Konten dari Pengguna

Sibuk Kejar yang Jauh, Lupa Syukur yang Dekat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ini hanya obrolan 2 orang kawan. Saat kawan yang satu bercerita tentang obsesi dan mimpinya yang belum terwujud. Hingga kini ia bertekad untuk meraihnya semuanya demi gengsi dan demi pengakuan sosial. Tidak mudah memang tapi begitulah tekad yang ditancapkan dalam dirinya. Penuh obsesi dan obsesi.

Memang benar sih, Dalam kehidupan yang semakin kompetitif, manusia sering kali sibuk mengejar sesuatu yang lebih besar: penghasilan tinggi, jabatan bergengsi, rumah mewah, hingga pengakuan dari orang lain. Tanpa disadari, ambisi tersebut membuat kita lupa mensyukuri hal-hal sederhana yang sebenarnya sudah dimiliki. Padahal, kesehatan yang masih terjaga, keluarga yang menunggu di rumah, pekerjaan yang memberikan penghasilan, dan kesempatan menikmati udara pagi merupakan nikmat yang tidak selalu bisa dibeli dengan uang.

Contoh nyata dapat kita lihat pada orang yang setiap hari bekerja dari pagi hingga malam demi mengejar karier dan penghasilan lebih besar. Ia rela kehilangan waktu makan bersama keluarga, jarang menemani anak belajar, bahkan mengabaikan kesehatannya sendiri. Ketika akhirnya mencapai jabatan yang diimpikan, ia justru menyadari bahwa anak-anaknya telah tumbuh besar tanpa banyak kehadirannya. Keberhasilan yang dikejar ternyata menyimpan harga yang tidak pernah diperhitungkan: hilangnya waktu berharga bersama orang-orang tercinta.

Fenomena serupa juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang merasa hidupnya kurang bahagia karena membandingkan rumah, kendaraan, liburan, atau pencapaian finansialnya dengan milik orang lain. Padahal, di luar sana, ada orang yang berharap bisa menikmati makan malam bersama keluarga, memiliki tubuh yang sehat, atau sekadar bangun pagi tanpa rasa sakit. Apa yang kita anggap biasa, bisa jadi merupakan impian besar bagi orang lain. Kita sering baru menyadari betapa berharganya kesehatan setelah jatuh sakit, betapa pentingnya keluarga setelah kehilangan, dan betapa berharganya waktu setelah kesempatan berlalu.

edukasi kehidupan

Karena itu, tidak ada salahnya berhenti sejenak dari kesibukan mengejar berbagai keinginan. Tetaplah bekerja keras, membangun masa depan, dan memperbaiki kehidupan, tetapi jangan sampai lupa menikmati apa yang sudah ada hari ini. Bersyukur bukan berarti berhenti bermimpi, melainkan menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu menunggu sesuatu yang jauh untuk diraih. Sebab, bisa jadi hal-hal yang selama ini kita cari justru telah hadir begitu dekat. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar masa depan hingga kehilangan kesempatan untuk mensyukuri kebahagiaan yang sudah ada di depan mata.

Cobalah untuk lebih rileks dalam hidup. Ngopi dan bersantai ria sejenak. Sebab rezeki, sejatinya sudah ada yang mengatur. Tinggal kita dekati saja yang atur rezeki, untuk lebih dekat dan lebih dekat lagi. #KopiPensiunan #TBMLenteraPustaka