Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Tentang Karma
2 April 2025 7:04 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Banyak orang takut pada karma. Tidak sedikit pula yang menganggap karma adalah sesuatu yang buruk. Hukum buruk atas perilaku manusia. Tidak sepenuhnya benar. Karma itu semua hal yang keluar dari diri kita, akan kembali kepada kita. Sederhananya, karma berarti suatu konsekuensi yang diterima karena kelakuan atau perbuatan si manusia itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Karma sering disangkut-pautkan dengan sesuatu hal buruk. Ada juga yang percaya, karma merupakan balasan bagi perbuatan seseorang di masa lalu. Namun, tidak semua karma itu berbuah pahit. Apabila seseorang menanam benih kebaikan tentu akan mendapat buah yang manis di masa depan. Jadi, karma bukanlah pembalasan dari alam semesta, melainkan pantulan dari tindakan kita sendiri.
Hukum karma, menegaskan tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Semuanya sudah sesuai dengan pikiran dan perbuatan si manusia. Siapapun yang menyebut kebetulan, itulah kondisi manusia yang tidak mampu memahami kesengajaan Allah SWT. Karma itulah salah satu hal dalam hidup yang ditakdirkan oleh kehidupan untuk manusia sesuai dengan amal perbuatannya.
Jika kita memberikan hal yang baik kepada dunia, maka seiring berjalannya waktu, karma akan menjadi baik dan pasti kita akan menerima yang baik. Sungguh, apa pun yang kita berikan untuk hidup, pasti akan kembali pada kita. Maka jangan membenci siapapun. Karena kebencian yang keluar dari diri kita, suatu saat akan kembali kepaada kita. Bila tidak bisa mencintai orang lain, maka cukup diam tanpa berprasangka buruk.
ADVERTISEMENT
Jagalah hati dan batin di mana pun. Karena dosa hati jauh lebih berbahaya daripada dosa zahir. Kerusakan hati adalah pangkal utama kerusakan zahir. Sebab dari rusaknya lahir itu dari rusaknya batin. Karenanya, dosa hati lebih besar dari dosa zahir.
Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bahwa “Dosa-dosa besar, seperti riya’ (pamer keta’atan), ujub (bangga/takjub terhadap amal), kibr (sombong), fakhr (membanggakan amal), khuyala` (angkuh), putus asa, tidak mengharap rahmat Allah, riang gembira atas penderitaan orang lain, membongkar aib orang lain, senang atas musibah yang menimpa orang lain, berharap orang lain merana, benci yang berketerusan, senang dengan tersebarnya fahisyah (maksiat), menebar fitnah, dan iri – dengki yang semuanya berasal dari hati, dosa-dosa itu statusnya lebih haram dari zina, meminum minuman keras, dan dosa-dosa besar yang zahir selain keduanya”(Madarijus-Salikin, Ibnul Qoyyim rahimahullah).
ADVERTISEMENT
Jadi, jangan takut dengan karma. Karma tidak selalu buruk. Kita tidak perlu khawatir tentang apa yang akan kita terima tapi khawatirlah dengan apa yang kita berikan dan perbuat. Maka jangan buang waktu untuk benci atau balas dendam. Toh, orang-orang yang menyakiti orang lain pada akhirnya akan menghadapi karma mereka sendiri atas perbuatannya. Teruslah berbuat baik dan tebarkan manfaat kepada sesama di mana pun, hingga karma kebaikan pun akan mengikuti kita.
Makanya jangan jahat-jahat jadi orang, karena apapun yang kita perbuat akan Kembali kepada kita. Salam literasi!