya untuk memiliki “uang haram”.

Literasi rezeki namanya. Untuk membangun rasa cukup pada diri sendiri. Untuk bersyukur atas anugerah yang telah diberikan Allah SWT. Tanpa komplain, apalagi berkeluh-kesah.

Apa yang dimiliki hari ini, semuanya sudah pantas untuk kita. Tidak usah memaksa soal rezeki, karena sudah ada yang mengaturnya. Asal niat, ikhtiar dan doanya baik.

Ilustras. Foto: Dok. Shutterstock

Cukup syukuri saja rezeki yang ada. Besar atau kecil rezeki itu relatif. Justru yang penting itu berkahnya. Berkah rezekilah yang akan mendatangkan rezeki-rezeki lainnya semakin deras. Rezeki yang tidak berkah ya sudah “mentok” hanya untuk memenuhi nafsu sesaat. Rezeki yang tidak ada manfaatnya.

Rezeki itu sudah ada yang atur. Nggak usah terlalu maksa. Terima saja apa adanya dan beryukurlah. Rezeki dan apa pun yang tidak ditakdirkan Allah SWT pasti akan “hilang” sekalipun digenggam erat. Sebaliknya, rezeki dan apapun yang Allah SWT takdirkan pasti akan datang sekalipun jaraknya begitu jauh terbentang.

Rezeki itu soal keyakinan, bukan keinginan. Jadi, sudahkah kita bersyukur hari ini atas rezeki yang ada? Salam literasi!